PKD Telah Terlaksana, Proses Jangan Sampai Purna

(sebagian peserta PKD PMII Walisongo saat melakukan sesi foto bersama berdasar kelompoknya. foto : Sahabati Yola)
Pelatihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia telah usai digelar. Acara berlangsung selama 4 hari, sejak 04 sampai 07 April 2019 di Pondok pesantren Al Furqon Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Ketua PMII Komisariat Walisongo Semarang, M Fizalul Muttaqin mengatakan, bahwa apa yang diperjuangkan PMII hari ini merupakan amanat bangsa Indonesia. ia berharap, kader PMII harus peka pada persoalan yang menimpa bangsa ini.
“PKD ini adalah wadah untuk mengantar sahabat-sahabati menjadi mujahid yang paham tentang dirinya sebagai mahasiswa untuk menjadi agen perubahan,” ujar Fizal.
“Saya ucapkan selamat berproses di PMII dan menjadi kader PMII yang diharapkan bagi kepentingan bangsa, agama, dan negara. Karena itu skill dan pengalaman harus diasah sejak sekarang,” pesanya.
Sesuai laporan dari Ketua Panitia, Auval Maromi, peserta yang mengikuti PKD tahun 2019 sejumlah 320 peserta yang sebelumnya disaring lewat sreaning. Beberapa peserta berasal dari eksternal Walisongo. Dari Kudus, Magelang dan Pekalongan
Selaku ketua panitia, Auval Maromi berharap kepada kader PMII agar mampu memberikan kemasalahatan pada masyarakat dan menjadi pejuang untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan dengan berbuat adil dan berani melawan ketidakadilan yang berkelindan.
“Meneruskan cita – cita kemederkaan mutlak dilakukan oleh kader PMII. Karena itu, kita ambil tema “Revolusi Gerakan PMII Sebagai Upaya Meneruskan Cita-cita Kemerdekaan”. Karena kemerdekaan diraih oleh founder father kita bukanlah tanpa pengorbanan, bukan tanpa ada darah menetes, bukan tidak memakan banyak korban, karena itu generasi kita harus meneruskan cita – cita mulia itu. Dan jika ada yang mensuramkan cita cita kemederkaan, saatnya kita harus bergerak melawanya ” ungkap Auval sapaan akrabnya saat ditemui di lokasi PKD, Minggu (07/04)
Auval menambahkan, berjuang untuk PMII merupakan bentuk pengabdian
“Apapun yang diberikan untuk PMII baik jiwa, materi, fikiran, dan tenaga adalah bentuk pengabdian pada organisasi. Karena itu marilah kita sama-sama saling belajar dan berproses,” ujar Auval.
Salah satu peserta PKD, Muhammad Ilyas berharap, acara PKD bukan sebatas kegiatan formalitas yang melakukan serangkaian acara demi acara. tapi PKD adalah pintu gerbang awal sebagai kader PMII untuk berjuang demi kepentingan bangsa
“Apa yang didapat di PKD penting dIamalkan, yaitu dengan berkhidmah di PMII. Karena PMII sendiri sangat berkometmen pada umat dan tanggap pada ketimpangan baik terjadi di kampus atau di luar kampus. Dan kita sebagai kader harus berperan di dalamnya,” ujar peserta PKD asal Rayon Ushuluddin tersebut
PKD PMII mengesankan baginya. Ia merasa banyak ilmu dan jaringan yang didapat selama mengikuti acara PKD.
“Saya tergugah selama kegiatan berlangsung, di sana kita diajarkan bergerak untuk melawan sebuah ketimpangan dan memahami serta menganilisisnya kondisi sosial yang terjadi, seperti mataeri analisis sosial” kata Ilyas.
Selain ilmu yang bermanfaat, acara PKD juga menambah jaringan
“Kita bisa memperbanyak teman, karena bukan hanya satu Rayon yang kita kenal melainkan antar Rayon bergabung di acara tersebut,” imbuhnya
Hal senada disampaikan Sonia, peserta dari Rayon Syariah. Ia cukup antusias mengikuti acara PKD dari awal hingga usai. Ia menilai materi yang disampaikan oleh pemateri sangat berguna apabila diimplememtasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia perkuliahan.
Selain itu PKD menurutnya dapat mengenal orang lain yang berbeda latar belakang
“Saya bisa bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang dan dari beberapa fakultas. Sehingga dapat memperbanyak relasi bagi saya kedepanya,” ungkap Sonia.
Begitupun kata Ainun, Mahasiswa Rayon Saintek, ia memandang Pelatihan Kader Dasar juga melatih mental dan keberanian.
“Semoga PKD ini memantapkan kita sebagai kader untuk terus bergerak dan berproses di PMII yang di dalamnya bertujuan untuk kepentingan banga, negara, dan agama” tukas Ainun Naseha. (LPW)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bumi Manusia, Pertentangan Pribumi dan Eropa

Kam Apr 25 , 2019
Judul: BUMI MANUSIA Penulis: Pramoedya Ananta Toer Tahun Terbit : 2005 Penerbit: Lentera Dipantara Tebal: 551 halaman ISBN: 978-979-97312-3-4 Peresensi: Hasan Ainul Yaqin Bumi Manusia buku pertama dari buku tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer yang begitu monumental. Buku tersebut ditulis ketika Pram mendekam di penjara pulau buru waktu pemerintahan […]