Studi Advokasi dan Pendampingan Masyarakat

berdesa.com
Oleh: Muhammad Bahrul L. [1]
Modernisasi merupakan wujud bagian dari adanya sebuah perubahan sosial yang direncanakan. Perubahan yang terjadi menjadi akibat dari modernisasi. Sehingga banyak sekali pola fikir atau cara pandang manusia yang berubah yang disebabkan oleh proses berkembangnya modernisasi itu sendiri. Setidaknya masyarakat harus siap terhadap perubahan yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi, karena dikehendaki atau tidak setiap masyarakat pasti akan mengalami perubahan, terutama sebagai dampak dari modernisasi yang berkembang tanpa batas.
Mahasiswa sebagai agen of change tentunya sudah mempunyai prinsip untuk melakukan perubahan sosial atas ketidak-adilan, ketidak-sejahteraan yang terjadi di sekitar masyarakat. Mengapa penting untuk melakukan perubahan sosial? Karena sudah merupakan tanggung jawab generasi penerus menjadi seseorang yang dapat mengubah ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat. Jika paradigma kritis dan cerdas dalam menganalisis kehidupan sosial yang terjadi. Dengan semangat berfikir dan melakukan gerakan menjadi salah satu kunci untuk menyelesaikan problem dan mengembangkan masyarakat lebih adil, makamur dan sejahtera.
Pentingnya advokasi dan pendampingan masyarakat

