Si Bekisar Merah Dan Belantik Kekuasaan

Judul : Bekisar Merah
Penulis : Ahmad Tohari
Tahun Terbit : 2019
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 360 halaman
ISBN : 9789792266320
Resentator : Inunk Ainul Yaqin
Ketika membaca karya Ahmad Tohari fikiran dan jiwa kita terhanyut dibawa ke desa, menyaksikan keindahan alam sekitar, menelusuri lingkungan yang dingin nan sejuk, dan mengamati masyarakatnya saling bergotong royong saling satu sama lain. Inilah ciri khas karya Ahmad Tohari. Ia begitu lihai dan cermat menggambarkan suasana desa dalam setiap karya sastranya. Seperti novel Ronggeng Dukuh Paruk, Kubah, Orang-orang Proyek, Di Bawah Kaki Bukit Cibalak Dan Bekisar Merah seperti dalam ulasan resensi ini.
Menggambarkan suasana pedesaan merupakan bentuk keberpihakan Ahmad Tohari terhadap desa dan kepada rakyat kecil. Desa baginya daerah yang menyimpan banyak kekayaan, produk yang dihasilkan dan dikonsumsi banyak orang merupakan hasil jerih payah masyarakat desa, tapi mengapa penduduk desa masih dirundung kemiskinan, hidupnya susah, tempat tinggalnya kumuh, dan pola pikir masyarakatnya terbelakang? Inilah yang hendak diangkat oleh Tohari, ia ingin menunjukkan isu pinggiran dan pedesaan ke muka publik bahwa desa dilanda banyak masalah yang perlu dibereskan.
Novel Bekisar Merah ini menceritakan seorang gadis desa bernama Lasi nama lengkapnya Lasiyah. Tetapi teman semasa kecilnya selalu mengolok-ngoloknya dengan sebutan nama Lasipang. Karena wajah Lasi mirip wanita Jepang. Ia merupakan keturunan Jepang yang pada masa penjajahan tentara Jepang menanam benih di rahim perempuan pribumi melalui cara pemerkosaan.
Itulah sebabnya wanita cantik dan anggun itu diolok, dicaci oleh temanya karena merupakan keturunan Jepang. Meskipun diolok masih banyak lelaki yang menaruh hati pada Lasi tersebut. Tapi keberuntungan berada pada tangan Darsa, lelaki penyadap nira di desanya di Karangsoga. Lelaki yang tidak lain adalah keponakan dari ayah tiri si Lasi. Keduanya dijodohkan dan diikat dalam tali perkawinan.
Semenjak satu rumah sama Darsa, Lasi memerankan sebagai istri yang menerima kondisi ekonomi suaminya. Hidup Lasi dan Darsa seringkali dilanda kesusahan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun sering mengalami kekurangan. Tapi kedua pasangan itu tidak pernah putus asa dan mengeluh. Keduanya berjuang bagaimana sekiranya rumah tangganya utuh dan dapat hidup bahagia. Meski secara materi belum merasakan kebahagiaan tapi batin keduanya luruh penuh kegembiraan.
Ketulusan Dibalas Penghianatan
 
