Tantangan PMII di Era Digital

sumber: winstarlink.com
Oleh : Zaim Ahya’
Media di era digital memiliki banyak perbedaan. Tak hanya bisa mempengaruhi, media dengan bentuknya sekarang bahkan mampu memanipulasi perilaku masyarakat.
Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor yang berperan perihal penyajian dan penyebaran informasi yang luar biasa. Dengan keajaibannya teknologi, sekarang media tak hanya menyajikan informasi berbentuk tulisan, namun juga berupa gambar, bahkan juga melalui rekaman video.
Lahirnya media sosial juga punya peran atas kecepatan laju informasi menemui pengonsumsiannya. Dulu, sebelum ada media sosial, sesorang yang ingin memperoleh informasi harus membaca koran atau berselancar di internet.
Sekarang berbeda, media, melalui media sosial berlomba-lomba menawarkan informasi, sampai-sampai informasi yang tidak dibutuhkan disulap seakan dibutuhkan. Kata salah satu pakar, media sosial juga membuat orang-orang dari tahu menjadi terlibat (Nugroho: 2013), lantaran setiap orang bisa berkomentar, bersikap setuju atau menolak dan bisa ikut menyebarkan informasi.
Perkembangan teknologi yang membuat media berevolusi sedemikian rupa, dan lahirnya media sosial mendorong terciptanya ruang publik baru, yang disebut ruang publik virtual (Piliang; 2004). Di ruang publik virtual, setiap orang mampu membentuk opini publik. Ruang publik virtual semacam ini menjadi arena baru peperangan antar ideologi dan kepentingan.
Potensi yang dimiliki media (online) dan media sosial seperti adanya ruang publik virtual, dimanfaatkan oleh beberapa kalangan untuk menebarkan ideologi dan memuluskan berbagai kepentingan. Maraknya penyebaran paham radikal di media sosial merupakan salah satu contohnya. Negara pun kesulitan membendung pengaruh-pengaruh yang disebarkan lewat media baru (new media) tersebut.
Dalam menyajikan informasi, media juga mampu membangkitkan emosional pembaca sedemikian rupa, sampai mengalahkan pertimbangan rasionalitas (post truth). Banyak hal yang sebenar tak berlawanan, namun sengaja dibenturkan (opisisi biner).
Potensi-potensi di atas, tampaknya belum sepenunya dimanfaatkan oleh kalangan nahdiyyin termasuk di dalamnya kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kalau kita melihat dalam beberapa pemberitaan, gerakan sadar media yang galakkan oleh kaum nahdiyyin masih hanya sekedar fokus kepada menolak gerakan radikalisme di dunia maya dan menolak informasi hoax – tentang gerakan Nahdlatul Ulama (NU) ini terekam oleh beberapa pemberitaan di nu.or.id.
Gerakan ini pun sepertinya juga masih perlu digalakkan. Karena masih cukup banyaknya informasi-informasi yang membingkai para kiai NU secara negatif. Sebut saja beberapa orang yang belum lama ini mencela para kiai, lalu minta maaf. Ternyata mereka tidak kenal secara pribadi, dan tampaknya bersandar dari informasi internet.
Sebanrnya tantangan di era digital bagi kaum nahdiyyin bukan hanya terbatas pada membasmi menyebarnya informasi dari kaum radikal dan membendung informasi hoax. Kemungkinan media digunakan oleh korporasi atau penguasa untuk mengalihkan isu juga harus menjadi fokus kaum nahdiyyin. Karena sebagaimana kita ketahui, sangat sulit media—dengan tidak mengatakan tidak mungkin—terlepas dari motif-motif tertentu.
Di era digital terjadi hybrid antara berbagai hal (Piliang: 2004). Maka tak relevan jika membicarakan suatu hal tanpa membicarakan hal-hal lain yang telah mencemarinya. Orang tak bisa membicarakan politik tanpa melibatkan ekonomi, begitu juga tidak bisa mendapatkan pandangan yang komprehensif saat membicarakan media tanpa membicarakan korporasi, ideologi, politik dan ekonomi. Hybrid semacam ini kadang membuat kesulitan kaum nahdyyin untuk memetakan kekuatan berbagai ideologi dan korporasi yang bermain.
Ruang publik baru dan potensi-potensi-potensi media era digital sudah saatnya dimanfaatkan warga nahdiyyin untuk mendukung gerakan sosial yang bermuara pada perubahan yang lebih baik. Saatnya warga nahdiyyin menjadi subyek dalam menggunakan media seperti web atau pun media sosial. Oleh karena itu merumuskan metode (manhaj) dalam bermedia (baik web atau medasos) merupakan hal yang sangat penting. Tidak hanya itu, membaca serta merumuskan strategi propaganda melalui media juga harus menjadi perhatian. Warga nahdiyyin harus siap ‘berperang’ di arena baru ini.
*Penulis merupakan seneor PMII angkatan 2011 dan Founder takselesai.com

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pemuka Agama Harus Bermental Kemanusiaan

Ming Agu 25 , 2019
oleh : Hasan Ainul Yaqin “Seseorang sebelum menjadi guru, polisi, tentara, pilot, dokter, dan profesi lainya ia harus menjadi manusiawi terlebih dahulu sehingga ia bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama manusia” Romo YB Mangun Wijaya Dalam Buku Humanisme YBM. Begitupun menjadi pemuka agama, […]