Menelusuri Jejak Pergerakan Sang Muballigh Haji Misbach

(sumber : koransulindo.com)
Oleh : Inunk Ainul Yaqin
Agama Islam dibawa nabi Muhammad sebuah agama yang dalam ajaranya menyerukan perlawanan kepada hambanya jika memang terjadi penghisapan dari manusia terhadap manusia. Diutusnya nabi Muhammad sebagai seorang Rosul membawa visi pembebasan untuk melawan segala penindasan yang menimpa masyarakat Mekkah tempat dimana nabi menyebarkan Islam pada awal kehidupanya.
Menyebarkan Islam di tanah Mekkah tidak lantas berjalan mulus, ia harus melewati rintangan dan menerjang hadangan Kafir Quraisy. Ditantangnya nabi di Mekkah oleh kafir Quraisy bukan karena nabi Muhammad mengajarkan ruku, doa, dan sujud. Tetapi karena terdapat ajaran nabi yang melawan dan membahayakan kepentingan pemodal Mekkah, sehingga kekhawatiranya terhadap visi nabi Muhammad itulah membuat nabi diusir dan dimusuhi oleh masyarakat setempat ketika ia berdakwah menyebarkan Islam. Namun nabi tidak lantas menyerah begitu saja atas perlakuan masyarakat terhadap dirinya. Berkali – kali ia dihina, tetapi ia hadapi perlakuan mereka dengan sikap tegas dan bijaksana.
Karena Ia yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah perintah Allah untuk menebarkan benih-benih keadilan terhadap sesama manusia. Keadilan di sini yaitu langkah upaya perlawanan yang dipropaganda nabi supaya tercipta masyarakat yang adil, egaliter serta tidak adanya penindasan terhadap sesamanya.
Nabi Muhammad Sang Propagandis

Nabi Muhammad selain seorang Rosul juga politisi ulung, pergerakanya dalam membawa visi dan misi agama pembebasan terbilang lihai, tak mengherankan bila Michael H. Hart penulis buku 100 tokoh paling berpengaruh di dunia menempatkan nabi Muhammad pada posisi pertama di atas tokoh – tokoh hebat lainya.
Pada dasarnya semua nabi membawa paham yang membebaskan dan semangat perlawanan bila terjadi ke sewenang – wenangan. Seperti nabi Ibrahim melawan despotisme raja Namrud, nabi Musa melawan kekejaman Fir’aun, nabi Harun melawan kemungkaran Thalut dan Jalut, demikian dalam Islam sendiri nabi Muhammad melawan Rezim Jahiliyah.
Rezim Jahiliyah sebuah rezim yang dalam tindakanya melakukan kesewenang – wenangan. Akibat tingkah sedemikian menyebabkan jurang kemiskinan semakin melebar. Penghisapan sulit dihindari. Pada giliranya yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Oleh karena itu legalisasi Islam dalam buku Islam dan teologi pembebasan sebagai agama Kekerasan dapat dibenarkan.
Kekerasan dalam Islam menurut Ali Asghar disebabkan karena distribusi kekayaan yang tidak adil dan merata, kedua diskriminasi kasta dan keturunan ras, dan ketiga karena penerapan nilai yang tidak egaliter. Hal inilah yang menjadi legitimasi dasar bahwa agama Islam adalah agama kekerasan yang menantang bila terjadi ketidakadilan.
Oleh sebab itulah nabi Muhammad tidak menghindar dari kekerasan apabila kondisi menuntunya untuk melakukan kekerasan. Sebagai legendaris Islam, nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan agama yang sifatnya ritual semata, namun beliau juga menjadi seorang propagandis untuk menggugat tatanan sosial, hak istimewa orang kaya, superioritas kesukuan dan pembela kemanusiaan yang tanpa pandang bulu.
Pergerakan nabi itulah yang dijadikan pijakan sang Muballigh ulama nusantara bernama Haji Misbah untuk menggugah semangat perlawanan bila terjadi penindasan. Haji Misbach adalah muballigh berpendidikan pesantren. namanya relatif tidak dikenal di kalangan orang belanda. tidak seperti Tjipto, mas Marco dan tokoh terkemuka lainya yang pandai membaca, berbicara, dan menulis dalam Bahasa Belanda. Karena Haji Misbach berpendidikan pesantren, Bahasa yang mahir adalah Bahasa arab.
Haji Misbach dan Semangat Perlawanan

