Refleksi NDP Di Setiap Langkah Pergerakanmu

Tahun 2018 akan berakhir, tahun baru segera menjelang. Harapan dan asa baru melangit kita panjatkan, namun semua tak akan berarti jika belum juga beraksi mewujudkan mimpi dalam langkah nyata. Oleh: Rusda Khoiruz
PMII sebuah pergerakan mahasiswa islam indoesia, merupakan salah satu elemen mahsiswa yang terus berusaha mewujudkan cita-cita Indonesia ke depan menjadi lebih baik. Berdiri tanggal 17 april 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan social dan politik di Indonesia. Lahir karena menjadi suatu kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman, bermula dari hasrat yang kuat dari mahasiswa NU yang ingin mendirikan sebuah organisasi yang ber-ideologi-kan ahlussunnah wal jama’ah.
tetapi momentum hari ini jelas berbeda, dimana arah perkembangan sejarah terus melaju. Sebagai kader PMII sekarang juga harus bisa memaknai sejarah dengan mengambil ruh ideologisnya sebagai penentu arah. Dimana ruh ideologis sejarah tersebut pasti dapat mempersatukan semua kader PMII dimanapun berada dan bergerak. Tuntutan era kita berada hari ini adalah profesionalitas dan kompetensi di segala sektor kehidupan. Berbeda dengan situasi dulu pada sejarah berdirinya PMII yang sedang mengalami pergolakan situasi dan carut marutnya perpolitikan Indonesia pasca kemerdekaan, hari ini kita berada di tengah-tengah persaingan yang menggelobal sehingga pada level komunitas kita dituntut untuk membangun kualitas kader yang tidak hanya militant secara ideologis, tetapi juga berbekal penguasaan keterampilan di bidangnya masing-masing.
Pergerakan mahasiswa islam Indonesia juga berusaha menggali nilai ke-islam-an dan ke-indonesia-an yang kemudian menjadi citra diri dan diberi nama Nilai Dasar Pergerakan(NDP). Tentu dalam kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang memberi arah, landasan serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Hal ini dibutuhkan dalam memberikan kerangka, arti, motivasi, pergerakan dan sekaligus memberikan dasar pembenar terhadap apa saja yang akan dan mesti dilakukan untuk menggapai cita-cita perjuangan Indonesia serta sesuai dengan maksud didirikannya organisasi ini, yang mempunyai landasan dalam menentukan arah atau yang sering dikenal dengan istilah nilai dasar pergerakan(NDP). Yakni di dalamnya terdapat nilai hablum minallah, hablum minannas, wa hablum minal ‘alam. Sebuah keharusan bagi setiap fungsionaris maupun anggota untuk memahami dan menginternalisasikan nilai dasar pergerakan PMII tersebut baik orang perorangan maupun bersama-sama.
Dari NDP tersebut dapat ditarik benang merah bahwa makna yang terkandung di dalamnya sudah cukup untuk mencerminkan tugas diutusnya manusia di muka bumi sebagai khlaifah. Hablum minallah, hablum minannas, wa hablum minal ‘alam adalah tiga tugas pokok manusia yang ketiganya tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, semua harus dilaksanakan demi kebaikan manusia dan alam seisinya. Keselamatan manusia tidak akan berarti jika hanya melaksanakan salah satu tugas saja, karena begitu kita melaksanakan satu tugas, maka 2 diantara 3 tugas menjadi sesuatu yang juga harus dilaksanakan, dan seterusnya ketika 2 tugas dilaksanakan maka yang ke 3 pun harus dilaksanakan juga.
Dalam kaitannya hablum minallah, mungkin sebagian orang akan berpikir cukup dengan sholat, berdzikir, meninggalkan hal yang dilarang mungkin sudah cukup. Namun dalam hal tersebut kita tidak boleh melupakan bahwa dalam rahmat, hidayah, serta inayah-NYA terdapat juga hak orang lain seperti harta yang telah didapatkan ada hak orang lain yang kekurangan, ilmu yang kita dapatkan ada hak orang lain dan kewajiban untuk mengamalkanya serta karunia Allah lain yang wajib kita syukuri yang kemudian menuntut kita kedalam tugas yang kedua yakni hablum minannas. Karena hablum minallah tidak bisa dilakukan sendiri dan kita butuh tempat untuk menanami ladang amal kita, dalam artian kita butuh objek untuk meng-hablum minannas-kan amal kita yaitu tidak lain adalah orang lain. Adapun tugas yang ketiga yakni hablum minal ‘alam adalah tugas yang berada di tengah-tengah 2 tugas pokok manusia, menjaga alam agar tetap bersahabat dengan manusia, untuk keselamatan, ketentraman hidup di dunia dan memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menggunakan sebaik-baiknya adalah tugas manusia sebagai khalifah.
Dari NDP tersebut dapat disimpulkan sebagai bentuk tafaqquh social tanpa keluar dari koridor ideology bangsa ini yaitu pancasila yang bersemboyan bhineka tunggal ika ‘berbeda-beda namun tetap satu jua’ demi terciptanya alam semesta yang seimbang dan Indonesia yang lebih berkemajuan. Dewasa ini banyak yang mengabaikan atas keadaan social di era yang serba menuntut hingga mengabaikan kewajiban kita sebagai makhluk social. Maka solusi selanjutnya Bangsa ini membutuhkan gerakan bertafaqquh social demi meramu, menjaga, melestarikan apa yang sudah menjadi hak dan milik kita saat ini, meliputi segala hal yang berkaitan dengan negri ini tak terkecuali perbedaan suku, ras, agama, Bahasa yang telah menjadi ruh bangsa ini.
Harapan di tahun baru yang telah menanti, kita sebagai kader PMII dituntut tidak hanya militant dalam hal ideologis yang tertuang dalam NDP yang tentunya mengandung nilai-nilai ideology pancasila bangsa ini, tetapi juga dituntut mampu merefleksikannya dalam realitas kehidupan masyarakat supaya lebih baik pastinya dengan langkah nyata. Tumbuh suburlah pergerakan, jayalah PMII.
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam semester 1 yang aktif di PMII Rayon Syari’ah Komisariat UIN Walisongo Semarang, asal Gresik Jawa Timur.

(Sumber: pmiirasya.com)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sajak Buat Aktifis

Jum Des 28 , 2018
Ilustrasi: omahaksoro.com Oleh: Ahmad Z.F* I Aku bercakap pada teman dan diri; Jantung negeri adalah penguasa Dan tergantung penguasa keadilan itu Jika kau berada diatas kekuasaan Jangan lupa tuangkan tuak kedaulatan Dalam cawan keadilan Ku tau… Ada secelah jalan bagi aktifis II Aktifis-aktifis itu adalah pemimpin bangsa Mereka juga sahabat-sahabatku, […]