Nasionalisme dan Pluralisme K.H Hasyim Asy’ari

Doc. Internet

Oleh : Aji Yoga Anindita

Sudah tidak asing lagi khusunya bagi warga NU, siapa sosok K.H Hasyim Asy’ari. Salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan Pahlawan Nasional itu lahir pada hari Selasa Kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H/ 14 Februari 1817 M di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Lahir dari pasangan Kyai Asy’ari, seorang pemuka agama asal Demak, Jawa Tengah dan Ny. Halimah yang masih mempunyai keturunan dengan Raden Brawijaya VI yang dikenal dengan nama Lembu Peteng, ayah dari Jaka Tingkir (Raja Pajang).

Dikisahkan bahwa K.H Hasyim Asy’ari berada di dalam kandungan ibundanya selama 14 bulan. Yang mana dalam kepercayaan masyarakat jawa diyakini akan menjadi anak yang cerdas. Nyai Halimah juga pernah bermimpi bulan purnama jatuh dari langit dan menimpa perutnya yang sedang mengandung K.H Hasyim Asy’ari.

Benar atau tidaknya kisah tersebut, masa kecil Mohammad Hasyim (nama kecilnya) terkenal akan sifat kepemimpinannya. Di antara teman-teman seusianya, ia sering kali menjadi penengah dalam setiap permainan dan tegas menegur temannya yang melanggar aturan saat bermain.

Hasyim Asy’ari kecil sudah terbiasa dengan lingkungan yang religius. Rajin mengikuti pelajaran agama dari orang tuanya di Pondok Pesantren Gedang yang didirikan oleh kakeknya. Bahkan diusianya yang masih muda, sekitar 13 tahun ia sudah terbiasa membantu orang tuanya mengajar para santri yang usianya jauh di atasnya.

Pengembaraan ke berbagai pondok pesantren dimulainya saat umur 14 tahun. Mula-mula ke Pondok Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), lalu ke Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang), kemudian sedikit menyebrangi Pulau Jawa ke Madura di Demangan (Bangkalan) berguru kepada Syeikhona Kholil. Kurang lebih lima tahun menuntut ilmu di Madura, ia kembali lagi ke Jawa, tepatnya di Pondok Pesantren Siwalapanji (Sidoarjo) asuhan K.H Ya’qub Hamdani, hingga dijadikan mantu oleh Kyai Ya’qub pada usia 21 tahun bersanding dengan putrinya yaitu, Nyai Nafisah.

Belum lama dari usia pernikahannya K.H Hasyim Asy’ari bersama Nyai Nafisah pergi menuntut ilmu sembari menunaikan ibadah Haji di Mekkah. Selama tujuh bulan bermukim di Mekkah, ia mendapat ujian yang begitu berat. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati yang diberi nama Abdullah, istrinya meninggal dunia, empat bulan setelahnya disusul putranya yang baru lahir.

Beliau kemudian kembali ke tanah air namun tidak lama. Pada tahun 1893 ia kembali ke tanah suci untuk melanjutkan pendidikanya dengan bermukim selama tujuh tahun. Selama di Mekkah ia belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Mahfudz at-Tarmisi (Pacitan). Selama belajar di Mekkah ia memperdalam ilmu-ilmu yang dimiliki dan menyerap ilmu-ilmu baru yang menambah kematangan ilmu agamanya. Dari sekian ilmu yang ia pelajari, Ilmu Hadis menjadi pelajaran yang paling digemari, itulah sebabnya kedekatan Syekh Mahfudz at-Tarmasi lebih dari guru-gurunya yang lain.Dari Syeikh Mahfudz at-Tarmasi itulah Mohammad Hasyim menjapat ijazah untuk mengajar Shohih Bukhari dan Shohih Muslim. Sampai akhirnya ia hafal ribuan hadis dan dikenal sebagai ahli Hadist.

Pengabdian K.H Hasyim Asy’ari

Sepulang dari Tanah Suci pada tahun 1313 H / 1899 M, beliau mulai mengajar santri di Pondok Pesantren Gedang milik kakeknya dan Pesantren Muning, Mojoroto milik Kyai Sholeh Banjar Melati. Karena kepiwaiannya dalam ilmu agama Kyai Sholeh menikahkan dengan putrinya Nyai Masrurah.

Pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H/ 3 Agustus 1899 K.H Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng dengan murid pertama sebanyak 28 santri. Pesantren inilah yang menjadi tempat penggemblengan kader-kader NU pada masa itu dan masa mendatang. Pesantren ini pun menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, Fasisme Jepang dan agresi militer yang dilakukan oleh Belanda dengan membonceng sekutu (NICA).

Tahun 1925 ia turut serta menyetujui pengirim utusan yang disebut komite hijaz ke Arab Saudi. Komite yang dipimpin oleh K.H Wahab Hasbullah ini, dilatar belakangi oleh kemenangan Ibnu Saud (penguasa Najed) atas Syarif Husen (peguasa Hijaz) pada tahun 1924 di tanah hijaz yang mencakup Makkah dan Madinah. Kemenangan Ibnu Saud yang beraliran Wahabi membuat kecemasan di kalangan ulama Ahlissunah wal Jama’ah karena mulai tersiar kabar tentang pelarangan ziarah ke makam Nabi, pembongkaran makam Nabi dan sahabat, pelanggaran kemerdekaan bermadzhab di wilayah Hijaz, dan lain-lain.

Akhirnya setelah menemui Utusan tersebut, Raja Ibnu Saud menjamin kebebasan bermaliyah dengan madhzab empat di Tanah Haram serta tidak akan menggusur makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Setelah misi ini selesai, KH. Wahab Hasbullah kembali ke Indonesia dan bermaksud membubarkan Komite Hijaz. Namun KH. Hasyim Asy’ari mencegah langkah KH. Wahab Hasbullah, komite akan tetap berjalan dengan tugas yang baru, yaitu membentuk organisasi Nahdlatul Ulama sebagaimana isyarat yang diberikan oleh Syaichona Cholil yang dikirimkan melalui seorang santrinya KH. R. As’ad Syamsul Arifin.

Dari Komite itu Akhirnya terbentuklah jam’iyah Nahdlatul Ulama pada tangaal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 di Surabaya. K.H Hasyim Asy’ari menjabat sebagai Rais Akbar. Jabatan tersebut disandangnya sampai akhir hayat, sepeninggalannya jabatan Rais Akbar diganti menjadi Rais Aam.

Pada Tahun 1942 Mohammad Hasyim diangkat menjadi Ketua Shumbu (Kantor Urusan Agama) yang menjadi cikal bakal Kementerian Agama di Jakarta. Setahun kemudian diangkat menjadi Pimpinan Pusat Masyumi (1943-1945) -walaupun akhirnya keluar karena adanya usaha untuk memencilkan para ulama di dalam percaturan politik yang terus di galakan oleh kelompok intelektual Masyumi, bahkan mereka merubah wewenang Majlis Syuro yang awalnya bertugas menentukan kebijakan akhirnya hanya sebagai penasehat semata sehingga hal itu yang  membuat NU memisahkan diri dari Masyumi lewat Muktamar NU ke-19 di Palembang dan menjelma menjadi sebuah partai politik sendiri dengan nama Partai NU yang berkiprah dalam Pemilu pertama tahun 1955-,  dan pada tahun 1994 menjadi penasehat utama Jawa Hokokai bersama Ir.Soekarno.

Karya-Karya K.H Hasyim Asy’ari

7 Ramadhan 1336 H/ 21 Juli 1947 Hadratus Syeikh K.H Hasyim Asy’ari wafat setelah mendengar kabar bahwa benteng pertahanan Hizbullah – Sabilillah di Singosari, Malang sudah dikuasai Belanda. Dimakamkan di belakangan Pesantren Tebuireng, Jombang dan dianugrahkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. Selain meninggalkan jasa bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia juga belasan karya tulis dalam bahasa Arab dan Jawa. Di antara karya-karyanya yaitu;

  1. Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial (1360 H).
  2. Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’ (1971 M).
  3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat.
  4. Mawaidz (Beberapa Nasihat). Berisi tentang fatwa dan peringatan bagi umat (1935).
  5. Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’lyah Nahdhatul Ulama’. Berisi 40 hadis Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama’.
  6. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin (Cahaya pada Rasul), ditulis tahun 1346 H.
  7. At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran, tahun 1355 H.
  8. Risalah Ahli Sunah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunah wa al-Bid’ah. Risalah Ahl Sunah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan Sunah dan bid’ah.
  9. Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani. Catatan seputar nazam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasir.
  10. Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan.

Pemikiran Kebangsaan K.H Hasyim Asy’ari

Ketokohan Hadratus Syeikh K.H Hasyim Asy’ari tidak bisa diragukan lagi. Sebagai tokoh agama peranya sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia. Walaupun tidak secara langsung ikut mengusir penjajah di lapangan, Kyai Hasyim melawan dengan sumbangsih pemikiran dan fatwa-fatwanya.

Keberadaannya menjadi perhatian serius bagi kaum penjajah baik itu Belanda ataupun Jepang. Oleh sebab itu, Belanda dan Jepang selalu berusaha merangkulnya, seperti diberikanya penghargaan sebagai bintang jasa pada tahun 1937, namun ditolak mentah-mentah. Hal itulah yang membuat Belanda maupun Jepang gelimpangan, ditambah fatwanya tentang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan fatwanya melarang umat Muslim yang akan melakukan ibadah Haji menggunakan kapal milik penjajah.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang pada saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional tidak lepas dari pemikiran beliau tentang konsepsi kebangsaan dan kenegaraan K.H Hasyim Asy’ari. Berawal dari Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin, yang harus menjawab sebuah pertanyaan “wajibkah bagi kaum muslimin mempertahankan kawasan yang waktu itu bernama Hindia-Belanda (Indonesia)  yang diperintahkan oleh orang-orang non muslim (kolonialis Belanda) ? Hasil musyawarah Kyai-Kyai NU dalam muktamar tersebut adalah “wajib, karena di kawasan Hindia-Belanda (Indonesia), ajaran Islam dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga bangsa secara bebas, dan dahulu ada kerajaan-kerajaan Islam di kawasan itu. Dengan demikian, tidak harus dibuat sistem Islam. Secara tidak langsung jawaban ini dapat menjadi dasar atas tidak wajibnya membuat Negara Islam, yang sebelumnya menjadi perdebatan sengit dalam kalangan muslimin pasca runtuhnya kekhalifan Turki-Usmani. Walaupun disisi lain tetap harus menghormati perbedaan cara dan pendapat di antara kaum muslimin di kawasan tersebut.

Pendapat ketidakwajiban atas membuat Negara Islam yang kemudian hari dilegitimasi dengan keluarnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Karena setelah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, mendapat sambutan yang tidak ramah oleh pihak Belanda yang membonceng tentara sekutu untuk kembali menguasai Republik Indonesia. Melihat situasi Republik Indonesia tersebut, dengan sigap KH. Hasyim Asy’ari memerintahkan KH. Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, dan kyai-kyai NU lainya untuk mengumpulkan kyai se-Jawa dan Madura untuk bermusyawarah.

Hasil Musyawarah Kyai NU se- Jawa dan Madura itu menghasilkan fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu ;

  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan;
  2. Republik Indonesia, sebagai satu-satunya pemerintah yang sah, harus dijaga dan ditolong;
  3. Musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia;
  4. Umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali;
  5. Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal alam radius 92 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu secara material terhadap mereka yang berjuang.

Fatwa tersebut ditulis dengan huruf arab pegon yang menjadi penyebab melutusnya pertempuran 10 November 1945 yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Jika kita memahami Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 secara mendalam bukan hanya soal deklarasi dan reposisi politik NU terhadap perjuangan revolusi Indonesia pasca kemerdekaan, tetapi lebih itu.  Resolusi Jihad itu sendiri justru menjadi tindak lanjut dari keputusan Muktamar tahun 1935 di Banjarmasin yang menjadi pedoman awal atas bentuk negara –tidak wajib bersistemkan Islam-, walaupun saat itu dipimpin oleh non muslim ( Kolonial Belanda ), dengan syarat kaum muslimin dapat mempratekkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi apakah hanya sampai dapat mempratekkan ajaran Islam dalam sehari-hari, sedangkan secara ekonomi, politik dan kebudayaan masih belum bebas dan berdaulat, karena masih dalam kawasan penjajahan oleh kolonial Belanda? Maka dari itu, Resolusi Jihad juga dapat dimaknai sebagai tindak lanjut Muktamar NU tahun 1935, yang tidak hanya mempertahakan Republik Indonesia ( yang bukan Negara Islam ), tapi juga mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari kembalinya imprealisme Belanda.