Haji Misbach pertama kali tampil sebagai tokoh pergerakan kaum muda Islam di Surakarta pada pertengahan 1910-an. Ia lahir di Kauman Surakarta tahun 1876. Pada masa kanak-kanak dikenal dengan panggilan Achmad. Kemudia sewaktu menikah ia merubah namanya menjadi Darmodiprono. Namun diubah menjadi Haji Misbach setelah menunaikan ibadah haji di Mekkah.
Haji Misbach melayangkan perlawanan terhadap pemerintah hindia Belanda kala itu dengan atas dasar agama Islam sesuai keyakinanya. Baginya agama Islam adalah agama yang menantang perbudakan dan segala macam penindasan seperti yang pernah dilakukan nabi Muhammad. Perlawanan yang ia tunjukkan yaitu dengan mengeluarkan surat kabar mingguan bernama doenia bergerak.
Perlawanan melalui tulisan membuat ia dikenal sekaligus dianggap berbahaya oleh pemerintah setempat. Tidak berhenti disini, ia pun membuat sekolah Islam, berkumpul berembuk agama Islam dalam hidup bersama. Haji Misbach tidak pernah gentar, ia tidak segan untuk mencela antar sesama orang yang mengaku beragama Islam tapi selalu menghisab darah antar sesamanya.
Inilah yang banyak terjadi di zaman seperti sekarang ini. banyak yang mengaku membela agama tapi yang ada justru menodai agama itu sendiri. tidak terhitung jumlahnya kekerasan atas nama agama mengganyang bangsa ini. Apalagi di tahun politik isu agama masih mampan dijadikan sumbu terbakarnya konflik. Itu artinya agama Islam yang diajarkan nabi perlahan gersang dari visi kemanusiaan dan semakin jauh dari apa yang diajarkan nabi Muhammad.
Islam yang menjadi agama perlawanan justru menjadi biang keladi dari setiap kerusakan yang disebabkan oleh penganutnya. Pemuka agama yang diharapkan mampu meluruskan malah menjadi komando atas kekerasan yang terjadi. Kata Misbach Suatu tindakan yang hianat bila beragama Islam tapi mengabaikan ajaran Islam dalam segi perlawanan.
Strategi perlawanan Haji Misbach terhadap pemerintahan Kolonial bukan karena kata-katanya. Tatapi karena perbuatanya untuk menggerakan Islam. Dalam melakukan penyadaran terhadap masyarakat yang ditindasnya oleh kaum kapital maupun pemerintah Belanda Haji Misbach melakukan pertemuan dengan cara berdakwah kepada masyarakat.
Masyarakat disadarkan melalui ajakan dakwahnya untuk melakukan propaganda bersama rakyat melawan segala kesewenangan. Ia menyerukan kepada rakyat bahwa dalam hidupnya saat itu masyarakat sedang berada di bawah kubangan kemiskinan dan penjarahan oleh kepentingan pemodal maupun penyiksaan yang dilakukan pemerintah Belanda.
Dengan cara demikian masyarakat menjadi tahu hak dasarnya yang harus dinikmati dan tindakan apa yang seharusnya diambil. Dan Haji misbach berkali-kali berpesan untuk bersikap jangan khawatir dan jangan takut kepada penguasa. Karena itu Haji Misbcah kerap kali menjadi komando dalam melakukan pemogokan terhadap buruh maupun petani melawan kelas yang telah menghisabnya dan tidak memperlakukan secara manusiawi.
Bila memang terjadi penindasan Haji Misbach menyerukan untuk melakukan perlawanan. Baik dilakukan dengan cara bertemu masyarakat ataupun melalui sebaran tulisan yang berisi propaganda untuk membangunkan pembacanya dari tidur pulasnya. Sebaran tulisan itu kadang melalui Jurnal ataupun surat kabar mingguan bernama Medan Muslimin pada 1915 dan Islam bergerak pada 1917. Tulisan Misbach di surat kabar seperti ia berceramah. Gaya tulisanya menggambarkan seorang da’i ketika menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Bagi Misbach melakukan propaganda untuk kebebasan kita, kebebasan negeri sama seperti melakukan propaganda pada Islam. Dan dalam pengertian itulah ia menunjukkan dirinya sebagai seorang mubaligh sekaligus propagandis. Sebagai seorang propagandis ia melancarkan kegiatanya di daerah pedesaan dengan menghadiri pertemuan – pertemuan dan langsung bicara bersama rakyat.
Inilah yang dimaksud Ignacio Ellacuria untuk menggambarkan sosok intelektual haji Misbach bahwa peran intelektual dewasa ini harus berpihak pada transformasi sosial serta bersuara bagi mereka yang tidak punya suara dan memperjuangkan hak – hak mereka. Pergerakan Haji Misbcah ini yang patut dijadikan sandaran oleh kaum yang mendaku sebagai kaum agamawan. Kaum agamawan harus menjadi ujung tombak bila terjadi penindasan. Bukan justru mendukung status quo yang melegalkan segala bentuk penindasan atas kepentingan apapun dan manapun.
Daftar Pustaka

1. Takashi Shiraishi. ZAMAN BERGERAK (Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926). Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti. 2005
2. Subhan Setorawa dan Soimin. Agama dan Politik Moral. Malang : Intrans Publishing 2013
3. Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan. Pustaka Belajar 1999
*penulis adalah pengurus LPW PMII Komisariat UIN Walisongo periode 2018-2019 dan Kordinator Ekosospol KSMW.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Indonesia Tanpa Pacaran

Kam Feb 14 , 2019
oleh : Nandiyah PMII Rayon Ekonomi Kom. UIN Walisongo Semarang Beberapa tahun terakhir, menyusul tenarnya media sosial instagram oleh beberapa kalangan terdapat sebuah fenomena yang menurut saya sangat menggelitik. Fenomena tersebut hadir sebagai dampak dari berkembanganya teknologi dan informasi serta keilmuan manusia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Saya tidak bisa […]