Studi Advokasi dan pendampingan masyarakat menjadi pengetahuan baru untuk bekal mekakukan pendampingan, pengawalan isu-isu yang berkembang di sekitar dalam rangka mengembangkan masyarakat menuju perubahan sosial.
Secara makna arti dari advokasi sendiri adalah pembelaan. Advokasi merupakan suatu rangkaian strategis, terencana dan organisir yang ditunjukkan kepada para penentu kebijakan dalam rengka mendukung suatu isu kebijakan yang spesifik yang dapat memepengaruhi para pengambil keputusan untuk memecahkan suatu masalah atau persoalan.
Pada dasarnya advokasi adalah sebuah usaha untuk mengubah kebijakan program dari sebuah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Dimana melakukan advokasi tentunya mempunyai tujuan yang sangat mulia mengubah isu-isu kebijakan pemerintah yang dilakukan oleh pekerja sosial atau advokat. Advokat merupakan pelaku atau orang yang melakukan pembelaan, orang yang sudah ahli berwenang sebagai pembela perkara.
Teori modernisasi dan pembangunan yang pada dasarnya merupakan sebuah gagasan tentang perubahan sosial dalam perjalanannya telah menjadi sebuah idiologi. Perkembangan ini adalah akibat dari dukungan dana dan politik luar biasa besarnya dari pemerintah dan organisasi maupun perusahaan swasta di Amerika Serikat serta negara-negara liberal lainnya. Semua itu menjadikan modernisasi dan pembangunan sebagai suatu gerakan ilmuwan antar disiplin ilmu-ilmu sosial yang memfokuskan kajian terhadap perubahan sosial. Akibatnya menjadikan teori modernisasi tidak hanya sekedar merupakan “industri yang sedang tumbuh”, tetapi telah menjadi sebuah aliran pemikiran (a school of thought), bahkan telah menjadi sebuah ideologi.
Pengaruh modernisasi di dunia ketiga sangat luas, tidak hanya pada kalangan akademisi di Perguruan Tinggi, tetapi juga kalangan birokrasi yakni para perencana dan pelaksana program pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Bahkan modernisasi juga berpengaruh dalam pemikiran keagamaan di kalangan pemimpin dan pendidikan agama. Modernisasi juga sangat mempengaruhi banyak pemikiran kalangan organisasi non pemerintah.
Modernisasi hampir pada awalnya akan mengakibatkan disorganisasi dalam masyarakat. Apalagi modernisasi mulai menyangkut nilai-nilai masyarakat dan norma-norma masyarakat. Proses yang begitu cepat serta tidak mengenal istirahat hanya dapat menyebabkan disorganisasi yang terus menerus, karena masyarakat tidak pernah sempat untuk mengadakan reorganisasi. Salah satu faktor psikologi-sosial yang penting bagi modernisasi adalah komitmen rakyat atau sekurang-kurangnya keinginan mereka untuk menjadi moderen, karena itulah sebagian besar waktu dan tenaga pemimpin politik dicurahkan untuk menjamin dan memantapkan komitmen atau keinginan rakyat ini.
Pendampingan masyarakat adalah proses membantu orang-orang biasa agar dapat memperbaiki masyarakatnya melalui tindakan-tindakan kolektif. Secara akademis, pendampingan masyarakat dikenal sebagai salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pa da mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial.
Setiap kehidupan bermasyarakat manusia senantiasa mengalami suatu prubahan dan perubahan-perubahan. Kehidupan masyarakat merupakan sebuah fenomena sosial yang wajar dan disadari bersama. Oleh karena itu, setiap manusia mempunyai kepentingan yang tidak terbatas. Perubahan itu dapat terjadi apabila nampak sebuah tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang dulu dan dapat dibandingkan dengan masyarakat yang sekarang.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat maupun terjadi karena faktor-faktor yang datang dari luar. Berdasarkan hal tersebut maka diperoleh tiga kategori perubahan sosial yaitu : 1. Immanent Change; yaitu merupakan suatu bentuk perubahan sosial yang berasal dari dalam sistem itu sendiri dengan sedikit atau tanpa inisiatif dari luar. 2. Selective Contact Change; yaitu outsider secara tidak sadar dan spontan membawa ide-ide baru kepada anggota-anggota dari pada suatu sistem sosial 3. Directed Contact Change; yaitu apabila ide-ide baru, atau caracara baru tersebut dibawa dengan sengaja oleh outsider.20 4. Consequence; yaitu merupakan proses perubahan yang terjadi dalam sistem masyarakat tersebut, sebagai hasil dari adopsi (penerimaan) mauoun rejection (penolakan) terhadap ide-ide baru.
Jika dilihat dari proses perubahan itu sendiri memiliki tahap-tahap tertentu, yang dalam hal ini ada tiga tahap yaitu : 1. Invention; yaitu merupakan proses perubahan dalam masa suatu ide baru diciptakan dan dikembangkan ke dalam masyarakat. 2. Diffusion; yaitu merupakan suatu proses dalam mana ide-ide baru tersebut disampaikan melalui suatu sistem-sistem hubungan sosial
Manajemen pengorganisasian dalam konteks perubahan sosial menjadi garis strategis mendapat perhatian yang lebih. Sebuah kesuksesan keberhasilan untuk mencapai titik perubahan akan sangat ditentukan oleh pelaku pekerjaan sosial dalam melakukan pekerjaan pengorganisasian. Tanpa suatu pengorganisasian yang tepat, kuat, dan sistematis. Maka, agenda pemberdayaan masyarakat akan senantiasa bergantung kepada niat baik kekuasaan jabatan, pasar bebas, atau situasi lain yang tidak pasti. Salah satu faktor pengorganisasian akan terwujud dapat dilihat dari perubahan situasi dan keadaan.
Secara umum ada beberapa pendekatan dalam pendampingan untuk mengembangan masyarakat, diantaranya antaralain: pendekatan potensi lingkungan, yang berkaitan dengan daya dukung masyarakat sekitar. pendekatan kewilayahan, yang berkaitan dengan pengembangan terhadap wilayahnya. pendekatan kondisi fisik, lebih pada kondisi fisik manusianya. pendekatan ekonomi, hal ini berkaitan dengan peningkatan pendapatan masyarakat. pendekatan manajemen, pendekatan ini dilakukan dengan melakukan pendataan terhadap potensi, kekuatan dan kelemahan yang ada dalam masyarakat, pendekatan sistem, pendekatan politik atau kekuasaan, pendekatan ini melibatkan semua unsur dalam masyarakat dan lain lain.
Maka dengan itu, melakukan pendampingan masyarakat tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah, perlu adanya kesadaran bagi seluruh komponen masyarakat bahwa betapa pentingnya menyelenggarakan perubahan sosial, mewujudkan masyarakat yang inovasi, bermutu dalam pendidikan, sehingga mampu melakukan pengambilan-pengambilan kebijakan secara mandiri. Melalui bekal pengetahuan yang luas dalam memahami kehidupan sosial dalam masyarakat, kesadaran atas acara berfikir kritis dapat berkembang untuk melakukan advokasi sosial untuk membentuk tatanan masyarakat yang lebih adil, maju, dan sejahtera.
*tulisan ini sebelumnya pernah diterbitkan di modul PKD PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang 2019
Daftar Pustaka
1. Fakih, Mansour, 2009, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi; Insistpress, Yogyakarta.
2. Sairin, Sjafri, 2002, Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia; Pustaka Pelajar, Yogyakarta.



[1] . Kordinator Lembaga Advokasi PMII Komisariat Walisong (LAKW)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Generasi Milenial; Peluang Baru Strategi Kaderisasi PMII

Ming Apr 7 , 2019
Add caption : pmiigalileo.com Oleh : Lianita Anggraini [1] Semakin bertambah tahun, perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat dan canggih. Perkembangan ini mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup masyakarat Indonesia di berbagai lini kehidupan. Tak terkecuali mahasiswa. Generasi yang dihasilkan oleh perkembangan tersebut pun memiliki nama mereka tersendiri. Setelah sebelumnya […]