Refleksi 60 Tahun PMII: Harlah di Tengah Wabah


Oleh; Nanang Bagus Zuliadi

Terhitung sejak 11 Maret 2020, World Healt Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan yang menggemparkan seluruh dunia. Lewat Direktur Jenderalnya, Tedros Adhanom, WHO secara resmi mengumumkan wabah penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi global.

Diumumkannya COVID-19 sebagai pandemi global membuat banyak negara mulai mempersiapkan segala sesuatunya guna menangkal penyebaran virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China ini. WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global setelah jumlah infeksi di seluruh dunia mencapai angka lebih dari 121.000.

Di Indonesia sendiri, virus ini pertama kali terdeteksi pada 2 Maret 2020 (sebelum adanya pernyatan WHO tentang Corona sebagai pandemi global). Sejak saat itu, jumlah infeksi COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Data terakhir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan per 16 April 2020 jumlah pasien positif CCOVID-19 di Indonesia mencapai 5.516 jiwa.

Banyaknya kasus positif COVID-19 itu berimbas pada berbagai sektor, baik secara nasional maupun global. Imbas yang paling nyata adalah resesi ekonomi akibat penghentian berbagai aktivitas perdagangan dan perindustrian guna melakukan Social Distancing (selanjutnya disebut Physical Distancing).

Berbagai perusahaan berusaha mengurangi jumlah tenaga kerjanya, berbagai lembaga pendidikan meliburkan proses belajar mengajar offline dan menggantinya dengan sistem online. Berbagai kegiatan yang menghadirkan banyak orang juga ditiadakan untuk sementara waktu guna menekan laju penyebaran virus ini.

Anjuran “Dirumah Aja” dan “Work From Home” terus digalakkan oleh pemerintah dalam upaya penanganan dan pencegahan pandemi ini. Beberapa daerah juga telah diizinkan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sebut saja DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

Efek pembatasan sosial ini secara tidak langsung telah mengikis secara perlahan tradisi silaturahmi khas Indonesia. Budaya bersalaman, budaya saling sapa, budaya ngopi, secara otomatis terhalang akibat wabah yang diperkirakan akan berlangsung sampai beberapa bulan kedepan ini. Kita dipaksa untuk saling curiga satu sama lain, hal yang jauh dari tradisi adiluhur bangsa Indonesia.

Walau semua itu dilakukan demi kebaikan bersama, agaknya tidak berlebihan kekhawatiran tersebut diutarakan jika menilik maraknya budaya individualistis manusia di era hiperrealitas media masa kini. Karena sebelum dihantam wabah, budaya kita telah dihantam sedemikian rupa oleh hiperrealitas modern.

PMII: Harlah dan Wabah

Selain ancaman terkikisnya budaya dan kultur kemasyarakatan kita, wabah global coronavirus juga mendatangkan tantangan baru. Tantangan tersebut berupa kesiapan kita sebagai masyakarat dalam menghadapi era modern nan cepat. Era revolusi industri 4.0 hampir berlalu, era smart society 5.0 segera menyambut kita dengan segala kemewahan dan keserbacepatannya.

Hampir semua instansi pemerintahan, perusahaan, instansi pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan dan keagamaan melakukan berbagai macam aktivitas via online. Semua organisasi dan pribadi dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan yang diciptakan oleh peradaban, termasuk PMII.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di seantero negeri sudah seharusnya dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perkembangan zaman. Narasi melek media, revitalisasi gerakan, rekonstruksi paradigma yang selama ini digaungkan sudah waktunya diimplementasikan sebaik mungkin dalam pergerakan yang nyata.

Jangan sampai narasi tersebut hanya berhenti pada doktrin kesadaran palsu tanpa aktualisasi yang jelas. PMII hari ini harus menjadi episentrum inovasi gerakan yang menyadarkan banyak pihak untuk selalu peka terhadap perkembangan yang ada.

PMII memasuki usianya yang ke-60 pada 17 April 2020. Organisai yang lahir pada 17 april 1960 ini memasuki usia senjanya, jika dibaratkan manusia, PMII mungkin telah memiliki cucu berjumlah jamak.

Merayakan Hari Lahir (Harlah) dalam tradisi PMII biasanya ditandai dengan begitu banyak agenda yang terangkum di “Serangkaian Harlah PMII”. Agendanya bisa bermacam-macam menyesuaikan kultur kaderisasi di masing-masing daerah. Mulai dari agenda yang mengasah intelektual seperti Studium General, Bedah Buku, Sekolah-sekolah, sampai agenda yang berfungsi merekatkan chemistery antar kader berupa lomba futsal, lomba memasak, dll.

