SERBA SUSAH KARENA ULAH

sumber gambar : internet

Oleh : Lutfi Abdul Hadi (Kader PMII Rayon Dakwah)

Pandemi  covid-19 muncul secara perlahan tetapi signifikan. Banyak yang menganggap sebelah mata wabah ini ketika sedang melanda negeri “ Tirai Bambu “ tersebut. Akan tetapi, lambat laun wabah ini pun bersafari dengan cepatnya hadir di beberapa negara di belahan bumi lain. Mungkin beberapa Negara ada yang telah matang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pandemi ini, dan tak juga pula ada Negara yang dengan tenangnya menganggap wabah ini hanya permasalahan  sepele yang akan kelar dengan sendirinya.

Kejadian virus yang merebak ke berbagai Negara ini, pada mulanya muncul di Republik Rakyat China (RRC) lebih tepatnya di kota Wuhan. Kasus ini diduga muncul ketika pneumonia atau radang paru-paru yang menimpa warga tersebut pada tahun 2019 silam. Dan kasus tersebut erat dikaitkan dengan perdagangan hewan-hewan yang tidak biasa dikonsumsi oleh manusia pada Pasar Huanan. Memang jual beli hewan seperti ular, kelelawar, dan berbagai jenis tikus sudah tidak asing dalam Pasar Huanan tersebut. Dan diduga penyakit covid-19 ini akibat manusia mengonsumsi kelelawar atau mungkin hewan lain hingga terjadinya penularan ini (detik news, 18/4/2020).

Mengenai pandemik covid-19 ini, sebelumnya hal yang hampir sama seperti SARS dan MERS juga pernah singgah ke tubuh manusia. Dibilang sekilas mirip memang iya. Karena penyebab dan ciri-cirinya pun sekilas sama. Dan penyakit- penyakit tersebut pun bisa dibilang sama-sama merepotkan. SARS penyakit yang pertama kali teridentifikasi pada November 2002 di provinsi Guandong, China Selatan. Penyakit (SARS) yang diduga muncul karena kotoran kelelawar yang kemudian terkena kontak dengan manusia. Dan penularannya pun melalui cairan ketika bersin atau ketika batuk dan umumnya menyerang pernapasan. Virus ini pun dapat meng-kontaminasi benda/permukaan sehingga orang yang menyentuh kemungkinan besar bisa terkena virus ini (CNN Indonesia, 13/4/2020).

Virus MERS pun tak kalah dengan SARS, pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Virus ini pun ditularkan dari kelelawar melalui unta. Pada virus ini pun sama menyerang sistem pernapasan dan sangat mudah untuk menular jika dalam kondisi berdekatan maupun kerumunan.

Dari ketiga virus seperti: covid-19, SARS, dan MERS pun memiliki ciri yang hampir sama. Berawal melalui penyebaran yang sama, mikroorganisme parasit ini memerlukan inang atau tempat untuk melangsungkan hidup. Uniknya lagi patogen tipe ini pun sama-sama menyerang sistem pernapasan. Serta disamping itu gejalanya pun bisa dibilang sama, seperti meningkatnya suhu badan, gangguan pernapasan dan lain sebagainya. Virus ini pun bisa dibilang memiliki angka presentase rendah akan tetapi, Virus ini memiliki angka penyebaran yang paling cepat dari dua pendahulunya. Dan buruknya lagi  covid-19 ini sekarang memiliki angka presentase tertinggi dari dua virus sebelumnya.

Menarik sekali mengenai pandangan dari beberapa masyarakat, wabil khusus kerabat-kerabat dekat saya. Saya telah melakukan miniriser dengan membikin kuesioner, meskipun hanya beberapa yang merespon tentang kuesioner tersebut dan masih banyak yang lebih untuk mengabaikannya. Awalnya memang tak semulus dengan apa yang saya harapkan, akan tetapi respon-respon tersebut memiliki beberapa keunikan dan seolah rasa sesal saya pun berubah menjadi bahan bakar. Dan dari beberapa respon tersebut ada yang mengerucut mulai dari masalah kesehatan, pendidikan, negara dan lain-lain. Tidak jauh dari itu tingkat kecemasan mereka pun bisa dikatakan agak khawatir dan ada yang sangat khawatir.

Tetapi bisa dikatakan mereka cukup khawatir mengenai pandemi ini, karena kehidupan-kehidupan kita sebagai “makhluk sosial“ seakan terganggu sejak pandemi ini rerjadi. Dan faktor tersebutlah memicu rasa
keingintahuan teman-teman tentang faktor yang menyebabkan mereka tidak dapat melakukan aktivitas yang seperti biasa ketika pra pandemi ini.

