Penghianatan Kaum Agamawan

sumber ilustrasi : kbknews.id
Oleh : Hasan Ainul Yaqin
Istilah penghianatan kaum agamawan sebenarnya sudah banyak ditulis oleh para pemikir barat ataupun pemikir Islam sendiri, seperti Julian Benda pemikir asal Francis dalam bukunya yang berjudul Penghianatan Kaum Cendikiawan ataupun Ali Syariati dalam buku Ideologi Kaum Intelektual.
Kedua pemikir besar tersebut sebetulnya intinya sama, keduanya sama-sama mengkritisi sifat dan prilaku kaum intelektual, cendikiawan, ilmuwan yang telah melenceng dari tugas dan peranya sebagai orang yang mengetahui. Pengetahuan yang dimiliki mereka semata-mata hanya sebagai alat penindas dan mendukung status quo untuk terus berdiri tegak di menara gading.
Berangkat dari kegelisahan yang sama, lalu penulis mencoba menaruh secara spesifik dalam konteks yang lebih sempit dalam ranah penghianatan para kaum agamawan. Kaum agamawan dalam konteks dahulu hingg saat ini telah banyak terseret pada lubang yang mendukung kekusaan untuk terus bercokol menggepakkan sayapnya dalam menindas rakyat.
Terseretnya kaum agamawan pada lubang kekuasaan dijelaskan oleh Ali Syariati dalam buku Ideologi Kaum Intelektual, dalam Bahasa Ali Syariati, beliau menamai kaum rohaniyun atau kaum agamawan dilambangkan dengan nama Bal’am, sosok tercela yang dijelaskan dalam Al quran. Mereka diibaratkan Bal’am yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan meninabobokkan rakyat.
Pada setiap zaman dan waktu kata Ali Syariati, tipe 4 manusia selain Bal’am akan terus bercokol, keempat manusia ini yang menghalangi negara dan bangsanya untuk melakukan perubahan pada arah lebih baik, seperti tipe Firauan, penguasa yang korup. Hamam, kelompok teknorat yang menunjang tirani dengan meluncurkan ilmu, dan tipe Qorun, kaum kapitalis yang rakus mengisap seluruh kekayaan massa. Sepanjang zaman mereka akan ada dan berlipat ganda menjadi pendukung status quo dan penantang perubahan sosial.
Prostitusi Kaum Agamawan.
Dari kenyataan dewasa ini, posisi kaum agamawan semakin menjauh dari keberpihakanya pada rakyat jelata, bukan hanya jauh, bahkan sudah jamak diketahui mereka dengan ilmunya turut andil melakukan penindasan yang turut serta bekerja sama dengan pihak yang berkepentingan.
Artinya posisi mereka disewa untuk berbicara kebenaran dalam versi yang dipihaknya, bukan kebenaran secara umum, kebenaran universal dipelintir sedemikian rupa sehingga yang terjadi bagaimana kebenaran yang ia sampaikan dapat dibenarkan, tujuannya tidak lain, kecuali untuk kepentingan kaum agamawan sendiri dan kepentingan pihak yang dibelanya (pihak berkepentingan) lagi-lagi dari hubungan simbiosis mutualisme yang dibangun antara kaum agamawan dan pihak terkait, rakyat lah menjadi korbanya.
Posisi kaum agamawan amat mulia di dunia, kedudukan mereka di dunia lebih tinggi di antara pemeluk agama lainya. Masyarakat menjadikan kaum agamawan sebagai manusia yang ditokohkan, dengan ilmu dan kehormatanya yang dimiliki sudah sepatutnya dapat memecahkan persoalan yang dialami umatnya, dengan cara membimbing, merumuskan, dan memberi jalan keluar atas problem yang dihadapi, bukan justru meninabobokkan apalagi sampai mendukung kekuasaan yang benar-benar telah menindas umatnya.
Jika memang ini yang terjadi maka di sinilah yang penulis maksud bahwa kaum agamawan telah melakukan penghianatan, baik khianat terhadap ilmunya ataupun khianat pada ummatnya. Nama agamawan dalam Kristen dikenal Pendeta, Katolik Pastor, Budha Bikshu dan dalam Islam orang menyebutnya Ulama’. Posisi mereka dalam agama, secara struktural dan fungsionalnya berada di atas dan tentu berbeda dengan masyarakat kebanyakan.
Berdasar posisi yang amat mulia itu dan keluasan pengetahuanya, tidak heran bila dalam agama Islam khusunya, ulama acap kali selalu dijadikan rujukan oleh masyarakat untuk dimintai pendapat atas masalah yang terjadi. Tujuanya agar menemukan jalan keluar atau solusi penyelesaian atas masalah yang berkelindan. Mereka dianggap cukup mumpuni mengetahui segala persoalan yang terjadi.
Ketertindasan
Lalu pertanyaanya masalah apa yang sedang dihadapi umat muslim di Indonesia pada khususnya ? melalui pertanyaan inilah, kaum agamawan diharapkan peka pada kondisi yang diratapi umatnya. Jangan sampai kaum agamawan melakukan pembiaran-pembiaran atas masalah masyarakatnya, mengingat posisi yang amat strategis, sudah seharusnya ia tampil menjadi ujung tombak dan pembela kaum tertindas supaya masalahnya tidak sampai menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan.
Dari sini kita mengetahui, dalam konteks lebih luas, Mau tidak mau kita harus sepakat bahwa Masalah dihadapi umat Islam di Indonesia sampai saat ini yang belum kunjung terselesaikan yaitu kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, dan ketertindasan, masalah ini cenderung terabaikan.
Masalah tersebut telah meracuni kehidupan masyarakat, khusunya umat muslim. Banyak orang muslim, hidupnya sengsara, akses pendidikan belum tercukupi secara penuh, dan hidup dalam kesejahteraan jauh di ambang batas. Apabila kita sudah mengetahui masalah itu, harus segera dicari sumber dari segala masalah itu, asumsi penulis semuanya karena keberpusatan kekeyaan pada segelintir orang hingga pada akhirnya yang kaya semakin kaya dan miskin semakin sengsara.
Ketimpangan itu sungguh tampak jelas di mata kita, lalu di mana peran agama untuk menyelesaikan persoalan yang begitu akut tersebut,? Agama harus hadir dan mampu mencerahkan persoalan umatnya, biar tidak terjadi paradoks antara yang sesungguhnya dan senyatanya.
Sesungguhnya semua agama, khususnya Islam memiliki visi teologi pembebasan yang membebaskan umatnya dari belenggu derita ketertindasan, namun pada kenyatanyaa justru agama menjadi bisu seolah mandul dalam menyikapi kasus umatnya. Ada apa sebenarnya,? mengapa agama yang kita yakini begitu kental, tapi pada saat yang sama ia bungkam dalam kasus yang menyayat umatnya?
Dan ketimpangan pemahaman seperti inilah yang hendak diluruskan, agama yang telah mengakar menjadi kepercayaan setiap umatnya tidak lantas lepas tangan bila terjadi masalah yang menimpa masyarakatnya, di sinilah peran kaum agamawan menjadi penting dalam menyelesaikan persoalan umatnya. Kaum agamawan harus bersatu dan berada di pihak kaum terindas dalam melawan segala bentuk kesewenang-wenangan dan segala macam ketertindasan.
Agamawan Sebagai Nabi Sosial
Melihat masalah tersebut, seperti disampaikan Gustavo Gutierrez, bahwa kaum agamawan sebagai nabi sosial harus tanggung jawab dan hadir ketika masyarakatnya mengalami keterpurukan. Sebab, Ulama atau nama agamawan lainya di dalam suatu agama adalah wakil daripada Tuhan.
Dengan pengetahuan yang dimiliki, ulama bisa meraba-raba memahami maksud Tuhan. Tapi yang jelas agama hadir di muka bumi adalah seperti disebutkan di atas untuk membebaskan umatnya dari segala bentuk penindasan di dunia. Inilah sebenarya maksud Tuhan yang termaktub dalam teologi pembebasan.
Selain peran dari kaum agamawan, juga tempat ibadah menjadi instrument penting dalam melakukan perubahan, tempat berkumpulnya umat agama harus melakukan transformasi sebagai rumah perubahan. Jangan sampai tempat agama hanya dijadikan ruang penyembahan secara ritual semata dimana ibadah yang kerjaanya cuma sekedar menyebut nama Tuhan dan menyanjung-nyanjung namanya saja. Sebab agama hadir memang sebagai resolusi masalah, bukan sekedar membentuk norma kepatuhan.
Tradisi tersebut tentu tidak salah dilakukan, namun bukan berarti tidak melupakan hal lain yang sangat urgent yang menyangkut problem kemasyarakatan. Dalam tempat tersebut, masyarakat harus diberi pemahaman yang mengarah pada perubahan ke arah lebih baik dengan disingkronkan pada problem sosial politik di masyarakat dewasa ini.
Dengan demikian, masyarakat menjadi mengerti apa sebetulnya yang sedang mereka alami saat ini, dan masalah apa yang sedang terjadi telah berimbas pada hidupnya. Tentu kaum agamawan fungsi dan peranya tidak bisa dinafikan dalam membimbing masyarakat dalam bertransformasi. Ia harus berada di posisi terdepan, membela masyarakat dan menantang segala bentuk penindasan.
