Peran Mahasiswa Menghadapi Problematika Sosial

 Oleh: Chamida Nur Muslicha dan Anwar FuadApa itu Kritis ?

“Kritis tidak hanya sekedar mencari tahu, menganalisis, memahami atau menggali sedalam-dalamnya tentang suatu hal untuk mencari kekurangan dan kelebihannya, akan tetapi lebih jauh ke depan bagaimana cara nya seseorang yang kritis tersebut tidak hanya sekedar mengkritisi akan tetapi memperoleh solusi yang ditawarkan atas analisis yang dilakukan.” (Nur Khakiki – Demisioner Ketua BPKM Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang)
Mahasiswa Baru mengalami perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Perubahan status menandakan perubahan peran yang dialami mahasiswa baru. Perubahan peran mengharuskan mahasiwa merubah pola secara pikir, perilaku dalam kehidupan sehari hari. Hal kecil contoh perubahan ini adalah bagaimana pola pembelajaran yang berubah. Dari yang dulu pada saat masih menjadi siswa, guru selalu memberikan materi pembelajaran secara full kepada anak didiknya, setelah menjadi mahasiswa dalam bangku perkuliahan hanya sedikit yang disampaikan oleh dosen, dengan banyak diskusi dan materi materi mencari sendiri. Mahasiswa memiliki beberapa peran dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial sekitarnya., salah satunya yaitu agent of change.

Mahasiswa sebagai pelaku utama agent of change. Dalam gerakan-gerakan pembeharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual yang memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif, kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa. Menurut A.M Fatwa dalam syam (2005) Menyatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok generasi muda yang mempunyai peran strategis dalam kancah pembangunan bangsa karena mahasiswa merupakan sumeber kekuatan moral(moral force) bagi bangsa Indonesia. Mahasiswa yang memiliki peran sebagai agent of change yang merupakan peran strategis dalam pembangunan haruslah memandang kondisi sekitar dengan kritis.
Berpikir kritis ialah berfikir menguji, menghubungkan dan mengevaluasi semua asspek dari masalah dengan cara mengelompokan ,mengorgansir, mengingat, dan menganalisis informasi dalam suatu peristiwa (Kruck dan ruduck) dalam buku sumardayono, 2010. Berfikir kritis adalah berfikir secara radikal dan mengakar. Dalam berfikir secara kritis organ yang digunakan adalah logika. Bagaimana dapat berfikir secara mengakar dalam memecahkan sebuah problematika.

Menurut Perkin (1992), berpikir kritis itu memiliki empat karakteristik, yakni bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan logis, memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dan membuat keputusan, menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan danmenerapkan standar, dan mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk digunakan sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian Dalam melihat suatu Problrmatika yang ada, dalam menganalisi kita membutuhkan suatu alat atau cara yang kita gunakan untuk melihat , emnganalisi, serta memecahkan sebuah masalah yang hanya tidak terselesaikan pada hanya sekumpulan informasi.

Yang pertama, yaitu mendapatkan sebanyak banyaknya informasi. Dengan banyaknya informasi maka banyakpula sudut pandang yang didapat berdasarkan sudut pandang apa yang disampaikan. Banyaknya sudut pandang dapat menjadi acua dalam memertanyakan kesesuaian atau kebenaran informasi tersebut. Informasi bisa kita dapatkan , namun pengetahuan akan informasi yang kita dapat dalam memberikan sudut pandangkita tergantung pada ilmu dan pengetahuan kita. Pengetahuan dapat kita dapatkan dengan membaca buku, dapat memahami situasi apa yang sedang terjadi sebuah dasar serta asumsi asumsi untuk memandang hal tersebu seperti tentang besaarnya UKT dari susdut pandang yang pertama mengatakn bahwa ukt atas dasar kondisi ekonomi , pandangan kedua mengatakan bahwa ukt tergantung dari jalur masuk. Semakin banyak sudut pandang semakin kompleks bagaimana kita berfikir.

Yang kedua, melakukan analisa, organ dari kritis adalah logika. Berfikir secara menalar mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi, apakah relevan atau tidak. Informasi yang didapat tidak ditelan secara mentah mentah, ambil informasi yang relevan dan sesuai dengan fakta yang terjadi. Seperti pada saat menyikapi UKT, UKT adalah sesuai dengan kondisi ekonomi yang tercantum dalam kemenristek-dikti no 39 tahun 2017 taentang uang kuliah tungal.yang terinci dalam Biaya kuliah Tunggal. Jika adanya Uang kuliah yang tinggi maka harus kita analisi penyebab besarnya uang kuliah apakah dari kondisi ekonomi ? ataukah dari baiaya kuliah yang tinggi dalam kampus terseebut ? kemudian apakah dengan biaya kuliah yang besar sarana prasana yang didapatkan sesuai ? banyak hal yang harus kita analisis dalam melihat suatu problematika yang terjadi. Yang ke tiga membuat kesimpulan, kesimpulan atas hasil analisis yang kita dapatkan dari beberapa sudut yang kita analisis dalam menyimpulakn sesuatu agar sesuai dengan apa yang kita yakini dan sesuai dengan apa yang terjadi.

Organisasi mahasiswa mempunyai peran yang strategis untuk mewujudkan idealisme dan menjadi tempat mengembangkan potensi, baik dibidang akademik maupun nonakademik. Prestasi-prestasi non akademik ini seringkali didapatkan oleh mahasiswa melalui aktivitas organisasi-organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus yang diikutinya. Dalam hal ini, sebagai mahasiswa akan dilatih untuk terus mengembangkan tingkat progresif, kreatif, dan kritis yang dimiliki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Huang dan Chang (2004, h.391) menjelaskan bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan akademik dan non akademik sekaligus, akan memiliki manfaat dalam penguatan kemampuan berpikir secara kritis, kemampuan berkomunikasi, kemampuan interpersonal, dan kepercayaan diri yang akan sangat berguna dalam pengabdiannya dirinya di lingkungan masyarakat. Sebagai mahasiswa yang memiliki peran sebagai agent of change (agen perubahan).Mahasiswa adalah penyambung lidah antara masyarakat dan juga pemerintahan begitupun sebaliknya maka berfikir secara kritis adalah suatu senjata yang harus dimiliki mahasiswa dalam memandang permasalahan yang ada dilingkungan baik lingkungan kampus maupun lingkungan masyarakat.

Jika kritis merupakan suatu keharusan, lalu bagaimana dengan mahasiswa yang belum atau bahkan tidak memiliki sifat atau kemampuan kritis tersebut? Kuncinya adalah meninkatkan budaya literasi dengan cara memperbanyak membaca dan menulis. Membaca yang dimaksud tidak sekedar membaca hanya untuk menemukan alamat, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk mengetahui hasil suatu pertandingan, dan membaca untuk mengetahui berapa persen diskon suatu barang, tetapi lebih kepada membaca tulisan-tulisan yang memacu kreativitas pikiran dan merangsang imajinasi yang mendasar bagi kecerdasar manusia. Dan menulis yang dimaksud adalah menulis yang tidak melulu self oriented, tapi mencoba untuk peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Selain itu rung publik yang harus kita isi dalam ssetiap pojok kampus dengan bediskusi, baik berdiskusi mengenai tugas perkuliahan atau berdiskusi tentang dilema apa yang terjadi dalam kampus mapun masyarakat , dengan berdikusi melatih daya kritis serta meningkatkan paham akan situasi yang terjadi tidak berdasarkan sudut pandang.


Daftar Pustaka ————————————————–

Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan PTAI dan Pedoman Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) PTAI , Jakarta, 2012. 
Huang, Y. & Chang, S. (2004). Academic and cocurricular involvement: Their relationship and best combinations for student growth. Journal of College Student Development, 45 (4), 391-406. 
 Keputusan Menteri Pendidikan Nasional republik Indonesia Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Pendidikan Tinggi dan Penilaian Mahasiswa, (online), diakses Selasa, 6 November 2018. 
Soyomukti, Nurani. 2016. Pengantar Filsafat Umum. Cetakan ke III. Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA. 
Syam, Syaifullah. 2005. Pola Adaptasi Mahasiswa Baru Jurusan PMPKN FPIPS UPI, Studi Analitis Pada Mahasiswa Baru Jurusan PMPKN FPIPS UPI . Jurnal Civicus1, (5), 372-382.
Albert, Hans 2004. Risalah Pemikiran Kritis Cetakan I. Yogyakarta : Pustaka Pelajar 

Sumber: PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan 

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kapitalisme, Ditolak atau Dimaknai Ulang?

Ming Des 23 , 2018
 “Eine grosse epoche hat das Jahrhundert geboren, aberde grosse Moment fondet ein kleines Geschlcht.” (Suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar itu menemui manusia kerdil). Pujangga Jerman, Johann Fristoph Friedrich von Schiller (1759-1805). Indonesia dianugerahi seribu satu kehidupan yang membuat warganya harus survive menjalankan tradisi yang berlandaskan pada cinta. […]