Entah kehidupan masyarakat yang awalnya bersosial dengan lingkungan, malah sekarang drastis seakan-akan mereka terkurung guna keselamatan pribadi masing-masing. Dan memang yang awalnya manusia kebanyakan bersosial akan tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang ekstrovert atau menutup diri dengan lingkungan. Lain dari itu pikiran buruk saya orang ekstrovert akan mudah melewati masa-masa buruk ini. Dan nyatanya mereka juga merasa terganggu dengan pandemi yang terjadi saat ini.

Kita kembali lagi kepada beberapa pandangan teman-teman saya, yang pertama yang saya angkat adalah mengenai pendapatnya tentang “ Gara-gara pandemi ini, membuat orang kecil menjadi susah dan membuat perkuliahan semakin tidak paham.“ Memang saya akui banyak orang menjadi sengsara dalam arti tidak semaksimal mungkin dalam proses bersosial di lingkungan pada saat ini. Megingat masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia ini, tidak menutup kemungkinan semakin menjadi permasalahan hidupnya. Saya ambil contoh dalam perdagangan masyarakat ekonomi bawah, memang yang merosot bukan hanya ekonomi bawahtetapi ekonomi yang sudah taraf makro juga mengalami kemerosotan. Beberapa upaya dari pemerintah memang sudah menjalar di setiap sisi dan upaya tersebut pasti dan selalu tidak kena 100%. Dan orang-orang yang ekonominya relatif tidak miskin pun malah berbuat yang saya rasa sangat tidak wajar saat pandemi ini, seperti panic buying.

Sedangkan masyarakat yang  kelas bawah realitanya tetap melakukan aktivitas seperti sedia kala, jika mendengar berita tentang pandemi ini pun. Toh hanya didengar, tetapi setidaknya tetap menjaga kebersihan dan kalaupun punya masker atau alat penutup hidung pasti akan tetap memakainya. Jika masyarakat kecil “di rumah saja”, pastinya tidak mungkin melihat mata pencaharian mereka pun di luar ruangan sepertinelayan, petani, buruh, pekerja sekror informal, dan sebagainya. Dan jika mereka mendapatkan subsidi dari pemerintah mungkin hanya mencukupi beberapa hari kedepan saja sedangkan pandemi ini pun tidak tahu sampai kapan berakhirnya.

Di sisi yang lain mengenai pendapat teman saya ialah membuat perkuliahan semakin tidak paham dengan adanya kuliahdaring ini. Dulu saya berpikir teknologi membuat semua menjadi mudah, tetapi melihat perkuliahan pada masa-masa monoton seperti ini dengan hanya absensi, menjawab salam dan hanya mengucapkan “ OK, Bu/Pak terima kasih pun sudah mewakili betapa tidak efektifnya sistem ini, membuat saya berpikir ulang tentang teknologi. Dan lebih buruknya lagi setelah mahasiswa pulang ke kampung halamannya mengingat teknologi online pasti masih banyak kekurangannya ialah susahnya jaringan sinyal. Masalah sinyal pun menjadi penting karena koneksi memerlukan internet jika mahasiswa di kota atau yang ditempatnya masih mendukung untuk mendapatkan sinyal pasti akan mudah kalau besok Ia presentasi. Tetapi di lain sisi entah itu harus menaiki gunung melewati lembah dahulu, kalu tidak ada jaringan juga sama saja. Jika tadi bicara tentang masalah sinyal kita lanjut ke masalah tugas, memang tugas adalah makanan sehari-hari kaum pelajar dan saya pun ikut senang jika mendapatkan tugas.

Soalnya jika hanya perkuliahan saja dengan durasi seperti itu pastinya kita semakin tidak ada hal-hal guna mengisi waktu luang ini. Akan tetapi yang saya tidak setuju jika Dosen hanya memberi tugas dan tidak melakukan perkuliahan online ini lebih buruk lagi. Mungkin kita paham apa yang kita tulis, tetapi kita juga bingung dimana letak salahnya dan dimana letak yang harus dibenarkan. Memang proses perkuliahan “daring “ ini benar benar menganggu mahasiswa. Dan jika presentasi onlie pun, untuk mencermati makalah lewat gadget maupun laptop pasti sangat kurang.

