Peran Kopri dalam Dinamika Gerakan Perempuan

Oleh: Umi Ma’rufah

Paling tidak ada dua reaksi yang akan timbul pada diri perempuan ketika membaca tulisan Soe Hok Gie diatas, yakni merasa tersinggung atau termotivasi. Ya, tersinggung bila mereka termasuk dalam kategori perempuan yang suka memanjakan diri dengan selalu memperhatikan penampilannya, terutama baju dan kecantikan tapi tetap dianggap lebih rendah dari laki-laki. Dan termotivasi bila mereka sudah mencapai kesadaran untuk tidak berada di bawah laki-laki, lalu bangkit keluar dari urusan baju dan kecantikan.
Tentu Soe Hok Gie melalui ucapannya tersebut berusaha memotivasi perempuan untuk keluar dari urusan domestik dan berharap mereka mau mencoba dunia diluar baju dan kecantikan. Baginya, perempuan harus mulai terjun ke dunia perjuangan kemanusiaan dalam berbagai bidang bersama para lelaki. Ia tidak ingin perempuan berakhir dengan dilempar ke dapur saat ia sudah menikah. Soe Hok Gie sadar betul tentang sejarah perempuan yang banyak tertindas, dan ia merasa perempuan masih akan terus tertindas jika tidak ada kemauan dalam diri mereka untuk keluar dari ketertindasan itu.
Sejarah dunia memperlihatkan bahwa perempuan selalu mendapat perlakuan diskriminasi, baik dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka maupun hak dalam memperoleh akses yang sama seperti kaum laki-laki. Tidak hanya itu saja, tubuh perempuan juga menjadi korban eksploitasi demi kepuasan nafsu belaka. Sejarah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk mau merubah dan memperbaikinya. Memperbaiki tidak hanya dari segi peraturan hukum positifnya saja, akan tetapi juga adanya dukungan dan peran dari segala pihak, terutama kesadaran dari perempuan itu sendiri. Sehingga keburukan masa lalu tentang perempuan tidak terulang lagi pada era selanjutnya.
KOPRI dan Kesadaran Perempuan
KOPRI (Korps PMII Putri) sebagai sebuah badan semi otonom Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berfungsi sebagai wadah kader putri mempunyai andil yang cukup besar untuk mengembangkan pemikiran dan kesadaran para perempuan PMII untuk turut berperan aktif dalam dunia pergerakan. Bagi para perempuan pergerakan, kesadaran untuk mau keluar dari urusan baju dan kecantikan memang sepatutnya dimiliki. Karena berangkat dari kesadaran inilah peran perempuan akan dapat dirasakan secara nyata ikut mewarnai dinamika pergerakan mahasiswa. Melalui kesadaran bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam mengakses berbagai bidang yang kita inginkan, akan menguatkan gerak organisasi yang kita ikuti.
Selama ini, KOPRI selalu menjaga fungsinya untuk menumbuhkan kesadaran gender dalam diri para perempuan PMII. Kesadaran gender memang menjadi dasar bagi para perempuan untuk mau bergerak keluar dari zona nyaman domestik. Sayangnya penanaman kesadaran yang diterima akhirnya sekedar menjadi pengetahuan bagi sebagian kader perempuan. Tak banyak setelah itu perempuan yang mau keluar dari zona nyaman mereka dan aktif bergerak sebagaimana para lelaki. Penulis menilai ini sebagai sebuah kemandulan. Ya, memberikan kesadaran gender tapi tak mau bergerak sama seperti menanam tapi tak berbuah. Seolah sia-sia saja.
Bagi penulis, KOPRI harus melakukan inovasi untuk mengatasi permasalahan stagnansi gerakan perempuan ini. Selama ini, penulis melihat KOPRI dalam kinerjanya hanya memfokuskan pada pemahaman mengenai gender dan advokasi. Hal ini membuat diri kita berpikir bahwa wilayah kita ya di sektor perempuan dan permasalahannya. Padahal proses kader putri dalam mengembangkan perannya seharusnya disesuaikan dengan semangat zaman yang menuntut bahwa perempuan tidak melulu mengurus dunianya sendiri. Maka peran KOPRI dalam menumbuhkan kesadaran perempuan seharusnya tidak sekedar menanamkan bahwa gender adalah peran dan kelamin adalah seks, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk bergerak.
Fungsi KOPRI sebagai Wadah Gerakan
Sebagai badan semi otonom yang menjadi wadah gerakan para kader perempuan PMII, KOPRI harus selalu membaca dinamika perkembangan kebutuhan kader. Maka ketika dirasa PMII belum cukup mampu mendistribusikan kader putrinya dalam bidang politik dan penelitian misalnya, maka tugas KOPRI menyiapkan kader untuk siap mengisi bidang-bidang tersebut. Membuat pelatihan atau workshop yang benar-benar mampu menjadi wadah untuk mengasah kecakapan mereka.
Selain itu, KOPRI juga harus memiliki indikator yang jelas untuk menilai keberhasilannya dalam menjalankan amanah organisasi. Indikator ini ditetapkan sebagai bentuk komitmen KOPRI dalam mengembangkan kualitas perempuan. Misalnya saja, perempuan harus membaca beberapa buku wajib dan harus meresensinya. Atau menulis tentang analisis kritisnya dalam membaca situasi kemasyarakatan dan kebangsaan. Atau harus bisa berorasi tentang berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan. Indikator-indikator ini akan menjadi ukuran yang jelas dan sistematis untuk meningkatkan kualitas intelektualitas kader perempuan. Indikator ini juga bisa menjadi acuan bagi KOPRI untuk membuat program-program yang terarah dan jelas tujuannya.
Selain itu, monitoring terhadap kader yang telah mendapatkan pelatihan atau workshop juga penting. Apakah terjadi perkembangan atau tidak terhadap sikap dan arah gerakan kader yang mengikuti proses sejak penanaman kesadaran dan peningkatan kualitas diri. Dan juga mampu merumuskan gagasan yang solutif untuk mengatasi kepasifan perempuan tersebut.

Membesarkan Nama KOPRI
Jika KOPRI sudah memiliki visi dan komitmen yang kuat untuk mengembangkan potensi kader maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat jaringan seluas mungkin. Jaringan atau link bisa melalui senior yang telah banyak tersebar di berbagai bidang, atau membuat jaringan baru ke lembaga atau instansi terkait yang dibutuhkan. Dengan memiliki jaringan yang kuat, KOPRI tidak hanya akan bisa memanfaatkannya untuk menambah pengetahuan kader, tapi juga bisa menjadi wadah distribusi kader. Bukankah kader akan lebih termotivasi untuk terus berproses jika masa depan mereka dapat terjamin melalui peran KOPRI?
Selama ini, penulis belum pernah melihat keterlibatan KOPRI dalam berbagai aktivitas sosial yang bersifat aliansi atau kerjasama jaringan. Jika KOPRI ingin memperjelas fungsinya, maka KOPRI harus mulai menampakkan namanya di mata publik. Masyarakat harus mengenal KOPRI yang notabene merupakan wadah pergerakan kaum perempuan dan memiliki fungsi advokasi. Jika tidak maka selamanya nama KOPRI akan tenggelam dan hanya dikenal sebagai organisasi penyelenggara kegiatan saja. KOPRI harus bisa menjadi organisasi yang dipercaya masyarakat sebagai penyambung kepentingan mereka, terutama bagi permasalahan seputar keperempuanan.
Untuk dapat menggerakkan KOPRI sebagaimana dimaksud penulis maka untuk menjadi pengurus KOPRI, calon pengurus juga harus memiliki standar tertentu agar mendapatkan anggota pengurus yang kompeten yang mau membesarkan nama KOPRI. Jika kita ingin meningkatkan kualitas kader maka kualitas internal kita harus terlebih dahulu diperbaiki. Pengurus harus mulai menata niat dan komitmen tinggi untuk menjaga nama besar PMII melalui KOPRI.
Harapan penulis, KOPRI tidak sekedar mengadakan kegiatan seremonial peringatan hari besar saja, akan tetapi KOPRI mempunyai pengaruh yang besar dalam mengembangkan potensi kader perempuan. KOPRI juga harus mau memperlebar kajiannya, tidak hanya dari dunia perempuan dan permasalahannya, tapi juga dunia diluar itu. Sehingga KOPRI semakin jaya.
Salam Pergerakan..!!!

*Tulisan ini dibuat oleh si penulis  sewaktu menjabat sebagai pengurus Dept. Kajian dan Wacana Rayon Ushuluddin 2016

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang Rilis Aplikasi Di Palystore

Jum Mar 2 , 2018
PMII Komisariat Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang merilis aplikasi pertamanya di google play store pada Jumat, 2 Februari 2018. Keterangan dari M Fatahuddin Hidayatullah selaku pembuat aplikasi tersebut, aplikasi ini bertujuan untuk memusatkan segala informasi dari Komisariat. Selain itu informasi terkait Rayon-Rayon berjumlah 8 di UIN Walisongo dapat diakses melalui […]