STIGMA DI ATAS SINGGASANA

sumber gambar: Internet

Oleh : Afnan Abdul Aziz (Kader PMII Rayon Abdurrahman Wahid)

Masyarakat merupakan ornamen penting dalam jalannya sistem tatanan sosial yang ada. Bagaimana mungkin masyarakat bergerak tanpa adanya suatu dorongan individu dalam suatu pikirannya. Esensi masyarakat mengarahkan kepada satu konteks yakni ketidaktahuan yang meresahkan terkhusus masyarakat lokal.

Kini, seluruh dunia tengah berhadapan dengan covid-19 sebagai “musuh” tak kasat mata ini, maka dari itu bisa disebut dengan pandemi. Dilansir dari liputan6.com, sejak di umumkannya kasus positif pertama Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menekankan sejumlah upaya dan antisipasi pemerintah dalam menghadapi  covid-19.

Covid-19 membuat publik menjadi resah dengan segala keadaan yang sebelumnya ‘baik-baik saja’. Virus yang disinyalir dari Wuhan ini sangat berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Berbagai bidang kehidupan mengalami konstruksi sosial yang tidak efektif akibat Covid-19.

Sejak Indonesia dihadapkan pada covid-19, penanganan terhadap virus tersebut tak berjalan sebagaimana mestinya. Kebijakan pemerintah menuai berbagai kritik, saran, atau masukan dari banyak pihak.

Penanganan pandemi covid-19 ini sebetulnya kembali kepada masyarakat itu sendiri. Masyarakat merupakan garda terdepan melawan covid-19. Artinya virus ini bisa turun kurva lajunya kalau masyarakat disiplin dan taat akan kebijakan pemerintah yang dilakukan. Lantas “Apakah masyarakat sudah disiplin dalam menghadapi pandemi ini?”

Masyarakat Lokal dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Masyarakat lokal memandang pandemi ini sebagai ketakutan pribadi dikarenakan tingkat tinggi bahaya virus ini adalah kematian. Oleh karena itu muncul berbagai stigma yang menjatuhkan kepada para tenaga medis, orang yang terjangkit covid-19 dan keluarganya, bahkan masyarakat yang datang dari luar, meskipun ia telah melakukan protokol kesehatan yang ditetapkan.

Masyarakat lokal ketika menghadapi pandemi ini mengalami banyak ketidaktahuan di belakangnya. Ketidaktahuan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya, akses informasi masyarakat yang minim, kurangnya perhatian, edukasi, dan sosialisasi dari pemerintah, ketidakpedulian masyarakat secara pribadi, kesadaran masyarakat yang kurang, dan sebagainya. Sebenarnya ada hal yang lebih berbahaya selain daripada virusnya sendiri yaitu stigma. Stigma yang terjadi di masyarakat belakangan ini membuat resah. Seperti kasus penolakan jenazah covid-19 diberbagai daerah. Mereka beranggapan bahwasanya jenazah covid-19 ketika dikuburkan masih akan menularkan virus. Hal tersebut membuat hati kita tersadar karena mendapati peristiwa ironis semacam itu.

Stigma yang menjadi-jadi, ganas, dan liar adalah kata yang tepat untuk mendeskripisikannya. Memang baik waspada akan covid-19 ini, tetapi janganlah berlebihan untuk menghadapinya. Bayangkan keluarga yang ditinggalkannya, ibarat kata mereka sudah jatuh, tertimpa tangga pula karena stigma dan diskrimiinasi yang dibikin oleh masyarakat sekitarnya.

Pandangan masyarakat lokal dalam menghadapi pandemi ini sungguh bermacam-macam, dan mayoritas nirempari dan jauh dari rasa kemanusiaan. Akhirnya mereka menggunakan cara-cara tersebut tanpa berpikir panjang sehingga mengakibatkan keresahan. Kedepannya masyarakat lokal harus diberi edukasi yang cukup mumpuni sehingga tidak memunculkan stigma-stigma yang menjatuhkan sehingga kasus macam penolakan jenazah tak seharusnya terjadi lagi.

Keadaan seperti ini membuat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati. Stigmatisasi liar mengakibatkan rasa kemanusiaan seseorang menjadi hilang. Pada saat pandemi seperti ini seharusnya digunakan untuk saling membantu satu sama lain, bukan malah menyebarkan hoaks, menjatuhkan dan membuat masyarakat yang lain semakin resah dengan stigma. Oleh karenanya, jika memang tidak mempunyai kepentingan mendesak yang mengharuskan kita benar-benar harus ke luar, maka alangkah baiknya tetap #DiRumahAja sembari melakukan kegiatan-kegiatan positif.

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Panen Padi di Tengah Pandemi

Rab Apr 29 , 2020
Oleh : Azka Wildani (Kader PMII Rayon Dakwah) Sejak adanya pernyataan resmi dari World Health Organization (WHO) bahwa Corona Virus Desease (Covid-19) atau virus corona sebagai pandemi global dan pengumuman resmi yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto pada Senin tanggal 2 Maret 2020 bahwa […]