Membaca Politik Kyai di Jawa Timur

Judul             : Kyai Di Panggung Pemilu, Dari Kyai Khos Sampai High Cost
Penulis buku : Munawwar Fuadi Noeh
Penerbit         : renebook
Tahun Terbit  : 2014
Tebal              : 308 Halaman
ISBN              : 978-602-1201-07-7
Peresensi        : Inunk Ainul Yaqin

Berbicara politik di Jawa Timur tampaknya berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perbedaan itu terletak di posisi kyai sebagai pemiliki otoritas yang menentukan segalanya kepada masyarakat atas siapa sosok yang bakal dipilih oleh kyai. Pilihan kyai merupakan pilihan mutlak dan mau tidak mau harus diakui dan ditaati oleh masyarakat sekitar. Artinya seorang kyai bagi masyarakat Jawa Timur bukan sebatas pemimpin keagamaan yang memimpin gerakal kultural saja dan memimpin masyarakat pada wilayah keagaaman
Peran kyai di wilayah ini sudah merasuk pada bidang lain seperti masalah sosial dan politik. Tak heran bila dalam persoalan politik termasuk politik praktis untuk menentukan pemimpin baik tingkat daerah, maupun pusat, bahkan presiden, kyai menjadi refrensi utama untuk dijadikan rujukan oleh pengikutnya. Apalagi di Jawa Timur gudangnya para kyai. Jika Kota Yaman dikenal sebagai Kota seribu wali, maka di Jawa Timur dikenal daerah seribu pesantren. Banyaknya pesantren di Jawa Timur tersebar di berbagai wilayah baik di daerah perkotaan maupun pedesaan yang pelosok.
Tersebarnya pesantren di berbagai daerah inilah tempat di mana kyai tinggal. Dan masyarakat di sekitar wilayah tersebut baik santrinya ataupun bukan mengganggap kyai sosok paling mengerti perihal sesuatu yang berkaitan dengan kehidupanya. Begitupun dalam soal pemilihan pemimpin politik seperti diteliti dalam buku ini. buku ini meskipun secara judul menyinggung kyai secara universal dalam panggung pemilu.
Intruksi Kyai

Tetapi objek penelitian di dalamnya mengacu pada kawasan Jawa Timur terutama bagian daerah Madura dan Tapal Kuda. Kedua kawasan ini peran sentral kyai sangatlah vital dan masyarakat seolah mendewakan figur seorang kyai. Kalau saya menyebutnya “Vox Kyai Vox Dei / suara kyai suara tuhan” petuah dan fatwa kyai tanpa fikir panjang masyarakat pun mengikuti dasar yang telah dilontarkan kyai.
Apa yang disampaikan kyai masyarakat menilainya sesuatu yang sudah valid tanpa perlu diperdebatkan. Disinilah peresensi tertarik untuk mendiskusikan buku ini dalam mengamati persinggungan kyai di panggung politik di Daerah Jawa Timur tempat dimana saya dilahirkan.
Pernah suatu ketika pada saat saya membuka facebook, teman saya ubdate status di beranda facebooknya. Ia berswap foto tepat berada di bawah banner yang tergambar sosok yang dipilih kyainya atau ulama sanjunganya. Dalam statusnya ia berceloteh “Sampai kapan pun bersama ulama” celotehan itu menggambarkan kefanatikan masyarakat mengikor pilihan kyai atau yang diintrksikan oleh ulama
.
Sebenarnya saya kira ini bukan bicara fanatik tidaknya. Tapi kultur masyarakat Jawa Timur memang tidak bisa ditutup – tutupi untuk melibatkan kyai sosok kharisma yang menurut mereka dapat membimbing masyarakat dalam segala arah termasuk menentukan pemimpin yang baik versi kyai. Sehingga keputusan kyai masyarakat menilainya keputusan yang masuk akal. Hal serupa dialami peresensi sendiri dan kawan – kawan seperjuangan di pesantren. Pada saat pemilu kami sebagai santri dalam menentukan pilihan tidak bisa sendiri, kyai di pesantren menuntunya untuk memilih sesuai intruksi dari kyai.
Apabila kyai mengintruksinya A dan santri harus mengikuti A. tentu hal ini terjadi bukan saja di beberapa pesantren saja, mayoritas pesantren di Jawa Timur baik besar maupun kecil pada saat pilkada/pemilu berlangsung kyai tidak ambil diam untuk mengintruksikanya kepada santrinya siapa sosok yang harus dipilihnya sesuai komando kyai. Dan santri dan alumninya manut perintah kyai tersebut, jika tidak, ada sikap kekurang sopanan kalau istilah pesantren disebutnya su’ul adab.
Saya teringat saat ubdate status di WA pribadi tentang salah satu kandidat yang dipilih kyai. Dengan teman di Jawa Tengah pernah dicap pengkut, timses, dan jurkam daripada salah satu kandidat tersebut. saya memaklumi saja atas apa yang diutarakan mereka. sekali lagi saya bilang, di Jawa Timur berbeda dengan masyarakat yang tidak tinggal di luar Jawa Timur khusnya masyarakat golongan santri. orang pesantren dituntut manut apa yang disampaikan kyai.
Contoh saja Gus Dur saat diwawancarai Kick Andi. Majunya Gus Dur di pemilihan presiden kala itu merupakan perintah para sesepuh. Yang Gus Dur tidak bisa menolaknya kalau perintah itu datanganya dari mereka. “saya ini orang pesantren, kalau disuruh masuk api ya masuk api” perkataan ini mengisyaratkan ada kepatuhan yang tidak bisa ditawar. Tolak ukurnya bukan rasional tidaknya. Tapi ada dorongan moral dan ketaatan yang sebaiknya diikuti semua perintah kyai (tentu kyai memerintahkan yang baik).
Keterlibatan Kyai