Bagaiamana itu dimulai? Di sini kita harus mengubah nalar beragama kita dan mengubah cara pandang masyarakat dalam beragama. Tancapkan di kepala kita bahwa agama hadir di muka bumi tidak lain kecuali untuk memanusiakan manusia dan membereskan persoalan yang diderita umatnya.
Pemahaman keagamaan harus ditafsirkan lebih luas, agama Islam harus mandang realitas menjadi kenyataan. Supaya agama yang kita yakini tidak menjadi candu kata Karl Marx yang hanya dijadikan kedok atau tempat bersemayamnya segala kekuasaan tapi mandul dalam menyikapi persoalan.
Sudah jamak kita ketahui, kehadiran nabi Muhammad di Mekkah ditolak oleh kafir mekkah bukan lantaran karena nabi mengajarkan sujud, rukuk, dan berdoa saja. Penolakan terhadap nabi Muhammad sebenarnya lantaran dalam ajaran yang dibawanya mengandung perlawanan dan pertentangan para pemodal Mekkah. Pada saat itu kekayaan dan alat produksi memang hanya dikuasai segelintir orang saja dalam hal ini para pemodal Mekkah. Mereka dengan segala upayanya menghadang nabi Muhammad untuk tidak menyampaikan ajaran yang dibawanya di kota mekkah tersebut.
Oleh sebab itu Islam yang dibawa nabi dengan asas keadilanya (al adalah), asas egaliter (al – musawah), dan asa kebebasan (al hurriyah) kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu mendapat halangan yang bertubi-tubi dari kaum pemodal Mekkah. Tapi nabi tidak diam, nabi terus berdakwah dan melawan hingga mampu menciptakan masyarakat yang egaliter sehingga kekayaan dan kekuasaan tidak dikuasi oleh segelintir orang saja. Inilah sebetulnya esensi diutusnya nabi di muka bumi.
Dari sini kita tahu, bahwa sebetulnya esensi agama Islam yakni membebaskan umatnya dari segela bentuk pendindasan. Agama Islam harus mengarah pada ajaran profetik yakni bagaimana agama Islam berperan membangun system dan nilai baru yang secara orientasi kehadirannya untuk kemanusiaan.
Al Ulama Warotsatul Anbiya’
Kaum agawaman atau ulama bagian dari pewaris nabi, sebagai pewaris bukan hanya mengantongi gelar keulamaan semata, tapi bagaimana kaum agamawan atau ulama harus menyampaiakan dan meneruskan perjuangan seperti yang nabi Muhammad gencarkan. Yakni melawan bersama rakyat segala bentuk penindasan. Mendukung pada kekuasaan sama halnya melenceng dari tugas keulamaan ataupun kenabiaan.
Lantas apa penyebab melencengnya kaum agamawan / cendikiawan dari tugas dan peranya? Julian Benda menjelaskan salah satu faktornya karena politik kekuasaan/ politik praktis, faktor ini yang menyeret kaum agamawan berubah menjadi hianat, yang mereka bela bukan lagi kepentingan orang banyak, tapi lebih kepada kepetingan golonganya. Dan tumbal dari kepentingan tersebut adalah rakyat. Mereka melancarkan jalan bagi kelas borjuis untuk selalu bertindak menindas, sementara pengetahuan mereka sebagai kaum intelektual semakin merosot.
Tapi penulis masih yakin banyak kaum agamawan, intelektual, cendikiawan yang secara keberadaan mereka berada di pihak rakyat jelata dan kaum terindas. Dengan besar hati, penulis sungguh benar-benar berharap, semoga saja kaum agamawan yang melenceng dari tugas dan peranya segera taubat dan meminta ampun pada Allah dan kepada ummatnya atau paling tidak, berhenti menyebarkan virus kebohongan, kepongahan, dan penghianatan kepada ulama atau agamawan lain yang masih sehat akal dan nuraninya. Semoga..!
*Pengurus LPW PMII Komisariat Walisongo 2018-2019. (Tulisan ini sebelumnya pernah diterbitkan di buletin, diterbitkan ulang dengan tujuan pengetahuan)
Daftar Pustaka
1. Ali, Asghar Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009
2. Benda, Julian. Penghianatan Kaum Cendikiawan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 1997
3. Jati, Wasisto Raharjo. AGAMA DAN POLITIK: Teologi Pembebasan sebagai Arena Profetisasi Agama . Walisongo, Volume 22, Nomor 1, Mei 2014
4. Moedjiono, Imam. Cendikiawan dan Kebebasn Akademik. Yogyakarta. JPIFIAI Jurusan Tarbiyah Volume VTahun IVAgustus1999
5. Noeh, Munawar Fuadi . Kyai Di Panggung Pemilu (Dari Kyai Khos Sampai High Cost). Jakarta: renebook. 2014
6. Syariati, Ali. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung : Mizan. 1993

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Surat Pernyataan PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang

Jum Sep 6 , 2019