PMII Komisariat Walisongo Peringati 21 Reformasi

(Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Saat Melakukan Aksi Memperingati 21 Reformasi di jalan pantura . foto : Nuzul)
Dalam rangka memperingati 21 tahun reformasi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat UIN Walisongo Semarang lakukan aksi di jalan pantura depan kampus 1 pada Kamis, (23/05).
Era reformasi yang ditandai dengan tumbangnya Rezim Orde Baru yaitu Soeharto, terdapat cita-cita mulia yang perlu direfleksikan kembali. Sehingga tuntutan daripada reformasi dapat terwujud.
Kordinator Aksi, Agisna Bidikrikal Hasan, mengajak kepada segenab mahasiswa untuk merefleksikan dan menyuarakan kembali bahwa tuntutan reformasi yang diperjuangan kala itu harus segara dicapai. Karena menurutnya, saat ini, cita-cita reformasi masih gagal dan menjadi pekerjaan rumah bagi negara mewujudkan.
“Buktinya, seperti kasus hukum yang tumpul ke bawah dan tajam ke atas, pelanggaran HAM yang dilakukan Orde Baru sampai saat ini belum diusut siapa dalangnya, penculikan terhadap aktivis seperti kasus Munir, Wiji Tukul, dan aktivis sosial lainya yang seolah dibiarkan oleh negara, dan kasus –kasus lain yang belum mendapat perhatian dari negara” beber Agisna.
Salah satu tuntutan reformasi yaitu memberantas korupsi. Di tengah negara yang tidak sehat, kasus korupsi seperti terjadi di massa pemerintahan Orde Baru masih mewabah dan diwarisi di segala sektor pemerintahan kita.
“Perjuangan reformasi untuk memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya adalah agenda reformasi yang sesegera mungkin diwujudkan,” tegas Agisna.
Agisna mengungkapkan, refleksi 21 tahun reformasi saat ini tidak seramai disuarakan pada tahun – tahun sebelumnya. Asumsi dia, karena isu menggaungkan reformasi seolah tenggelam oleh isu nasional lain. Atas alasan itulah, kemudian Agisna selaku Kordinator sosial politik PMII Komisariat UIN Walisongo berinisatif bersama mahasiswa lainya untuk membuat gerakan lebih penting terkait refleksi 21 tahun reformasi ataupun menyingkap segala persoalan lain yang perlu disuarakan di muka publik.
Sesuai press realease yang didapat, ada 6 tuntutan yang disuarakan PMII Komisariat Walisongo dalam refleksi 21 tahun reformasi. Pertama, penegakan hukum yang adil yang tidak pandang bulu, agama, jabatan, dan lain-lain. Kedua, negara harus menyesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu. Ketiga, menuntut negara mengusut tuntas pelaku kekerasan seksual. Keempat, menghentikan konflik agraria dan kriminalisasi petani. Kelima, menyelenggarakan pendidikan secara murah dan gratis. Keenam, seruan kepada segenab elite politik untuk segera meredam konflik pasca pemilu 2019.
Ketua PMII Komisariat Walisongo, Fizalul Muttakin, menambahkan, semangat gerakan mahasiswa harus terus selalu dinyalakan dalam melakukan pengawalan pada roda pemerintahan, termasuk juga terkait pentingnya mereflkesikan 21 reformasi. Sehingga apa yang menjadi agenda reformasi dapat diwujudkan oleh pemerintaan saat ini.
Aksi yang dilakukan di jalan pantura, sempat terjadi kemacetan beberapa kilometer sepanjang jalan, namun kondisi dapat berjalan lancar setelah ada peringatan dari pihak kepolisian kepada mahasiswa untuk tidak sampai mengganggu penggunan jalan. (LPW)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gerakan PMII Harus Melihat Tanda Zaman

Sel Agu 13 , 2019
Oleh : Ahmad Muqsith PMII Sempat bergumul dengan paradigma Kritis Transformatif, di masa ini kader PMII yang punya latar belakang santri bertemu filsafat di kampus-kampus. Tetapi beberapa pengamat menilai ternyata “ide”-anak kandung Paradigma Kritis Transformatif-yang digunakan sebagai basis ajakan bergerak bersama, tidak cukup mampu untuk menggerakan massa. “Ide” masih kalah […]