Pecundang

Oleh: Riska N.
Aku berjalan dengan gugup ke arah kampusku. Mukaku masih sangat kucel, kumal, sekaligus dekil. Maklumlah, aku belum sempat mandi. Temanku si Reza pagi sekali meneleponku untuk segera ke kampus. Ada hal penting katanya. Aku sempat tak mempercayainya, sebab ia sering sekali mempermainkanku.
“bro, cepatlah. Aku sudah menunggumu di depan gerbang. Kenapa kau sangat lambat sekali.”
Bedebah. Mengapa justru dia yang marah-marah kepadaku. Bukankah motorku sedang dipakainya sejak tadi malam. Sudah kupaksa dia untuk menjemput ke kos, namun seribu alasan ia menolaknya. Sungguh ini pagi yang sangat menyebalkan. Jika dia bukan sahabatku sejak SMA, sudah aku seret dia ke sungai dan menganyutkannya.
Benar sekali, sesampainya di depan gerbang, aku mendapati seorang laki-laki sedang jongkok di depan motor. Ya itu Reza. Aku segera berlari ke arahnya.
“kau kenapa menyembah motorku?” ucapku ketika baru saja sampai di depannya
“Rio!!!” panggilnya. Seketika ia berdiri ketika mendengar suaraku.
Aku merasa ada yang aneh dengan orang ini. Kenapa ia malah cengengesan di depanku. “ kau sepagi ini sudah kena tilang polisi?” jawabku menebak.
“aku kehabisan bensin pagi ini. Dan ban motormu bocor.” Reza cengengesan tanpa merasa bersalah.
“jadi?” aku menjawab pendek.
“aku mau mengajakmu sarapan.” Jawabnya
Aku langsung tersenyum girang. Aku menganggap ini rezeki atas bagun pagi yang tak sempat dipatok ayam.
“tapi kan motormu tak bisa dikendarai. Lalu kita mau ketempat makan pakai apa?”
***
Sungguh pagi yang benar-benar menjengkelkan. Tipu daya macam apa ini. Aku sudah hafal betul tingkah lakunya yang licik. Dia secara tidak langsung menyuruhku untuk mendorong bersama motorku ke bengkel. Dan sudah jelas mencari bengkel sepagi ini begitu susah.
“maafkan aku ya yo. Tiap kejadian sialku, aku selalu menyeretmu.” Bisik reza ketika kita telah sampai di dalam kelas.
Ucapan macam apa ini. aku sangat benci ketika Reza mengucapkan maaf karena ini dan itu. sebab Reza bagiku telah kuanggap keluargaku sendiri. Secara tidak langsung, setiap kesalahnanya akan segara ku maafkan.
Aku dengan segera memarahinya dengan lirih dan mengatakan bahwa, “kau memang pembawa sial.”
Selepas mata kuliah pertama, Reza terlihat buru-buru keluar kelas. Bahkan dia melupakanku. ia mengatakan ada urusan penting dan itu hanya sebentar, ditambah lagi aku tak boleh ikut. Namun dengan sedikit memaksa, aku meminta tetap ikut. Bagaimana dia melupakanku, dan meninggalkanku.
“ayo aku antar dengan motorku.” Ucapku. Tanpa pikir panjang Reza dengan semangat menyeretku ke parkiran.
Aku bingung ketika Reza memarkirkan motor diparkiran sebuah swalayan. Anak ini akan belanja? Bukankah ini bukan tanggal muda? Bahkan ketika tanggal muda, ia jarang sekali belanja. Ia selalu merampok makananku di kos. Pikirku dalam hati. Entahlah, aku mengikuti langkahnya. Lalu berhenti di sebuah ruangan yang diberi nama “Gudang” di pintunya.
“Apa yang bisa ku angkat pak?” Tanya Reza ke seorang lelaki. Sepertinya dia pengurus gudang swalayan ini.
Aku terkejut ketika Reza mengatakan itu. dia mengambil kerja part time lagi? Sungguh gila anak ini. Apakah dia tidak merasakan lelah dengan bekerja di warung makan tiap malam? Dengan cepat Aku memaksa untuk membantu anak menyebalkan ini.
