Resah Dalam Diam; Pertarungan Ideologi Dan Realita

Oleh : Habby Luthfi Ulul Arham
Sebenarnya hal semacam kritikan haruslah berjalan bersama dengan solusi, jangan sampai kritikan itu hanya alat bagi kita untuk merasa sebagai orang yang paling paham segala bentuk masalah yang terjadi.
Kepongahan bukanlah identitas kalangan santri, jangan pula kritikan tersebut hanya untuk menjustifikasi seseorang atas kesalahan, jangan – jangan itu hanya kesalahan yang disengaja untuk menutupi kebenaran, kritikus yang baik tidak pernah mengatakan baik pada diri dan tidak pernah mengatakan buruk pada orang lain. Tapi melayangkan kritik kepada siapapun dan tentang apapun untuk menjunjung tinggi kebenaran.
Kebenaran absolut adalah kebenaran yang bersifat kesimpulan berdasarkan perspektif bukan berdasarkan asumsi, karena asumsi hanya menimbulkan teorema, jangan sampai orang berpikiran bahwa argumentasi diciptakan untuk melindungi diri atas kesalahan.
Mengabdikan diri kepada sosok manusia bukanlah sebuah ketidakbolehan, karena bagaimanapun itu hak setiap individu manusia. Hanya saja yang sering kita lakukan, kita hanya melihat bentuk kesuksesan, ketenaran, serta kematangan sekarang, kita lupa bahwa hal yang sedemikian itu berawal dari sebuah proses yang sangat mengerikan, sebuah penolakan, sebuah ketercacian, dan sebuah keterhinaan.
Kita berideologi, kita juga mempunyai kebutuhan yang tidak bisa ditunda, sampai sekarang dua premis itu sangat sulit tersolusikan ketika berhadapan dan saling Tarik menarik, apakah kita akan tetap memegang teguh sebuah ideologi tersebut walau mungkin kita melewatkan kebutuhan, atau justru sebaliknya, kita menjual ideologi yang selama ini kita percayai demi mendapatkan sebuah kebutuhan.
Bukankah itu hal yang sangat sulit untuk di selesaikan, sekalipun kita mati-matian mempertahankan ideologi maka semakin mati-matian pula kebutuhan menghinggapi, bukankah hal semacam itu sangat mengerikan. Kita menjadi manusia hanya angkuh terhadap narasi berdiri dengan sebutan manusia yang tercipta dengan pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna dengan kelengkapan akal, atau jangan-jangan itu hanya definisi saja yang hanya untuk membuat manusia semakin angkuh.
Kita belum mendefinisikan manusia atas dasar kemanusiaan dari naluri manusiawi kita, singkat kata kita belum menjadi manusia yang cerdas dan bijak, teringat kata pemenang nobel sastra dari Mesir Mafous Naguib “Engkau dapat mengetahui seseorang itu cerdas dari jawabannya, dan engkau dapat mengetahui seseorang bijak dari pertanyaannya”.
Lalu apakah kritikan yang selama ini kita lontarkan berdasarkan pertanyaan yang bijak, jangan – jangan kritikan itu adalah naluri angkuh manusia agar mendapatkan predikat manusia yang bijak. Miskin sekali jika seperti itu, yang sangat menyedihkan kita sebagai kaum kritisisme dan idealisme sekarang sudah lupa akan kodrati itu.
Mengkritik tanpa dasar, mencela tanpa mengaca, menggerakkan tanpa mengikutinya, membisu tanpa tanya, merasa terdzolimi tanpa bertabayyun, menggaung tanpa aungan.
Yang membanggakan kita tidak membutuhkan itu semua, selama kita bisa mencukupi kenikmatan terhadap syahwat diri, maka selama itu pula kita tertindas tanpa terasa.
Dalam situasi sulit saya selalu teringat petuah Gus Dur, ‘’Kita tidak boleh tunduk dengan fakta, perjuangan itu melawan fakta dan membuat fakta baru” itu kata Gus Dur saat dilobi agar mempertahankan jabatan sebagai Presiden.
Karena bagaimanapun suatu keadaan tidak pernah bisa dipersalahkan atau di permasalahkan, dengan kata lain pergerakan adalah sebuah kunci bagi setiap perjuangan ataupun perubahan. Yang ingin saya harapkan dari tulisan ini, menumbuhkan hirroh pergerakan dalam konsepsi bagaimana kita besar berdasar dari masalah, berdasar dari beban, berdasar dari penolakan.
Romahurmuzy mengatakan “sesuatu yang tidak menghancurkanmu, itu akan menguatkanmu, selanjutnya terserah bagaimana kamu bertindak”.
*Penulis adalah Ketua 1 PMII Komisariat UIN Walisongo periode 2018-2019

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pengumuman Hasil Seleksi Peserta Sekolah Islam Gender 2019

Sel Mar 12 , 2019
Selamat kepada peserta yang lolos seleksi Sekolah Islam Gender, segera lakukan pembayaran melalui Rek. atau hubungi langsung nomor yang tertera yah… SALAM PERGERAKAN !