Di dalam buku ini penulis begitu padat menjelaskan perpolitikan kyai khususnya politik kyai Jawa Timur yang banyak disinggung dalam isi buku. Sebenarnya buku Munawar Fuad ini mengulas keterlibatan kyai pada pemilihan pilpres pada tahun 2004. Tetapi saya tidak akan nostalgia masa itu. Masa itu telah lewat, tapi yang masih membekas bahkan sampai saat pilkada maupun pemilu tiba, peran kyai di panggung politik tidak berhenti. Baik dirinya sebagai pemain untuk berkontestasi, simpatisan, maupun sebagai juru kampanye dari salah satu kandidat calon.
Inilah Jawa Timur. Keberadaan kyai yang memiliki masa banyak selalu menjadi sasaran empuk ketika pemilu maupun pilkada hampir tiba. tidak heran bila ada acara besar di Pondok pesantren, para politisi berlomba – lomba datang untuk meminta dukungan pada kyai sekaligus mendulang suara yang banyak dikantongi kyai di pesantrenya. Kyai dianggap memiliki masa banyak, santrinya tersebar dimana – mana. Dengan banyaknya santri ini pada giliranya dinilai ada keuntungan besar apabila calon politisi mampu mengelabuhi hati kyai untuk meminta dukungan dan restunya.
Politik kyai di Indonesia pada umumnya, dan Jawa Timur Khususnya pada dasarnya sudah terjadi pada saat era kolonial. Selain perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia, kyai pun menjadi lobi politik bagi pemerintahan Kolonial Belanda dan Jepang. Ini menandakan bahwa sosok kyai bukan sebatas pada pemandu pada bidang keagamaan dan masalah bimbingan teologis semata. tapi peran kyai sudah masuk pada ranah politik. Di bab awal buku ini penulis menjelaskan kyai dalam kacamata sejarah. Era Kolonial, pasca kemerdekaan, orde baru hingga era reformasi.
Di era Orde baru contohnya, Soeharto memanfaatkan kyai untuk mempertahankan kekuasaanya. Maka lahirlah yang namanya lembaga bernama Majlis Ulama Indonesia (MUI). Didirikan lembaga ini merupkan strategi Soeharto untuk mensukseskan mempertahankan kekuasaanya. Dipilihnya kyai karena peran sentral umat Islam yang dimobilisasi kyai tidak bisa dipungkiri. Dimanfaatkanlah pengaruh kyai agar kekuasaan orde baru tetap bisa bertahan. Hal 252
Terbukanya Kran Demokrasi

