RUU PKS, Polemik, dan Urgensinya

(doc: https://blog.netray.id)

Polemik mendasar terkait RUU PKS bukan lagi terletak pada materi dalam RUU. Pertentangan yang cukup keras justru terletak pada kecurigaan tentang nilai dan agenda apa yang melatari munculnya isu dan polemik tersebut.

Baik kelompok yang mendukung maupun menentang RUU PKS sama-sama mengklaim memiliki misi mulia terhadap entitas bernama perempuan; entitas yang dinilai banyak mengalami kerugian dalam relasi yang didasarkan pada seksualitas.

Bagi yang mendukung, RUU PKS akan menyelamatkan banyak korban kekerasan seksual. Ia melihat bahwa terjadinya kekerasan disebabkan secara determinan oleh budaya patriarki; sebuah konsep sosial yang menempatkan laki-laki sebagai yang utama atau dominan, baik dalam konteks kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, maupun penguasaan properti.

Bagi kelompok yang menentang, diksi kekerasan ialah bias dan hasil dari cara pandang yang mengabaikan nilai-nilai hidup ketimuran bahkan nilai-nilai dari Tuhan. Dalam beberapa konteks, hal semacam itu justru wujud perlindungan terhadap kaum perempuan agar terhindar dari pelecehan dan sejenisnya.

Dalam kenyataan yang ada, perempuan merupakan korban dominan dalam relasi seksual kehidupan sosial kita. Setiap kubu mengalami pertarungan atas cara pandang. mengapa kita tidak mencoba mengubah cara pandang guna melihat sisi yang menjadi titik-titik temunya. Kedua kubu sama-sama ingin memuliakan kaum perempuan. Sama-sama menghargai dan menghormati seks dan seksualitas. Kedua kelompok juga sama-sama tidak bersepakat terhadap tindakan sewenang-wenang, tindakan yang melecehkan atau merugikan dalam kaitannya dengan, atau di dalam kehidupan seksual.

Maka perlunya dialog dan edukasi demi tumbuhnya literasi tentang relasi seksual berikut dengan berbagai ketimpangannya. Kita membutuhkan RUU ini demi melindungi korban dalam relasi seksual serta demi terjaganya harkat dan martabat manusia, apa pun jenis kelaminnya.

Penulis: Kopri PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang 2021

Editor: Aji Firman

Sumber: http://mediaindonesia.com

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Citra Diri Kader KOPRI

Rab Okt 27 , 2021
Panca Norma KOPRI Emansipasi : 1. Emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan yang berkaitan dengan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. 2. Tuntutan akan hak-hak perempuan, meliputi segala segi kehidupan baik politik sosial ekonomi maupun kebudayaan. 3. Perjuangan hidup baik di bidang politik, sosial, ekonomi maupun kebudayaan adalah suatu tuntutan […]