Ketua KOPRI, Alumni SIG Diharapkan Menjadi Pelurus Bias Gender

Semarang – Guna menambah pengetahuan tentang gender, kesetaraan, dan keislaman perempuan, KORP PMII Putri (KOPRI) Komisariat UIN Walisongo Semarang adakan Sekolah Islam dan Gender (SIG) pada hari Jumat- Minggu tanggal 21-23 Februari 2020 dengan mengangkat tema Dekonstruksi arah gerak kopri sebagai perempuan aswaja an-nahdliyah. 24/02.

Agenda ini dilaksanakan di SMK Sultan Trenggono Gunungpati yang diikuti 76 kader. Tidak hanya dari komisariat UIN Walisongo semarang saja, namun dari komisariat lain diluar Kota Semarang pun ikut dalam acara ini. Diantaranya Komisariat hasan munadi Ungaran, Komisariat wali biru kendal, Komisariat Tidar Magelang, Komisariat IAIN Pekalongan dan Komisariat IAIN Purwokerto.

Turut hadir Ali Imran selaku ketua Ikatan Alumni PMII UIN Walisongo Semarang, dan sekaligus membuka acara tersebut. Panitia juga mendatangkan pembicara yang kompeten dalam bidangnya seperti Nur Hasyim , Umnia Labibah, Mukhsin Jamil, Lenny ristiyani , Nur hakiki , Umar Said Burhanudin dan yang lain sebagainya.

Asyiroh selaku ketua panitia menuturkan bahwa Sekolah Isam dan Gender tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dibuktikan dengan banyaknya peserta dan jumlah laki-laki yang ikut meningkat.

“Tahun ini mengalami peningkatan yang begitu signifikan, minat dari para peserta lebih antusias dan jumlah peserta laki-laki pun berbeda dengan tahun sebelumnya”, paparnya.

Metode yang digunakan pun berbeda dengan tahun sebelumnya, ditahun ini lebih ditekankan dalam pendalaman materi dan pengimplementasian nantinya.

“Model pembelajaran dan pendampingan kader saat SIG cukup bisa terlihat baik. Dengan dilakukanya review materi setiap selesai materi dengan dilakukan Focus Group Discusiion ( FGD ) dengan di bagi beberapa kelompok”, ujar mahasiswa Hukum Pidana Islam tersebut

Sari Nurlita selaku Ketua KOPRI pun membenarkan bahwasanya metode yang digunakan untuk memahamkan dan untuk merealisasikan menggunakan metode yang berbeda.

“Tahun ini lebih menekankan pada kualitas pemahaman terkait materi-materi yang disampaikan. Dengan metode review per individu dan berbasis rapot alhasil akan ada reward untuk peserta”, tutur mahasiswa semester akhir tersebut.

Dia juga berharap bahwasanya alumni Sekolah Islam dan Gender ini dapat mengamalkan wacana Gender dan menjadi pelurus wacana tersebut dalam presfektif Islam.

“Goal dari Sekolah Islam dan Gender ini harapannya mampu membentuk kader-kader yang siap memahami dan mengamalkan wacana gender perspektif islam dikehidupan sehari-hari dan mampu menjadi pelurus bagi yang masih bias gender, Ujarnya di penghujung penutup acara. Red/Fat & Wal

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pandemi Global dan Apa Yang Sebenarnya Terjadi

Kam Mar 26 , 2020
Oleh : Ikhsan Maulana “Necessity expresses itself through an accident” Paruh kedua dasawarsa, Kapitalisme terlihat begitu murung. Berbagai krisis dan perlambatan ekonomi global telah membawa para ideolog demokrasi-liberal ke jurang keputus-asaan. Bahkan memaksa mulut besar Francis Fukuyama untuk menjilat ludahnya sendiri setelah tiga dekade lalu dengan pongahnya mengatakan Kapitalisme sebagai […]