Komitmen Bersama Membentuk Kesadaran di Tengah Pandemi

                     

           Tidak terasa bahwa pandemi di Indonesia sudah hampir 3 bulan. Hingga datangnya bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah ini. kita cukup bergeliat dengan virus COVID-19. kegiatan beribadah yang semula dilakukan berjamaah/berkerumun untuk sementara dilakukan dirumah. Semua ini demi terciptanya keadaan yang normal kembali serta mentaati peraturan pemerintah.

            Pemerintah mengambil langkah-langkah prefentif untuk menanggulangi wabah ini. salah satunya kebijakan socilal distancing dan phsycal distancing sertaPSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang diberlakukan di daerah rawan virus ini. Perlu kita ketahui pencegahan wabah ini dahulu juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

            Ketika itu Rasulullah mendapat laporan dari Abdurrahman bin auf yang mengabarkan, yang mengabarkan bahwa Umar berangkat ke Syam, ketika sampai di wilayah Sargh, ada kabar bahwa telah terjadi wabah/pandemi di Syam. Mendengar kabar demikian Rasulullah bersabda :

“Idza sami’tum bihii ardhlin falaa taqdamuu ‘alaihi dan idzaa waqa’a bi ardlin wa antum bihaa fa laa takhrujuu firaaran minhu’’ yang artinya : “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah ditempat kalian, maka kalian jangan keluar dari kampung itu”, (Riwayat Imam Bukhori dan Muslim).

            Hal tersebut menjelaskan bahwa pentingnya menghindari daerah yang terkena wabah. Serta juga pencegahan tersendiri bagi orang yang berada dalam wilayah wabah itu sendiri. Dalam bahasa sekarang bisa dikatakan Lockdwon.

            Dalam suasana seperti ini semua elemen bersatu padu untuk mensukseskan pencegahan virus ini. mulai dari pemimpin/Ulil Amri, Masyarakat, serta para elit global membentuk satu frekuensi dalam membangun solidaritas kedepannya.

            Komitmen Pemimpin

            Pandemi ini adalah ujian bagi masyarakat, terlebih pemimpinnya. Kebijakan pemerintah memberlakukan sosial distancing dan phisycal distancing juga mengacu pada sabda Rasulullah Saw. “Larilah dari wabah seperti lari kamu dari singa” (HR Muslim: 5380).

            Ditengah kebijakan yag telah diterapkan tentunya pemerintah berkewajiban menjamin segala kebutuhan masyarakat khususnya untuk bertahan ditengah himpitan wabah yang menyerang ini. Sehingga masyarakat lebih percaya kepada komitmen pemimpinnya.

            Pemimpin disini tidak hanya dikategorikan pemerintah saja. Pemimpin dalam hal ini seperti halnya Ulama, Umara, pemimpin organisasi ormas tertentu, atau pemimpin di suatu perkumpulan agama, atau organisasi. Yang mana mereka seharusnya juga memiliki komitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah.

            Seperti halnya Umara dan Ulama masing-masing bersama untuk tidak menyelenggarakan shalat jumat dan mengganti dengan sholat duhur. Tidak melaksanakan shalat tarawih di masjid/mushola dan menggantinya dengan sholat dirumah.

            Hal ini sebagai rambu-rambu dalam rangka menjalankan komitmen pemimpin untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakatnya sesuai anjuran Rasulullah SAW. Kita bisa lihat mana pemimpin yang mengabdi pada masyarakatnya, tidak mementingkan kepentingan sesaat. Demi menciptakan keselamatan nyawa dari pada keselamatan agama. “Saalamatu I-nsaan abadan muqaddamatun ‘alaa salaamati I-dyan”.

            Presiden sebagai pemimpin pemilik kekuasaan dan kewenangan tertinggi dalam menjamin keselamatan, kesehatan dan kehidupan rakyat Indonesia dalam penanggulangan bencana.  Disamping itu, pemerintah perlu terbuka memberikan informasi secara jujur kepada masyarakat terkait informasi Covid-19, Pemerintah harus dapat memberikan keyakinan bahwa apapun kebijakan yang diambil adalah yang terbaik  bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal tersebut diperlukan agar tidak ada kepanikan atau teror ditengah situasi yang tidak menentu saat ini. Informasi yang jujur dan jelas akan menciptakan kepercayaan dan meningkatkan solidaritas sosial sebagai bangsa yang dapat menjadi kekuatan dalam pemberantasan virus Covid-19.

Membangun Kesadaran Rasional

            Berdasarkan data dari worldometers.info, total kasus COVID-19 di seluruh dunia mencapai 4.342.848 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 292.899 orang meninggal dunia dan 1.602.713 pasien telah dinyatakan sembuh. Terdapat 2.447.236 kasus aktif atau pasien Covid-19 dalam perawatan yang tersebar di berbagai negara. Tercatat ada 5246 penambahan kasus baru di seluruh dunia pada hari ini.