Semua itu adalah agenda yang mungkin dilakukan sebelum dan sesudah adanya wabah Covid-19. Ketika wabah melanda, apa yang bisa kita lakukan?. Mau tak mau, suka tidak suka, PMII harus melakukan rekonstruksi yang nyata dalam menyikapi ini semua. Auman keras nan khas PMII kini tidak bisa hanya berupa dengungan semata. Ia harus membumi dan mewujud dalam inovasi kegiatan yang dibuat guna menyambut harlah di tengah wabah.

Para pendiri dan pendahulu kita telah mengajarkan untuk peka terhadap realitas yang ada di sekeliling kita guna kebaikan diri dan organisasi. Setelah sekian lama diajarkan, tibalah saatnya bagi kita untuk mempraktikkannya demi keberlangsungan organisasi.

Diumur yang baru nan sepuh ini, sudah selayaknya kita sebagai kader PMII merayakannya dengan antusias seraya berdo’a dengan takdzim untuk kebaikan pergerakan kita. Disamping melakukan refleksi secara terus menerus dalam rangka intropeksi diri demi terwujudnya cita-cita keislaman dang kebangsaan yang kita impikan.

Harapan-harapan senantiasa terkembang dalam momentum Harlah di setiap tahunnya. Do’a dan munajat terus dipanjatkan kepada seluruh pendiri PMII, para pendahulu, serta seluruh kader PMII pada umumnya.

Samun sayang, agaknya harapan-harapan kita sebagai kader PMII di setiap momentum harlah seringkali berakhir dalam do’a dan ucapan saja. Aktualisasi diri dan implikasi yang diharapkan kerapkali “zonk” dan seolah tak berbekas.

Bagaimana tidak, kita sebagai kader PMII selama ini terlalu sibuk mengurus internal hingga lupa membangun kapasitas kader yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan sangat baik. Kita sibuk bertengkar sesama sahabat hanya karena kita kalah dalam pertarungan politik di tingkatan Pengurus Besar (PB) hingga Pengurus Komisariat (PK). Mengapa Pengurus Rayon (PR) tidak penulis sebut? Karena cuma di tingkatan rayonlah pertarungan politik berjalan sehat dan cenderung tanpa konflik yang berarti (setidaknya itu yang penulis rasakan).

Selain itu, budaya literasi di kalangan internal kita juga perlu dipertanyakan kembali. Seberapa banyak kader yang suka menulis, membaca, hingga diskusi? Seberapa sering kita mengkaji persoalan sosial di sekeliling kita dengan modal pisau analisis yang matang?

Terkadang kita terlalu ganas di kandang sendiri, mengaum dengan keras hingga membuat telinga panas. Tak jarang kita kalah oleh organisasi komunitas yang lebih berani show up dan memberikan kontribusi nyata pada lingkungannya.

Akibat dari semua kelemahan kita adalah kegalauan dan kebimbangan dalam merumuskan arah gerakan. Hal ini terbukti dengan kegagapan kita dalam menghadapi harlah di tengah wabah. Segala agenda yang telah disiapakan (syukur jika disiapkan dengan matang) terpaksa harus digagalkan. Kalaupun tidak, diundur sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Hampir semua kegiatan kaderisasi kita mengalami masalah. Roda organisasi berjalan terseok-seok di tengah pandemi. Kita mengganti semua kegiatan yang awalnya offline menuju kegiatan-kegiatan bersifat daring. Diskusi online, rapat online, sampai tahlilan online. Namun apakah kita sudah memikirkan apa feedback yang didapatkan dari diskusi online?

Seberapa jauh dialektika pemikiran berjalana? Dan seberapa dinamis perkembangan intelektualitas kader jika terus dicekoki oleh diskusi online via Whatsapp? Lalu, apa yang membedakan guyonan dan perdebatan ngalor ngidul yang kita lakukan biasanya di grup Whatsapp dengan diskusi pemikiran secara daring?

Sudahkah kita memikirkan itu semua? Alih-alih meningkatkan kapasitas intelektual kader, jangan-jangan diskusi online malah menjauhkan kader dari buku dan mendekatkan mereka pada gadget. Apa itu yang kita inginkan?