Saat menyadap nira di kebun, Darsa terjatuh hingga tubuhnya luka dan dirawat dalam jarang waktu yang lama sekitar setengah tahunan. Lelaki itu tergeletak selama sakit. Tapi Lasi istrinya tidak pernah mengeluh merawatnya mulai dari menyiapkan makan, menemani sakit, mencari tukang pijat dan mencuci pakaian suami yang setiap hari basah karena air kencing selalu menetes di kelaminya. Tapi sayang kebaikan istrinya itu dibalas penghianatan oleh suaminya bernama Darsa. Saat sembuh dari sakitnya Ia menikahi perempuan yang tak lain adalah anak dari dukun pijatnya itu.
Akibatnya Lasi minggat ke Jakarta meninggalkan karangsoga tempat lahirnya untuk menghilangkan rasa sakit hati yang dideritanya. Dalam Novel ini Tohari menggambarkan sosok Lasi sangat penuh derita semenjak kecil. Sejak kecil Lasi diolok – olok oleh masyarakat desanya sebab Lasi benih hasil orang Jepang, saat menikah pun Lasi ditinggal oleh suaminya lantaran menikah dengan orang lain, padahal Lasi menerima segala kekurangan suaminya dan berjuang untuk kesembuhan suaminya ketika sakit, dan semenjak di Jakarta pun Lasi diperdagangkan oleh mucikari. Di sana ia seperti boneka yang dipermainkan sekehendak pemiliknya.
Setiba di Jakarta Lasi kehilangan arah, tidak tahu kemana ia harus melangkah, dimana ia harus berteduh, sebab di kota besar itu Lasi tidak mempunyai sanak famili, saudara ataupun teman. Bayangan terhadap masa lalunya membuatnya pantang menyerah dan enggan kembali ke Karangsoga desanya. Lalu kemudian ia terjebak di warung pinggir jalan milik bu Koneng.
Tempat itu bukan sekedar warung makan tapi juga dijadikan tempat jual beli tubuh alias prostitusi. Lasi merasa heran karena di desanya ia tidak pernah menemukan transaksi yang saat ini berada di hadapanya. Tapi Lasi tidak bekerja demikian, ia hanya menjadi seorang pembantu bu Koneng di warung makanya. Tapi bu Koneng tidak ambil diam, melihat kecantikan Lasi yang masih mulus bu Koneng bermain belakang, ia menghubungkan Lasi dengan mucikari kelas Kakap bernama bu Lenting.
Dengan Kekuasaan Segalanya Mudah
 
Dari bu Lenting inilah Lasi dipertemukan dengan Handarbeni seorang direktur perusahaan asing yang dinasionalisasikan. Lasi dirayu bu Lenting agar mau dijadikan istri lelaki tua yang sudah berbau tanah bernama Handarbeni tersebut. Tentu bu Lenting mendapatkan upah besar apabila berhasil merayu Lasi menjadi istri Handarbeni. Dengan uang dan kekuasaan di negara ini segalanya menjadi mudah. Seperti mengurus perceraian Lasi dan suaminya yang dulu bernama Darsa butuh waktu sesaat dan kemudian jadilah surat cerai.
Tapi sayang pernikahan antara Lasi dan Handarbeni sebatas perkawinan fisik. Jiwa, dan fikiranya tidak bisa menyatu. Meski Handarbeni lelaki kaya raya, tapi sayang letak kebahagiaan bukan pada soal materi, hidup megah dan serba mewah tidak menjamin hidup menjadi tentram. Buktinya keduanya tidak merasakan nikmat dan bahagianya berhubungan. Setelah lama menjalin pernikahan bersama Handarbeni, Lasi yang cantik dan manis itu ditaksir Bambung. Lelaki tua Bangka yang tidak lain merupakan kawan suaminya.
Bambung merupakan pelobi kelas besar. Dalam setiap mengambil kebijakan di negara, si belantik kekuasaan bernama Bambung ini mempunyai peran sentral untuk urusan lobi-melobi dengan pemodal asing. Sehingga Salah satu masuknya pemodal asing ke Indonesia dan berhasil meraup keuntungan dengan cara eksploitasi alam besar-besaran di bumi ini tidak lepas dari peran licik si Bambung. Bambung tidak peduli negaranya bobrok, rakyat jelata miskin, dan orang lain susah. bagi Bambung yang terpentinya bagaimana kekayaan terus mengalir pada dirinya, dan bagaimana keuntungan berada di pihaknya.
Bambung memberikan segalanya terhadap Lasi mulai pakaian berharga mahal, perhiasan mewah, rumah megah, tujuanya supaya Lasi mau diperistri dan dirasakan kenikamatan tubuhnya oleh si belantik kekuasaan itu. tapi Lasi ingat dan sadar petuah di desanya Karangsoga bahwa “tidak ada pemberian tanpa mengharap imbalan”.
Lasi menolak diajak berhubungan badan oleh Bambung. Tidak terima Bambung pun mengabari si mucikari Bu Lenting. Bu Lenting berusaha membujuk Lasi, bukan hanya membujuk ia juga mengancam agar Lasi mau. Kalau Lasi mau uang pun datang pada bu Lenting. Bagi bu Lenting hidup adalah uang. Kebahagiaan sumbernya di uang. Apapun caranya, bagaimana kondisi yang terpenting adalah uang. Tapi Lasi tetap bersikukuh menolak tawaran Bu Lenting agar mau berhubungan badan dengan Bambung.
Bersama Kanjat
 
