Panen Padi di Tengah Pandemi

sumber: internet

Oleh : Azka Wildani (Kader PMII Rayon Dakwah)

Sejak adanya pernyataan resmi dari World Health Organization (WHO) bahwa Corona Virus Desease (Covid-19) atau virus corona sebagai pandemi global dan pengumuman resmi yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto pada Senin tanggal 2 Maret 2020 bahwa covid-19 sudah masuk ke Indonesia sehingga siap atau tidak Indonesia harus menghadapi, mencegah, dan melawan penyebaran Covid-19 tersebut. Maka dari itu pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan kebijakan, salah satunya Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu melaksanakan tugas kedinasan di rumah/tempat tinggalnya masing-masing untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus corona di masyarakat.

Berbeda dengan masyarakat desa, mereka masih tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, tidak seperti masyarakat daerah Ibukota yang terhalang berbagai aturan dan marak-maraknya virus disekitar mereka, masyarakat desa bukan karena tidak peduli dengan adanya pandemi seperti ini tetapi memang banyak faktor yang menyebabkan masyarakat tetap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.

Warga Desa Waluyo, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, tempat penulis tingga; belum ada satupun warga yang positif covid 19. Pasien Dalam Perawatan (PDP) pun belum ada sekali, hanya Orang Dalam Pantauan (ODP) dengan harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Adanya slogan “bekerja dari rumah”, penulis merasa hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat pedesaan, khususnya desa penulis tinggal. Masyarakat Desa Waluyo, Buluspesantren, Kebumen mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Apalagi bulan-bulan ini adalah masa panen atau biasa disebut wayahe panen. Bisa dibayangkan, wayahe panen harus bekerja dari rumah?

Petani bekerja di lapangan secara langsung,  tidak berhadapan dengan laptop seperti ASN, pegawai kantoran dan sebagainya. Bekerja dari rumah bisa dikatakan tidak mungkin bagi kaum tani. Petani harus rajin untuk mengurus tanamannya mulai dari memanen padi, gepyok, menjemur padi sampai harus mengemas kembali dan membawa pulang hasil tanamannya ketika hujan dan harus menjemurnya kembali sampai benar-benar kering hingga menjadi sekumpulan gabah yang siap dijual menjadi bahan pangan.

Apalagi dalam situasi panen saat ini bahwasanya hasil panen yang diperoleh bisa dikatakan buruk, karena banyak hama wereng yang melanda di sekitar lahan petani. Bisa dibayangkan jika adanya situasi pandemi seperti ini ditambahkan dengan adanya hama wereng dan masyarakat harus menetap dirumah? Sangat tidak mungkin, lantas bagaimana mereka mencukupi kehidupan sehari-hari?

Petani tetap melakukan aktivitas seperti biasanya dengan adanya pandemi seperti ini penulis rasa tidak ada salahnya jika kita melihat sudut pandang kemanusiaan, dengan petani melakukan aktivitas seperti biasanya, walaupun adanya hama wereng, setidaknya masih ada beberapa hasil panen untuk dijual dan digunakan mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Selain itu, dengan penjualan hasil  panen oleh petani dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat supaya dapat memperoleh persediaan beras untuk dijadikan bahan konsumsi sehari-hari.

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SERBA SUSAH KARENA ULAH

Jum Mei 1 , 2020
Oleh : Lutfi Abdul Hadi (Kader PMII Rayon Dakwah) Pandemi  covid-19 muncul secara perlahan tetapi signifikan. Banyak yang menganggap sebelah mata wabah ini ketika sedang melanda negeri “ Tirai Bambu “ tersebut. Akan tetapi, lambat laun wabah ini pun bersafari dengan cepatnya hadir di beberapa negara di belahan bumi lain. […]