Lanjut yang kedua tentang pendapat teman saya “pandemi ini, sebagai sebuah momen untuk menyatukan dan menolong antar sesama”. Entah teman saya habis nonton dr. Tirta atau bukan. Soalnya beberapa hari yang lalu dr. Tirta diundang dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) dengan ciri khasnya mengenakan kaos serta rambutnya yang mencolok membuat semakin tidak asing. Dan dalam acara tersebut dr. Tirta juga menghimbau para masyarakat, agar bisa menjadikan pagebluk ini sebagai momen untuk menyatukan bangsa ini. bukan karena apa, melihat kebelakang ketika pandemic ini pun semua serba kacau seperti: melakukan lokal lockdown padahal presiden tidak menghimbau untuk melakukan lockdown, DPR tetap ingin mengadakan sidang tentang omnibuslaw di situasi seperti ini, memborong keperluan keperluan pangan atau panic buying dikarenakan takut jika esok kedepan harga menjadi tinggi. Dari sedikit kasus di atas pun membuat semakin tidak tentu arah ada yang memanfaatkan pandemi ini demi kepentingan ego dan ada yang tidak tegas dalam mengurus permasalahan ini. Dan efek nya pun jelas, setelah dr. Tirta menyindir beberapa orang yang berpenghasilan tinggi untuk membantu sesama. Entah itu kebetulan atau tidak akhir-akhir ini pun banyak orang yang terbuka hatinya mulai dari menggalang dana, membagi-bagi sembako, menyediakan tempat cuci tangan pada titik-titik tertentu dan masih banyak lagi.

Mungkin beberapa tanggapan dari teman-teman saya ditambah pula tentang berita-berita yang mengisi wajah-wajah media, semakin membuat saya menjadi multispekulasi. Di tengah pandemi ini pun muncul berita-berita yang masih berhubungan dengan covid-19 ini seperti circle elite global mengenai vaksin yang konon katanya bisa di asumsikan seperti chipset dan orangpun akan mudah diawasi oleh elite-elite tersebut, kemudian tentang perekonomian pasca pandemi ini entah nasional maupun internasional yang berdampak sangat meluas. Lanjut daripada itu kekhwatiran yang seiring berjalan dengan ketakutan akhir-akhir ini masih menjadi misteri entah sampai kapan berakhirnya? entah sampai kapan vaksinya ditemukan? entah sampai kapan dilema #dirumahsaja ini berlangsung?. Jika saya pribadi takut itu pasti ada, seperti sejatinya layaknya manusia normal, namun hal disamping itu masih ada hal-hal yang masih di payungi teka-teki. Ini yang membuat pikiran saya ini agak nakal jika ini akibat dari ulah-ulah manusia yang semakin menggerogoti bumi apa-apa demi gengsi perekonomian antarnegara.

Sehingga mereka yang mempunyai habitat atau tempat persinggahan tersebut merasa rumahnya terancam. Saya sebut patogen dalam virus ini, mereka pasti memiliki tempat tinggal dan jauh ratusan tahun belum ada virus yang memiliki penyebaran secepat ini.Jika seekor singa masuk ke dalam perumahan warga, bisa dipastikan jika mereka terancam karena tempat yang mereka huni sudah tidak ada atau bisa dikatakan terusik habitatnya. Dan hal tersebut selaras dengan patogen ini, dimana para elite-elite dunia saling berlomba adu gengsi demi meraup untung

Sebanyak banyaknya entah itu merusak alam dengan mengeksploitasi secara membabi buta atau bahkan lebih buruknya lagi memusnahkan ekosistem. Lagi lagi dikarenakan kapital ekonomi yang menjadi dasar sistem perekonomian saat ini di mana yang menang akan berakumulasi dan yang kalah pun akan bangkrut. Dan jika sifat-sifat tersebut masih menempel pada insan-insan elite tersebut dapat dipastikan masih terbuka lebar virus-virus yang tak kalah mengerikan.

Kita pun dapat melihat bahwa dorongan-dorongan sistem seperti ini menjadi bencana bagi dirinya sendiri, karena sistem ini pun memberi peluang munculnya virus yang menyerang manusia dan bodohnya sistem ini mengutamakan aspek ekonomi, dan mengabaikan keselamatan jiwa pada saat pathogen ini menyebar alhasil bencana ini pun berujung cari uang buat gali lubang.

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Komitmen Bersama Membentuk Kesadaran di Tengah Pandemi

Sel Jun 9 , 2020
                                 Tidak terasa bahwa pandemi di Indonesia sudah hampir 3 bulan. Hingga datangnya bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah ini. kita cukup bergeliat dengan virus COVID-19. kegiatan beribadah yang semula dilakukan berjamaah/berkerumun untuk sementara dilakukan dirumah. Semua ini demi terciptanya keadaan yang normal kembali serta mentaati peraturan pemerintah.             […]