Karena di perut Lasi sudah ada anak dari hasil pernikahan sirri bersama Kanjat. Lelaki yang sebelum ketemu Bambung bahkan sebelum bersama Handarbeni pun ia adalah sosok yang memang dinanti-nantikan menjadi pelengkap jiwanya, mengisi kekosongan hatinya, dan membenahi tulang rusuk lasi yang rapuh.
Kanjat adalah teman masa kecilnya di Karangsoga. Seorang sarjana insinyur yang kini menjadi dosen di sebuah Universitas di Purwekerto. Selain menjadi seorang pendidik di kampus, ia berusaha untuk memakmurkan masyarakat di desanya yang rata-rata menjadi seorang penyadap nira. Penghasilan seorang penyadap tidaklah seberapa.
Bambung yang telah menyelewengkan uang negara dan terbukti melakukan korupsi pada akhirnya dijebloskan ke penjara. Segala kekayaanya disita, semua kepemilikanya hambar. Lalu kemudian Lasi pulang bersama Kanjat ke kampung halamanya untuk membentuk bahtera rumah tangga sambil menunggu kehadiran anak pertamanya.
Dalam novel Bekisar Merah ini Ahmad Tohari menyajikan kisah sangat menarik dan berharga direnungi. Tentu penyajian yang begitu padat dan mencerahkan dalam kisah ini tidak lepas dari latar belakang masalah yang dihadapi bangsa ini. mulai dari urusan politik, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi. Semua terangkum dalam cerita novel ini. Suasana desa yang dipilihnya sebagai latar tempat selain karena Tohari berasal dari desa, ia juga berusaha mencuatkan ke permukaan bahwa desa yang masih dilanda kebodohan dan kemiskinan agar tidak diabaikan.
Di dalam novel ini pula, disuguhi ajaran Jawa yang dijadikan pedoman oleh masyarakat Jawa dan petuah kegaamaan yang disampaikan oleh eyang Mus, seorang pemuka agama yang dituakan di desa Karangsoga setempat. Menjadi orang dituakan di Karangsoga, segala hal yang berkaitan mengenai kondisi masyarakatnya diadukan ke sana untuk dimintai pendapat atas masalah yang dialami masyarakat kampung.
Novel ini sangat mencerahkan direnungkan dan diambil hikmahnya. Melalui novel ini pembaca disadarkan bahwa ada masalah terselubung yang hinggap di bumi pertiwi ini. Semua itu bermuatan politik kekuasaan yang kerapkali menjadi korbanya adalah golongan rakyat jelata seperti penduduk masyarakat Karangsoga.
Adapun kekurangan dalam novel ini ada cerita yang menurut peresensi kurang runtut pada halaman 204. Tohari seakan tergesa-gesa menceritakan di satu halaman itu. selain itu terdapat beberapa selipan Bahasa Jawa yang sulit difahami khususnya bagi mereka yang notabenenya bukan dari Jawa. Alangkah lebih baik jika dalam novel ini Bahasa Jawa bisa diterjemahkan ke Bahasa Indonesia mengingat novel ini penting dibaca oleh bangsa Indonesia, yang terdiri bukan dari jawa saja. selamat membaca.!
*Pengurus LPW PMII Komisariat UIN Walisongo periode 2018-2019 dan penikmat karya sastra salah satunya

karya Ahmad Tohari.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PA(T/Y)AH

Rab Feb 27 , 2019
Kita adalah masing – masing dari payah Terlahir dari situasi – situasi susah Yang di paksa untuk menyenangi masalah Bukankah itu mewah, bagi manusia resah Pikirmu perlambang kebesaran Tanganmu perlambang kekuatan Langkah kakimu perlambang pergerakan   Jangan diam Aku merindui mu kala bersalam Bersua riuh atas nama kemanusiaan Kau bukan […]