Dari keterangan tersebut sudah jelaslah bagi kita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Resolusi Jihad menjadi bukti atas pemikiran Kyai Hasyim tentang penggabungan Nasionalisme dengan Agama, di mana sebelumnya nasionalisme di Eropa terkenal sekuler. Hubbul Wathon minal Iman (cinta terhadap negara adalah sebagian dari iman) yang sering digaungkan sekarang itu berawal dari Kyai Hasyim.

Pemikiran-pemikiran K.H Hasyim sendiri khusunya terkait kebangsaan sebenarnya banyak  terdapat dalam kitab-kitab yang dikarangnya. Salah satunya Al Muqaddimah Al Qanun Al Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ termasuk Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Selain itu bisa kita temukan pemikiran beliau tentang persatuan umat atau pluralisme yang sering digaungkang oleh cucunya K.H Abdurrahman Wahid walaupun penjelasan tersebut ditulisnya secara tersirat.

ومن المعلوم ان الناس لابد لهم من الاجتماع والمخالطة. لأن الفرد الواحد لايمكن أن يستقل بجميع حاجته. فهو مضطر بحكم الضرورة الى الإجتماع الذي يجلب الى أمته الخير ويدفع عنها الشر والضير.  فالإتحاد وارتباط القلوب ببعضها, وتضافرها على أمر واحد, واجتماعها على كلمة واحدة من أهم أسباب السعادة, وأقوى دواعي المحبة والمودة . وكم به عمرات البلاد, وسادات العباد, وانتشر العمران, وتقدمت الأوطان, وأسست الممالك, وسهلت ت المسالك, وكثر التواصل الى غير ذلك من فوائد الإتحاد الذي هو أعظم الفضائل, وأمتن الأسباب والوسائل.

Artinya: “Seperti dimaklumi, manusia pasti harus bemasyarakat, bercampur dengan yang lain, sebab seorangpun tak mungkin sendirian memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Dia mau tidak mau dipaksa bermasyarakat, berkumpul yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak keburukan dan ancaman bahaya dari padanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani satu perkara dan setiap kata adalah penyebab kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi menciptakan persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar. Perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan yang merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh.

Dalam redaksi tersebut, kata persatuan tidak diikuti dengan kata yang lain. Artinya, kata persatuan bermakna mutlak atau (umum). Namun jika melihat efek dari persatuan berupa negara yang menjadi makmur, maju dan lain sebagainya, dapat dipahami bahwa persatuan yang dimaksud ialah persatuan kebangsaan yang dapat mengakibatkan kesuksesan dan kemajuan bangsa dan negara.

Persatuan bangsa dari pemikiran K.H Hasyim Asy’ari sangat relevan di implementasikan sampai sekarang. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu tanpa melihat perbedaan suku, budaya, ras maupun agama. Nasionalisme juga harus didasari dengan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas.

 Hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah), Hablumminannas (hubungan manusi dengan sesama manusia) dan Hablumminal’alam (hubungan manusia dengan alam) menjadi dasar rasa persatuan dan jiwa nasionalisme dalam kontek kehidupan bernegara. K.H Hasyim Asy’ari menyebutkan tujuan persatuan untuk kemajuan bangsa dan negara yang disebutkan dalam kitabnya, tidak dapat direalisasikan ketika dalam negara masih terdapat ketimpangan. Adanya kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata, serta persamaan hak dengan tidak adanya penindasan oleh yang kuat kepada yang lemah menjadi tumpuan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Tulisan ini pernah di publis di : https://harakatuna.com/nasionalisme-dan-pluralisme-k-h-hasyim-asyari.html

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Calon Petani

Sab Okt 3 , 2020
Oleh : Aji Yoga A Suara adzan subuh menggema dengan indahnya.Membangunkanku dari buaian mimpi yang tak sama sekali ku ingat alurnya. Ku bergegas menuruni ranjang yang reot tapi menghangatkan. Saat ku buka pintu, seperti biasa Simbok dan Bapak sudah mengambil air wudlu. Jalan yang becek dan penuh lumpur akibat hujan […]