“tak usah yo. Kau duduk saja di pojok sana. Atau jangan-jangan kau mau mengambil gaji bagianku ya?” ucapnya ketika kami berjalan menuju truk besar pengangkut barang.
Aku dengan cepat menimpuknya dengan sepatu yang kulepas dengan segera. Kau selalu bisa bercanda Za, bahkan disaat susah seperti ini.
Pekerjaan kami selesai sampai siang. Lantas selepas itu, bergegas kembali kekampus untuk kelas lagi. Sungguh ini benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Aku lantas melihat Reza yang sedang berkutat dengan buku dan pulpennya, ia masih tetap telihat ceria dan semangat kuliah.
***
Sorenya kami pulang ke kos. Aku langsung merebahkan badanku diatas kasur tipis di kamar. Sedangkan aku mendapati si Reza sedang bersiap-siap. Sepertinya ia akan pergi lagi.
“kau mau kemana?” tanyaku sembari memainkan handpone ku.
“aku mau ke warung penyet. Biasa. Bermain dengan ayam dan pelanggan. Kali ini kau tak usah bersikeras ikut lagi.” Ucapnya sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Reza tiba-tiba kembali ke kamar lagi lantas mengambil handuknya yang tercantel di paku tembok.
“ohiya Yo. Besok nantikan kabar bahagiaku ya. akan ku tlaktir kau makan. Sungguh, kali ini aku tak bohong.” Ucapnya yang membuatku sedikit merasa tak lelah.
Pagi sekali, pukul 04.30 ketika aku tak sengaja bangun. Aku mendapati Reza yang baru saja masuk ke kamar. Sepetinya dia baru saja pulang sejak kemarin sore.
“kau baru pulang Za?” aku melangkahkan kakiku mencari handuk, namun mataku masih setengah tertutup.
Ia hanya menjawab dengan gumaman lirih. Bukankah warung makan tempat ia bekerja tutup pukul 22.00?
“aku bekerja lagi di tempat angkringan Yo. Tutup sampai pagi dan lumayan juga bayarannya.” Ucapnya, yang membuat mataku langsung terbuka lebar.
Kita berdua bergegas menuju kampus. Dengan keadaan masih ngantuk aku membawa motorku.
“kau tak ngantuk Za? Dari kemarin kau bahkan belum istirahat. Bagaimana bisa tenagamu kau habiskan tanpa kau isi kembali. Kau akan sakit.” Ucapku di atas motor. Aku meninggikan suaraku, karena melawan angin yang kencang.
Lagi-lagi, Reza hanya membalas dengan cengengesannya yang khas.
Lantas beberapa menit kemudian ia mulai berbicara, “kau tau kan Yo. Aku dulu tak boleh kuliah oleh ibuku. Bahkan ketika aku mengatakan aku akan membayar uang kuliahku sendiri, ibuku tetap menolak dengan alasan lebih baik uang hasil kerjaku untuk membiayai adikku. Kau tahu kan Yo, ayahku sudah tidak ada. Aku sempat berfikir untuk berhrnti, tapi sepertinya itu sungguh pecundang. Berhenti tanpa berusaha terlebih dahulu.”
Kini aku yang diam
Siangnya ketika aku akan menagih atas janji tlaktir dari Reza. Ia tiba-tiba menghampiriku dengan wajah yang sangat tak enak dipandang.
“maafkan aku Yo. Kau boleh mengatakan aku berbohong lagi.” Ia menundukan kepalanya.
hari ini kabar bahagia sedang tertunda. aku gagal lolos beasiswa bidikmisi. Dan aku….” ia seprtinya meneteskan air matanya. Dan aku dengan cepat merangkul pundaknya.
“ah kau ini. sudah kuduga kau berbohong lagi kan. sudah sudah, kali ini aku yang mentlaktirmu makan. Tenanglah. Tapi.. ini aku anggap kau hutang denganku.” Aku segera menyeretnya dan berpura-pura tak melihatnya meneteskan air mata.
