Pemuka Agama Harus Bermental Kemanusiaan

oleh : Hasan Ainul Yaqin
“Seseorang sebelum menjadi guru, polisi, tentara, pilot, dokter, dan profesi lainya ia harus menjadi manusiawi terlebih dahulu sehingga ia bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama manusia” Romo YB Mangun Wijaya Dalam Buku Humanisme YBM.
Begitupun menjadi pemuka agama, pemuka agama secara moral memang bukanlah profesi yang memerlukan prasyarat tertentu agar bisa berapi-api bicara di hadapan umatnya. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang berhak menyandang sebagai pemuka agama diukur dengan kedalaman ia akan pengetahuan tentang agama.
Jika kita kembali pada pesan Romo Mangun, tentu tidak cukup menjadi pemuka agama bermodalkan pengetahuan tentang agamanya semata. Tentang kemanusiaan yang tergambar dalam pesan agama, seorang penceramah perlu memperhatikan betul. Sehingga pesan yang disampaikan betul-betul membawa manusia untuk menghargai sesama manusia lainya.
Sebab itulah menjadi manusia terlebih dahulu merupakan keharusan bagi siapun yang hendak terjun dalam segala bidang apalagi sekelas penceramah, sikap kehatian-hatian merupakan modal penting dimiliki. Mengingat dampaknya sangat besar diterima oleh pegikutnya. Sungguh sangat ironis, apabila pemuka agama menjadi provokator yang melampaui batas di luar kemanusiaan. Ia bukan hanya berdosa kepada ummat manusia, tetapi telah menodai dzat Tuhan sebagai pencipta manusia itu sendiri.
Apalagi dalam Islam, agama yang dibawa nabi Muhammad ini sangat jeli mengatur pentingnya menghargai martabat manusia. Membunuh manusia satu sama halnya membunuh manusia seribu. Sebagaimana disampaikan Abdurrahman Wahid, Islam hadir adalah untuk menusia bukan untuk Tuhan.
Menghargai sesama manusia terlepas dari golongan, etnis, dan agama manapun merupakan keharusan yang perlu dilakukan oleh setiap umat agama. Tapi sayang keharusan ini selalu diwarnai berbagai macam hambatan sehingga ikatan persaudaraan sesama warga negara menjadi renggang.
Fanatisme berlebihan merupakan salah satu penyebab seseorang hanya menghormati mereka yang satu agama ataupun satu golongan. Sementara di luar golonganya dipandangnya sinis dan teramat mudah menuduh negatif.
Indonesia yang beragam suku, agama, dan etnisnya tentu sangat rawan terjadi sesuatu yang dapat menggergaji nilai kemanusiaan yang dapat memecah belah persatuan, jika dalam diri kita masih belum tertanam kesadaran menganggap orang lain adalah manusia yang juga perlu dihargai kedudukanya.
Kasus kekerasan pada masyarakat Papua bukan perkara baru terjadi di negeri ini. Tindakan rasis dari golongan tertentu akhir-akhir ini baik yang dilakukan terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Malang ataupun di Papua sendiri adalah sekelumit persoalan dari sekian kasus kemanusiaan yang sangat menyayat hati.
Bersamaan dengan kasus Papua, soal Video Ustad Abdul Somad (UAS) yang belakangan viral, secara tidak langsung ucapanya telah menodai keyakinan umat agama lain. Meskipun dakwah disampaikan di tempat yang jamaahnya secara keseluruhan umat muslim namun pesan tersebut tidak layak disampaikan jika terkandung muatan dakwah yang menodai keyakinan agama lain. Sama saja menanamkan sikap intoleran kepada jamaahnya.
Menghargai manusia dan keyakinan umat agama yang berbeda adalah pesan penting yang harus diperhatikan khususnya bagi pemuka agama. Pemuka agama dianggap mempunyai peran setral mendidik masyarakatnya. Dan masyarakat sangat tergantung pada apa yang disampaikan oleh tokoh yang dijadikan panutan.
Karena Agama hadir tidak saja membimbing umatnya untuk memeluk dan memahami agamanya sendiri. Namun lebih dari itu, agama mengajak umatnya menuju kebaikan seluruh umat manusia. Maka dari itu, Pemuka agama harus menjadi manusiawi terlebih dahulu kata Romo Mangun sebelum berdakwah tentang agama. Sehingga keputusan yang diambil dan pesan yang disampaikan sangat menghargai kemanusiaan.
*Pengurus LPW PMII Komisariat Walisongo 2018-2109

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Penghianatan Kaum Agamawan

Sen Agu 26 , 2019
sumber ilustrasi : kbknews.id Oleh : Hasan Ainul Yaqin Istilah penghianatan kaum agamawan sebenarnya sudah banyak ditulis oleh para pemikir barat ataupun pemikir Islam sendiri, seperti Julian Benda pemikir asal Francis dalam bukunya yang berjudul Penghianatan Kaum Cendikiawan ataupun Ali Syariati dalam buku Ideologi Kaum Intelektual. Kedua pemikir besar tersebut […]