Begitupun pada saat ini, ketika kran demokrasi dibuka lebar-lebar pada saat orde baru tumbang, panggung politik menggoda kyai terjun berkontestasi. Baik sebagai calon ataupun juru kampanye dari salah satu calon pilihanya. Seperti yang disebutkan di atas, bahwa peran kyai sangatlah mencolok untuk membantu mendulang suara. Masyarakat Jawa Timur cara pandangnya sederhana. Mereka menilai apa yang mereka ketahui.
Masyarakat tidak akan membaca AD/ART partai. Dan tidak mengetahui pengurus partai baik tingkatan wilayah maupun tingkat pusat. Meskipun partai yang mengusungnya kecil tapi calegnya adalah kyai atau juru kampanye di balik pencalonan tersebut adalah kyai. Tanpa fikir panjang masyarakat dengan mudah memilih sesuai pilihan kyai. Keyaqinan masyarakat pada kyai karena dianggapnya kyai merupakan tokoh kharisma. Dengan kharisma yang dimiliki kyai itulah pilihanya tidak mungkin menyimpang menurut masyarakat. hal 173
Yang patut dirawankan dan dikhawatiri ketika ulama atau kyai terjun ke politik praktis yaitu akan mudah terlahirnya konflik. Baik antar sesama kyai, kyai dengan umat, maupun umat sesama umat. Dan disinilah letak peperangan kyai. Penyebabnya karena soal politik praktis dengan pilihan yang berbeda. perbedaan pilihan kyai ini pula imbasnya bukan hanya dalam kubu tingkatan kyai saja, tetapi konflik ini merabah pada masing- masing pengukutnya antau konflik sesama umat. Hal 226
Ketika Kyai Ditinggalkan Ummatnya

Sementara di bagian terakhir bab buku ini penulis meneliti bahwa terlibatnya kyai di panggung politik baik sebagai kontestan maupun juru kampanye membuat sebagai masyarakat memandangnya negative, tentu dengan banyak alasan. Salah satunya karena bagi masyarakat ketika kyai sudah terjun pada politik praktis ia akan menyimpang dari fungsingnya sebagai seorang pendidik dan pemimpin keagamaan di tengah masyarakat.
Apabila kyai keluar dari lingkaran tersebut dan memilih terjun pada politik praktis, kyai akan ditinggalkan oleh masyarakat. berarti seorang kyai akan kehilangan sumber otoritas, kewibawaan, dan legitimasi sebagai kyai. Dengan demikian seorang kyai akan kehilangan daya tawarnya di tengah masyarakat. hal inipula yang disinggung di buku “Politik Kyai vs Politik Rakyat” karya Muhibbin, akedemisi asal Jember.
Ia menjelaskan ketika kyai memilih ke politik praktis dan mengesampingkan masyarakat maka disanalah kyai ditinggalkan. Dan tidak lagi menjadi rujukan. Tak heran di suatu daerah tertentu pilihan politik masyarakat tidak lagi didasarkan pada politik kyai tapi lebih kepada rasio masyarakat sendiri. yang jelas refrensinya bukan lagi seorang kyai. Ingat, Ini terjadi di sebagian tempat. Tentu di sebagai tempat lain di Jawa Timur sampai saat ini sosok kyai masih relevan untuk dijadikan refrensi masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya.
Pemilu 2019 hampir tiba untuk menentukan Presiden dan Wakil Presiden sekaligus anggota legislatif. lantas bagaimana posisi kyai ? dan kemana arah pilihan politik masyarakat? silahkan tunggu saja pemilu berlangsung nanti. Siapapun pendukungnya dan siapapun yang didukung. Ketika pemimpin itu dilantik wajib hukumnya berpihak pada rakyat secara keseluruhan untuk mengentaskan masalah yang dihadapi bangsa ini. Semoga..!
Ini ulasan sederhana tentang fenomena politik kyai di Jawa Timur, tempatku. Bagaimana di daerah kalian sahabat ? silahkan diskusikan. Selamat membaca..!
*Peresensi adalah Pengurus LPW PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang periode 2018-2019, pemuda asal Tapal Kuda Jawa Timur

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Press Release Korban Tsunami Banten - Lampung

Sen Des 24 , 2018
(gambar : Jeky) Press Release Respon PMII Komisariat UIN Walisongo Atas Tsunami di Banten Dan Lampung Akibat tsunami yang menimpa kawasan Selat Sunda, khususnya Serang, Anyer dan Kabupaten pandeglang serta Kabupaten Lampung selatan, telah memakan banyak korban jiwa dan banyak di antaranya mengalami luka-luka. Sementara kerugian dan kerusakan rumah dan […]