Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Dalam Menstimulus Radikalisme di Kampus


Oleh : M Waliyuddin

Dunia perguruan tinggi menjadi objek jalan mulus untuk dimasuki gerakan islam. Banyaknya pemikiran islam yang saat ini eksis memungkinkan para warga kampus memilih dalam kajiannya. Hal ini menjadi kajian penulis tentang pemikiran gerakan islam, yakni jikalau kata Gusdur yaitu gerakan Islam transnasional. Dimana mahasiswa yang terkenal sebagai idealismenya menjadi hal mendasar atas pemahaman terhadap pemikiran radikal. Beberapa kampus di indonesia dalam penelitian Setara Institue telah melansir temuan keagamaan tentang wacana yang berkembang. Gerakan ini di kembangkan oleh gerakan tarbiyah dan eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) disebut mendominasi.

Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda berkemungkinan untuk mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz (2005) sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikro-sosiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti itulah yang menyebabkan mereka sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme.

Sementara itu, kelompok teroris menyadari problem psikologis generasi muda. Kelompok teroris memang mengincar mereka yang selalu merasa tidak puas, mudah marah dan frustasi baik terhadap kondisi sosial maupun pemerintahan. Mereka juga telah menyediakan apa yang mereka butuhkan terkait ajaran pembenaran, solusi dan strategi meraih perubahan, dan rasa kepemilikan. Kelompok teroris juga menyediakan lingkungan, fasilitas dan perlengkapan bagi remaja yang menginginkan kegagahan dan melancarkan agenda kekerasannya.

Setara institute dilansir dari kompas.com melakukan riset pada bulan febuary-april 2019 di 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Meliputi; Universitas Indonesia (UI, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institute Teknologi Bandung (ITB), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Institue Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan tiga kampus lainnya.
Dalam risetnya mereka mewacanakan keagamaan untuk mendoktrin mahasiswa tersebut.

Pertama tentang propaganda bahwa keselamatan hidup, baik pribadi maupun bangsa, hanya bisa diraih lewat ketaatan terhadap jalan islam. Jalan yang dimaksud adalah Al-Quran dan Hadist.

Kedua, propaganda bahwa islam sedang dalam ancaman musuh-musuhnya, musuh yang dimaksud ialah kalangan non muslim itu sendiri, seperti Kristen, Zionisme, Imperalisme barat, Kapitalisme, serta kaum muslim sekuler dan liberal.

Ketiga ajakan untuk melakukan perang pemikiran (Ghazw Al-fkir) dalam rangka melawan berbagai ancaman tersebut demi kejayaan islam.

Secara metode gerakan mereka sudah menguasai lingkungan kampus, kususnya kampus dengan basis islam yang minim atau belum mengetahui betul seluk beluk islam secara kaffah. Mulai dari organisasi intra kampus, masjid kampus, mushala kecil fakultas hingga asrama mahasiswa. Gerakan mereka sudah berjalan cukup lama, tepatnya sejak awal 1980 dekade.

Pemahaman Moderasi Beragama

Melihat gerakan mereka begitu terstruktur,sistematis,dan masif pentingnya penangkal gerakan teersebut melalui pemahaman yang begitu aktif juga sekalipun. Melalui birokrasi kampus mungkin. Masa dimana mahasiswa baru masuk ke lingkungan kampus. Mereka otomatis pemahaman terhadap keIslaman yang mendasar begitu kurang, perlunya kampus memberikan pemahaman moderasi beragama ketika awal mereka masuk di lingkungan kampus.

Keragamaan di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa. Dasar negara inilah yang mempersatukan keberagamannya, termasuk keberagaman dalam memeluk agama dan dalam mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Pancasila menjadi ideologi utama dalam memahamkan hal tersebut. Pemahaman binneka tunggal ika dalam hal lain tak dikesampingkan. Para pemuka agama meneguhkan kembali komitmen mereka merawat nilai-nilai kebangsaan dengan kekuatan kerohanian bagi penganutnya. Moderasi agama diperlukan untuk menangkal paham-paham radikalisme yang berbalut ajaran agama.

Maka dari itu pentingnya pemahaman moderasi beragama dalam dunia pendidikan tinggi. Langkah awal untuk menginisiasi hal ini melalui penataan dan pembinaan organisasi kemahasiswaan (ORMAWA) yang diorientasikan pada penguatan moderasi, dan pelbagai support regulasi dan fasilitasi bagi tumbuhnya pemahaman dan kultur budaya moderat dan damai.

Perlunya sebuah kelembagaan kampus untuk memberikan pemahaman yang moderat. Terkhusus objek bagi mahasiswa baru yang mana notabenya masih ikut-ikutan dan ingin belajar hal baru. Maka pemahaman moderasi beragama dalam hal ini dapat menstimulus gerakan radikal yang mengarah pada terorisme terhadap para pemuda di pendidikan tinggi.
Perlunya mewaspadai sejak dini untuk mencegah di waktu depan. Terutama media onlne yang saat ini menjadi subjek yang digunakan untuk menyebarluaskannya. Perlunya media dijadikan sebuah sarana yan positif untuk menstimulusnya.

Banyak fakta yang telah terpapar jelas dibanyak golongan pemuda terjangkut virus radikalisme. Beberapa contoh yang bisa disebutkan adalah meninggal di Irak saat bergabung dengan ISIS. Wildan merupakan santri di Pondok Al Islam di Tenggulun, Lamongan, yang dikelola oleh keluarga Amrozi terpidana bom Bali 2002. Dalam usianya yang masih belia pemuda asal Lamongan ini memilih mengkahiri hidupnya di tanah penuh konflik. Tidak hanya dari kalangan laki-laki, Asyahnaz Yasmin (25 tahun), termasuk satu dari 16 warga negara Indonesia yang ditangkap pemerintah Turki. Gadis asal Bandung ini setelah dipulangkan ke Indonesia, ia ditolak keluarganya dan bupati setempat. Kemensos RI pun menampungnya kembali di rumah perlindungan dan trauma centre. Dan tentu saja masih banyak cerita lainnya.

Penanggulangan Paham Radikal

Dari beberapa fakta tersebut jelas memperlihatkan dimana suatu hal pendidikan yang salah. bagaimana kerentanan kalangan generasi muda dari keterpengaruhan ajaran sekaligus ajakan yang disebarkan oleh kelompok radika baik secara langsung maupun melalui media online yang menjadi sangat populer akhir-akhir ini.

Karena itulah, upaya membentengi generasi muda 6 dari keterpengaruhan ajaran dan ajakan kekerasan menjadi tugas bersama. Ada tiga institusi sosial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda.

Pertama Pendidikan, melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.

Kedua, Keluarga, melalui peran orang tua dalam menanamkan cinta dan kasih sayang kepada generasi muda dan menjadikan keluarga sebagai unit konsultasi dan diskusi.

Ketiga, komunitas: melalui peran tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang kondusif bagi terciptanya budaya perdamaian di kalangan generasi muda.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh kalangan generasi muda, dalam rangka menangkal pengaruh paham dan ajaran radikal yakni 1) tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI, 2) perkaya wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran, 3) bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris baik di lingkungan masyarakat maupun dunia maya, 4) membangun jejaring dengan komunitas damai baik offline maupun online untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

*Penulis adalah Kader PMII UIN Walisongo sebagai Anggota Lembaga Pers dan wacana (LPW)*

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *