Problematika Bangsa Di Mata Mahasiswa

(aktivis mahasiswa organisasi ektra kampus di UIN Walisongo bersama Presiden DEMA Syarifuddin Fahmi)
Semarang, pmiiwalisongo.or.id – Dalam rangka purna bakti masa jabatan pengurus Dewan Ekskutif Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Dema menggelar mimbar bebas yang merupakan serentetan acara selama 3 hari. Ada panggung khusus yang disedikan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan dan pendapatnya terkait problematika bangsa saat ini.

Mimbar bebas dengan tema “Problematika Bangsa Dalam Kaca Mata Aktivis Mahasiswa” disampaiakan oleh perwakilan masing-masing organisasi ekstra yang berada di lingungan UIN Walisongo Semarang. Di antaranya PMII, HMI, IMM, KAMMI, dan GMNI.

Presiden Dema Universitas Syarifuddin Fahmi mengatakan, mahasiswa merupakan aset bangsa yang kelak akan memimpin indonesia 20-30 ke depan. Mahasiswa sangat ditunggu – tunggu peran dan fungsinya. Karena itu mahasiswa harus mengembangkan pemikiran dan ide gagasanya untuk Indonesia menjadi negara yang lebih baik adil dan makmur.

Ia menegaskan dalam orasinya kepada peserta yang hadir untuk menggiati dunia literasi dan semangat pergerakan. “Tradisikan lah diskusi, literasi dan aksi. Karena hal inilah yang membedakan antara mahasiswa dan bukan,” ujarnya saat orasi pada acara tadarus kebangsaan di Audi 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Senin (10/12).

Aktivis PMII yang diwakili Tegar Tata Gutama, ia mengingatkan kepada perserta yang hadir di acara mimbar bahwa banyak sekali persoalan bangsa yang menjangkiti negara ini. oleh karena itu, Tegar sapaan akrabnya mengatakan. Mahasiswa harus berfikir dan bertindak guna merubah wajah Indonesia menjadi lebih baik.

Dalam puisinya berjudul negeri wiyu – wiyu yang dibawakan di acara mimbar bebas, Tegar menyampaiakan makna tersirat bahwa persoalan bangsa merupakan persoalan bersama. Kritik yang ia tujukan melalui karyanya bukan hanya pada pemerintah tapi pada siapapun “Masalah bangsa adalah masalah bersama, semuanya perlu dikritik, pemerintah, rakyat kaya atau miskin, hukum dan praktisinya, bahkan kritik mahasiswa sendiri,” ujarnya saat ditemui.

Sementara aktivis HMI disampaikan M. Abdurrahman, ia menyoal masalah aksi reoni 212 saat umat muslim berbondong – bondong di halaman Monas Jakarta 2 Desember lalu yang tidak diliput oleh media. Menurutnya lembaga pers Indonesia tidak lagi sepenuhnya mengerjakan tugas sebagai awak media dengan mementingkan publik. “ pers di Indonesia sudah menjadi humas pemerintah,” tegas Abdurrahman yang mengutip kata – kata Rocky Gerung.

Sementara dari perkawakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ahmad Wildan. Ia menyampaikan, persoalan bangsa menurutnya terletak pada diri kita sendiri “Masalah bangsa bukan masalah ia, aku, mereka, tapi masalah kita,” kata Wildan.

Ia menambahkan, Indonesia bisa berkarya karena ada persatuan dan kesatuan antara kita. “kita dapat berkarya bersama untuk Indonesia apabila kaum mudanya bersatu,” imbuhnya.

Di akhir orasi yang sudah disampaikan aktivis mahasiswa di masing – masing organisasi Ekstra di lingkungan UIN Walisongo Semarang, Presiden DEMA-U Fahmi, mengimbau mahasiswa UIN Walisongo untuk melihat realitas bangsa ini mulai dari urusan ekonomi, sosial, dan politik. Karena saat ini Indonesia sedang dalam kondisi timpang.

“Semua yang ada di Indonesia adalah miliki kita bersama, jangan sampai dikuasai oleh golongan tertentu saja. dan inilah harapan Indonesia merdeka, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya. (INK/DNL)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Iqbal: Tujuan Tadabbur Alam yaitu Merekatkan Angkatan 2018

Rab Des 12 , 2018
Kendal,  pmiiwalisongo.or.id – Guna merekatkan keakraban kader, PMII Rayon Abdurrahman Wahid (PMII Gusdur) Semarang mengadakan Tadabbur Alam (TA) Corps AKSARA angkatan 2018 di  Curug Pangleburgongso, Limbangan, Kendal (8-9/12/2018) Acara yang diselenggarakan melalui Biro Pengkaderan PMII Gusdur tersebut diikuti oleh 62 peserta almapaba 2018 Acara bertemakan “Implementasi Nilai Dasar Pergerakan guna […]