Sore harinya aku kembali tiduran di kamar sembari menunggu Reza pulang dari tempat kerjanya. Aku berfikir keras, bagaimana caranya agar Reza ini tak pernah punya pikiran bahwa akan berhenti kuliah. Ah aku sungguh bingung. Bahkan oatkku seperti berhenti bekerja ketika memikirkan ini.
Tiba-tiba Reza masuk ke kamar.
“Kau tak usah ikut kepikiran masalahku Yo. Dengan kau yang selalu ada ketika sialku. Itu sudah teramat cukup. Dan tenang, aku sudah mendaftar ikut banding pembayaran biaya kuliah, semoga saja bisa turun, dan aku tetap melanjutkan kuliahku.”
Aku sedikit lega mendengar kabar itu. ternyata Reza sendiri sudah punya jalan keluar untuk masalahnya.
Satu bulan kemudian, ketika mendekati penghujung semester aku melihat Reza semakin sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia jarang pulang ke kos. Jujur aku merindukannya. Ah aku sudah gila kah?
“pembayaran kuliah sebentar lagi Yo. Aku harus kerja lebih keras lagi.” Jawabnya singkat ketika aku telepon.
Pagi sekali, ketika UAS telah selesai semua dan libur panjang telah menanti. Reza pulang ke kos dengan wajah kuyu. Sudah pasti dia jarang istirahat. Aku yang sedang memberesi sebagian barangku yang akan ku bawa ke kampung halaman seketika berhenti.
Lantas ketika Reza justru ikut mebereskan barangnya, aku kembali berkutat dengan pekerjaanku lagi
Ada yang aneh, ketika aku melihat banyak sekali barang yang dikemasi oleh Reza. Ia memasukan semua bajunya, bahkan barang-barang tak pentingpun ikut diberesinya. Aku lantas kembali memberhentikan pekerjaanku.
“kau jangan rindukan aku ya Yo.” Kalimatnya ini benar-benar membuatku berhenti dengan pekerjaanku.
“banding pembayaran kuliahku gagal juga. Dan benar katamu, aku ini memang sial.”
Aku spontan mendekatinya, “maksudmu kau berhenti disini? Kau yang mengatakan sendiri bukan jika berhenti di waktu dekat ini sama saja dengan pecundang. Dan benar, kau ini pecundang Za.” Ucapku sedikit marah.
Aku membujuknya dengan ribuan cara. Tetap saja, kalimat yang ia lontarkan selalu sama.
“aku harus berhenti kuliah demi keluargaku.” Ah aku benci keadaan ini. Bahkan ketika aku berdoa semoga keadaan lekas membaik, justru ini semakin buruk.
“Akan ku bantu kau bekerja Za. Tapi kau tetap harus kuliah.”
“biaya kuliahku terlalu mahal Yo. Dan itu tak sebanding dengan keadaan keluargaku. Seberapa keras aku bekerja, ia akan sia-sia ketika malah keluargaku di rumah justru terlantar.” Aku diam.
Lantas memeluk sahabatku ini dengan erat. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Sekuat aku berfikir, namun ketika aku diam saja, tak akan merubah apapun.
Maafkan aku yang telat meresponmu Za. Semoga nasibmu lekas membaik.
*Penulis merupakan Kader angkatan 2018 PMII Rayon Syari’ah yang aktif juga di Lembaga Pers Mahasiswa Justisia.*
(sumber: pmiirasya.com)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pudarnya Kesadaran Rasional

Sel Jan 15 , 2019
(Oleh: M. Waliyudin) Era digitalisasi saat ini, arus informasi di media sosial beransur update begitu cepat. Namun dengan kelimpahruahan informasi, ternyata tak berbanding lurus dengan kedewasaan masyarakat dalam bertindak atau mengambil keputusan. Mereka termakan oleh keyakinannya tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Apakah ini yang dinamakan era post-kebenaran? Ketika ada fakta […]