            Hal ini menandakan bahwa kasus COVID-19 masih berada dalam level tinggi. Perlunya kesadaran tinggi bagi masyarakat untuk mengedepankan kedisiplinan dalam mematuhi kebijakan yang ada di masing-masing negara.

            Masyarakat saling bahu membahu membantu satu sama lain. Untuk dapat bertahan ditengah himpitan ini. banyak ekonomi mikro yang terdampak, khsusunya para pelaku UMKM yang saat ini berusaha bangkit ditengah wabah seperti ini. seharusnya kita sesama warga negara yang menjunjung tinggi rasa persatuan menjadi garda terdepan khususnya pemuda seperti saya ini.

            Ada hal penting lainnya sebenarnya yang perlu saya kemukakan disini. Salah satunya adalah media. Media saat ini berperan penting dalam membangun mandset pembacanya. Sehingga ketika ada media yang memberitakan sebuah berita yang meninmbulkan kepanikan terhadap pembaca. Hal ini merupakan sebuah kemunduran kesadaran rasional yang diciptakan oleh media. Terlebih media yang memberitakan kasus hoax terhadap virus ini, Naudzubillah.

            Seharusnya media menjadi garda terdepan untuk memberikan keyakinan kepada khalayak ketika seseorang mayoritas berdiam diri dirumah. Membuat suasana tenang. Dan tidak membuat-buat berita yang terkesan hanya kepentingan semata. 

            Segala elemen saat ini sedang diuji, perlunya kesadaran rasioanal yang digunakan untuk membentuk pola mandset masyarakat agar tidak bingung dalam menghadapi wabah yang hampir 6 bulan menyerang negara hampir diseluruh dunia.

Tips Mencegah Kecemasan

Terkadang kita juga merasa cemas dalam menghadapi virus COVID-19 ini. terlebih melihat pemberitaan media yang memberitakan berita kematian yang signifikan sehingga muncul rasa kecemasan dalam diri kita.

            Terakhir, saya akan memberikan sebuah tips untuk menghindari kecemasan ala Imam al-Ghazali. Saya perkenalkan terlebih dahulu, siapa Imam Ghazali. Imam Al-Ghazali yang memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibn Muhamamd al-Ghazali ath-Thusi selain dikenal dengan tokoh tasawuf, ternyata ia juga memiliki konsep raja’ sebagai cara menangani gangguan kecemasan. Konsep raja’ Imam al-Ghazali memang berbeda dengan ulama-ulama tasawuf lainnya. Dan terbukti ajaran raja’ menurut Imam Al-Ghazali sering dipraktikan umat manusia yang mengalami kecemasan pada suatu persoalan yang kritis, bahkan mendekati putus asa.

Raja’ adalah kesenangan hati kepada suatu kabar yang diingikan. Dengan raja’ seseorang akan merasa bersemangat dalam melakukan suatu hal, dan merasa ringan dalam menanggung berbagai kecemasan, kesulitan, dan kesusahan. Dan pastinya, kecemasan itu muncul karena adanya situasi yang sangat kritis dan genting yang dihadapi manusia, (Bincangsyariah.com).

Rasa cemas juga kita maknai sebagai kegelisahan hati, maka dari itu al-Ghazali memberikan petuah bahwa cara menghilangkan kegelisahan hati tersebut dengan cara raja’. yaitu melalui memberikan pengajaran secara lemah lembut, memberikan tempat terjadi penyakit, cara mengobati penyakit tersebut dengan memberikan yang berlawanan dari penyakit tersebut. Seperti halnya COVID-19, masyarakat dan pemerintah memang harus mampu berkerja sama mendukung pemusnahan COVID-19 yang menyerang masyarakat Indonesia. Saling memberikan edukasi dan dukungan psikis yang lemah lembut, agar masyarakat Indonesia tetap berada dalam psikis yang terjaga. Karena untuk mencapai kesejahteraan itu bukan dari tindakan kebijakan pemerintah saja, tapi juga dibutuhkan kesadaran kerja sama oleh masyarakat.

Mengutip dari  Joice Mc dalam The psychology of hope memaparkan, bahwa harapan dan ketakutan adalah motivator. Keduanya memiliki kemampuan meningkatkan pendewasaan terhadap bentuk persoalan. 

Semoga kita semua dapat saling bekerjasama dalam menghadapi pandemi ini. serta membentuk rasa kesadaran kita. Untuk saling mengingatkan satu salam lain. Dan tidak memprofokasi masyarakat umumnya dan menjadikan kecemasan dari hati.

Muhammad Waliyuddin *Anggota Lembaga Pers dan Wacana (LPW) PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang. Mahasiswa jurusan Hukum Pidana Islam.*

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *