Indonesia Tanpa Pacaran

oleh : Nandiyah PMII Rayon Ekonomi Kom. UIN Walisongo Semarang
Beberapa tahun terakhir, menyusul tenarnya media sosial instagram oleh beberapa kalangan terdapat sebuah fenomena yang menurut saya sangat menggelitik. Fenomena tersebut hadir sebagai dampak dari berkembanganya teknologi dan informasi serta keilmuan manusia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Saya tidak bisa mengatakan baik atau buruk hadirnya fenomena yang berkaitan dengan banyaknya akun dakwah yang bertebaran di media sosial terutama instagram. Media yang paling banyak di gauli oleh remaja masa kini. Akun-akun yang menyuarakan tentang kebaikan atau akun yang mengkultuskan diri sebagai media dakwah banyak di jumpai di lini masa instagram, termasuk salah satunya akun Indonesia Tanpa Pacaran (ITP).
Indonesia Tanpa Pacaran didirikan oleh seorang pemuda yang kemudian di panggil ustadz bernama La Ode Munafar asli Sulawesi Tenggara. Ia, La Ode Muanafar membuat akun Indonesia Tanpa Pacaran pertama kali di halaman facebook pada tahun 2015 silam kemudian merambah line dan instagram. Akun yang telah memiliki 850-an ribu pengikut di Instagram dan 400-an di facebook ini mebawa narasi tentang bahaya laten pacaran. Sudah pokonya pacaran itu haram ! pacaran itu gudang zina, pacaran hanya akan merugikan dan pacaran itu sumber maksiat, beragam narasi negatif berkaitan dengan pacaran di kampanyekan secara masif di akun ini.
Pada kesempatan kali ini, penulis tidak akan membahas apakah pacaran itu boleh atau tidak, tetapi yang menjadi perhatian penulis adalah objek dari kampanye tersebut. Sasaran akun atau gerakan ( karena telah ada kopi darat dan diskusi khusus) Indonesia Tanpa Pacaran adalah pemuda-pemudi mulai usia 15 sampai dengan 25 tahun. Meskipun kampanye ini bebas diikuti oleh semua kalangan, baik laki-laki ataupun perempuan akan tetapi yang menjadi pokok bahasan dalam narasi tersebut lebih kepada perempuan, begitupun dengan followersnya yang rata-rata perempuan berjilbab.
Sebagaimana yang penulis paparkan diatas, bahwa akun ini hadir sebagai kampanye untuk indonesia bersih dari yang namanya pacaran. Akan tetapi menurut hemat penulis, akun ini sebagaimana akun dakwah instan lainnya hanya memandang perempuan sebagai objek. Dalam beberapa postingan dikatakan bahwa perempuan mulia adalah mereka yang berdiam diri di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Saya tidak habis pikir dengan pemikiran yang seperti ini, seolah ingin mengatakan bahwa perempuan karir berarti sebuah petaka, tidak bisa dikatakan sebagai seorang perempuan sepenuhnya. Padahal ditengah perekonomian dan persaiangan ekonomi global saat ini, peran istri sangat diperlukan, setidaknya untuk membantu perekonomian keluarga dan oleh karena hal tersebut seorang perempuan harus memiliki keahlian.
Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, La Ode munafar melalaui Indonesia Tanpa Pacaran juga menyebutkan bahwa wanita adalah suatu keindahan dan menyukai keindahan. Oke pada narasi ini saja sudah terlihat bahwa perempuan adalah sebuah objek yang darinya terpampang keindahan untuk dinikmati, padahal perempuan bagaimanapun latar belakangnya ingin tetap dianggap sebagai subjek bukan objek. Perempuan juga ingin mendapatkan hak yang setara dengan kaum adam, tidak melulu di ranah dosmetik dan tidak melulu berkaitan dengan urusan mendidik anak, karena sejatinya mendidik anak adalah tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Sepenuhnya tanggung jawab suami dan istri.
Indonesia Tanpa Pacaran, agaknya memang menjadi sebuah angin segar ide dalam memproduktifkan pemuda-pemudi tanah air. Akan tetapi menjadi hal yang kontradiktif ketika mereka meneriakkan nikah muda menjadi solusi dari pacaran yang menjadi sumber utama zina. Padahal jika ingin mengkampanyekan Indonesia Tanpa Pacaran menurut pendapat penulis pribadi sendiri sah-sah saja akan tetapi tidak melalaui perbandingan pacaran dan tidak pacaran apalagi menjadikan nikah sebagai solusi yang mana saat ini beberapa aktivis tengah memperjungkan bahaya nikah di bawah umur. Agaknya jika La Ode Munafar lebih bisa melihat sisi pacaran dan apayang bisa dilakukan oleh seorang pemuda selain pacaran dalam hal-hal yang positif dan produktif bukan malah membuat narasi yang memicu kontra. Dan satu lagi, menjadikan perempuan sebagai objek dari kampanye tersebut menurut penulis  sangat tidak masuk akal, apalagi hampir di semua postingan selalu meyudutkan kaum perempuan dengan berbagai argumentasi sempitnya.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Si Bekisar Merah Dan Belantik Kekuasaan

Sel Feb 26 , 2019
Judul : Bekisar Merah Penulis : Ahmad Tohari Tahun Terbit : 2019 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tebal : 360 halaman ISBN : 9789792266320 Resentator : Inunk Ainul Yaqin Ketika membaca karya Ahmad Tohari fikiran dan jiwa kita terhanyut dibawa ke desa, menyaksikan keindahan alam sekitar, menelusuri lingkungan yang […]