Menyikapi Hoax dan Hiperrealitas Masyarakat di Masa Pandemi

Sumber gambar: Liputan6.com

Oleh : Elviana Feby Dwi Jayanti (Kader PMII Rayon Ushuluddin)

Virus corona menjadi masalah serius yang dialami hampir seluruh negara di dunia.  World Health Organization (WHO) juga telah mengumumkan lewat Direktur Jenderalnya Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, bahwa virus Coronavirus Disease (Covid-19) yang tengah merebak saat ini bisa dikategorikan sebagai pandemi global.

Sampai pada akhirnya virus Corona atau yang biasa disebut covid-19 menjadi selebriti dadakan. Berbagai platform media menyoroti perkembangan tersebarnya virus ini. Beruntungnya, akselerasi perkembangan teknologi komunikasi berkembang begitu cepat. Sehingga mampu membawa manusia pada sebuah tatanan di mana jarak dan waktu tidak lagi menjadi permasalahan, khususnya untuk meng-update informasi.

Semua sarana yang digunakan tentu tak lepas dari fleksibilitasnya yang tinggi. Namun, faktanya tidak semua orang memiliki same knowledge dalam menggunakan fasilitas tersebut. Maraknya penyebaran berita hoax, menjadi salah satu fenomena yang tidak luput dari kurangnya filtrasi dalam mengkonsumsi informasi, dengan tingkat kredibilitas yang masih tidak jelas. Bukan hanya berpengaruh di lingkungan sosial maya, tetapi pada akhirnya juga berdampak pada kehidupan nyata.

Terlebih lagi konten berita-berita duka dan mitos-mitos terkait covid-19 yang bersifat hiperbola, pada dasarnya menuntun masyarakat berfikir hiperbolisme. Hiperbolisme menciptakan imajinasi yang melebihi kenyataan sebenarnya dari sebuah peristiwa. Semakin banyak masyarakat mengakses berita hiperbolis, sehingga hiperrealitas terjadi secara masif.

Menurut Jean Baudrillard, hiperrealitas adalah sebuah konsep dimana realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya (Hyper-sign). Hiperrealitas secara bebas dapat diterjemahkan sebagai gejala penyajian realitas-realitas artifisial, yang mana realitas tersebut melebihi kenyataan sebenarnya di dunia nyata. Penggambaran yang teramat sangat realistis sehingga mengalahkan kenyataan yang sebenarnya. Hiperrealitas menciptakan masyarakat modern menjadi berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya.

Sebuah konsekuensi logis sebetulnya jika hiperrealitas akan berdampak pada habit atau kebiasaan masyarakat khususnya dalam masa pandemi ini. Lalu, bila penyebaran informasi terus menerus disebarkan, maka akan memakan banyak korban. Terutama jika tidak dibarengi dengan kredibilitas dan validasi yang jelas. Artinya hal ini bisa menjadi acuan untuk bijak, termasuk harus meningkatkan literasi digital.

Tidak hanya tentang konsekuensi logis, pandemi covid-19 saat ini ternyata juga menjadikan trennya inklusi digital di masyarakat. Tentu input poin disini meliputi dampak kesehatan mental bagi penggunanya. Berbicara tentang kesehatan mental, tentu saja hal ini sangat penting. Sebagian orang bahkan rela untuk menutup semua media sosialnya dan lebih memilih untuk buta informasi, demi kesehatan mentalnya karena tidak sedikit yang terganggu dengan hal tersebut.

Tetapi ada cara yang lebih cerdas dibandingkan harus menutup semua akun atau sarana informasi yang ada, yaitu dengan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir kritis menurut pandangan John Dewey dalam bukunya “How We Think” adalah pertimbangan yang sifatnya aktif, persisten (terus menerus) dan teliti, mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja. Tentu dengan dipandang dari sudut alasan yang mendukungnya, dan kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.

Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional tentang apa yang harus dilakukan, atau apa yang harus dipercaya. Hal ini mencakup kemampuan untuk terlibat dalam pemikiran reflektif dan mandiri. Seorang dengan keterampilan ini mampu memahami hubungan logis dan mampu mengambil perspektif paling baik dalam menelaah segala hal.

Walaupun pada akhirnya, berpikir kritis itu bukan hanya sekedar setuju atau tidak, tetapi lebih untuk mengevaluasi narasi atau masalah secara keseluruhan. Selanjutnya, memahami dan mempertimbangkan banyak perspektif yang berhubungan dengan masalah tersebut. Dengan catatan, kita harus open minded ketika berpikir kritis.

Tindakan realistik berpikir kritis ini perlu dilakukan untuk diri sendiri dan minimal orang terdekat agar dapat melihat informasi secara utuh, bukan hanya melihat satu postingan berita lalu menyimpulkan. Sikap cermat dalam memilah dan memfilter  informasi yang tersebar di media sosial tentu sangat diperlukan. Bagaimanapun berita menyebar, tetap tidak dapat lepas dari peran kita sebagai pemegang arus komunikasi (pengguna media sosial).

Membantu meluruskan jika ada yang menyalahgunakan, dan tabayyun jika ada yang meragukan, merupakan tindakan alternatif yang tepat dalam menyikapi segala informasi. Dengan begitu, interaksi sosial akan lebih sehat jika cermat dan cerdas dalam menggunakannya.

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Covid 19 Mencekik, Rakyat Menjerit

Rab Apr 29 , 2020
Oleh : Silvi Afrida (Kader PMII Rayon Syariah) Virus Covid 19 (corona) menjadikan masyarakat yang semula bekerja dipasar mulai menjadi gusar,mereka kehilangan pelanggan bahkan pemasok barang dagangan. Terlihat di Pasar Weleri, Kendal yang semula sesak penuh desak, kini lenggang hanya ada para pedagang. Hal tersebut juga berdampak pada supir angkutan […]