Apa tidak lebih baik kita manfaatkan metode kaderisasi mentoring dan monitoring di tengah pandemi ini? Setiap pengurus di masing-masing tingkatan membawahi setidaknya 5-7 orang kader dan memantau kesemuanya dalam masa karantina ini melalui media daring.

Pantau bacaan bukunya selama masa karantina ini, berikan petunjuk untuk meresensi dan menulis hasil bacaannya, lalu sesekali ajaklah berdiskusi terkait bahan bacaanya atau tema-tema lain sesuai minat kajian kader. Ya memang, hal ini tak jauh berbeda dari diskusi online. Tapi setidaknya pemantauan kaderisasi berjalan secara komprehensif dan perkembangan kwalitas kader dapat terfasilitasi dengan baik. Dan yang paling penting, metode ini tidak menjauhkan kader dari buku.

Terus Berbenah

Terakhir, penulis ingin sampaikan bahwa penulis sama sekali tak ingin pergerakan kita mengalami regresivitas gerakan, sama sekalai tidak. Apa yang penulis sampaikan diatas adalah kegelisahan, intropeksi diri, sekaligus persembahan khusus untuk organisasi tercinta di umurnya yang ke-60 tahun. Penulis harap, pasca ini kita dapat bersama-sama, saling bahu membahu menambal semua kekurangan yang ada di dalam tubuh organisasi.

Penulis tak ingin menyamaratakan semua potensi kader di masing-masing tingkatan. Setelah berproses selama kurang lebih 3 tahun 6 bulan, penulis telah bertemu dang berdialektika dengan banyak kader hebat jebolan PMII. Dan dari pertemuan tersebut, hampir semua memiliki kegelisahan yang penulis uraikan diatas.

Bukankah manusia yang berkualitas adalah manusia yang mampu menerima kekurangan diri sendiri dan berupaya untuk terus berbenah?. Begitu pula dengan organisasi, keterbukaan atas kritik adalah tanda majunya sebuah organisasi.

Di umur yang tak muda lagi ini, penulis ingin mengajak seluruh kader PMII untuk terus berbenah dan menyadari segala kekurangan yang ada untuk kemudian berusaha memperbaikinya menjadi lebih baik.

Wabah COVID-19 menyadarkan kita akan pentingnya selalu berevolusi sesuai perkembangan zaman. Derasnya arus teknologi memaksa kita untuk terus bergerak dan berinovasi. Pelbagai sektor teknologi dan informasi harus terus digenjot, biro dan departemen harus terus berbenah, pola dan pendekatan harus terus diperbaharui, guna menyesuaikan diri dengan zaman yang serba cepat.

Corona memaksa doktrin revitalisasi gerakan yang selama ini kita gaungkan lewat seminar dan studium general bergerak pada ranah yang lebih sublim dan nyata. Melewati narasi yang hanya berbuah pada pemikiran menuju gerakan nyata pada tataran grass root.

Secara kwantitas mungkin kita boleh berbangga karena pergerakan kita hari ini memiliki 231`cabang definitif di seluruh Indonesia, 20 cabang persiapan, serta 3 cabang Internasional yang masing-masing berada di Maroko, Jerman, dan Taiwan. Namun kwantitas itu akan terasa hampa jika tidak diimbangi dengan kwalitas kader yang mumpuni.

Pengembangan kwalitas diatas kwantitas tentu harus diprioritaskan dalam segala tingkatan organisasi PMII. Hal ini sesuai dengan tujuan PMII yang termaktub dalam Anggaran Dasar (AD) Bab IV pasal 4 yang berbunyi “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkann ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Maka dari itu, penting rupanya kita sebagai kader PMII untuk terus bergotong royong dan bekerjasama menciptakan iklim intelektual progresif dalam tubuh pergerakan kita. Mari kembali mengingat “Al-Muhafdzotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Mari menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Dirgahayu PMII ke-60
Tumbuh subur kader PMII, panjang umur pergerakan!
Salam Pergerakan!
Al-Fatihah.

*Penulis adalah Ketua II PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dampak COVID-19 Pada Ibadah Agama

Sel Apr 21 , 2020
Sudah hampir 1 bulan lebih kita semua melalui masa karantina yang kita lewati dan sampai sekarang belum ada titik cerah untuk mengatasi pandemi covid-19 ini, yang bisa kita lakukan untuk saat ini hanya mematuhi aturan pemerintah dan menunggu semuannya membaik, walaupun sangat sulit untuk bisa terus terusan stuck bertahan dalam […]