Indonesia Darurat pemuda Melayat

Pmiiwalisongo.or.id – Ahmad Sajidim menyampaikan dalam prolog pengantar refleksi sumpah pemuda dengan tema Indonesia Darurat Pemuda Melayat, pada 28 Oktober 2019 di Tugu Muda Semarang. (29/10/19).

“Sahabat-sahabati sekalian tema refleksi pada malam hari ini mengangkat bahwa kondisi negara sedang darurat kondisi negara sedang sekarat, maka pada kesempatan pada malam hari ini mari kita bersama-sama sebagai kader pergerakan dalam an nahdliyah kita tahu kalimat tarj”, tutur ketua 2 PMII Semarang.

Kemudian pemuda yang akrab di sapa Ajid, mengajak seluruh peserta yang hadir untuk melantunkan kalimat tarji dan Shalawat asygil untuk mengungkapakan bahwa Indonesia sedang darurat. Dan untuk, mendoakan kepada mereka para penguasa yang zdholim dikumpulkan dengan orang-orang yang zdolim dan negara ini diselamatkan dari orang-orang yang zdolim.

“Beberapa waktu yang lalu kita telah ditontonkan oleh kedua penguasa yang mengaku sedang berpesta demokrasi, ada Presiden Jokowi dengan pak kyai Ma’ruf, kemudian Prabowo dengan Sandiaga Uno. Beberapa bulan yang lalu, telah tercipta konflik horizontal sehingga telah jatuh banyak korban tapi nyatanya hari ini telah resmi susuan kabinet ternyata keduanya baik baik saja”, ungkapnya.

Sahabat Ahmad Sajidin, menegaskan bahwa pesta demokrasi kemarin adalah pesta demokrasi yang palsu. Pesta demokrasi yang terjadi di Indonesia adalah pesta demokrasi yang membawa kepentingan-kepentingan kekuasaan.

“ Hari ini kita mengankat banyak isu. Beberapa minggu yang lalu tepatnya 23 september, sampai akhir paripurna DPR. Telah banyak korban jiwa yang sampai hari ini entah sudah ada penangannya apa belum, tapi kita lihat ketika ada pejabat satu saja yang ditusuk, tindakan yang begitu tapat dan sihgap dari negara. Artinya apa, secara hukum Indonesia jelas merupakan negara hukum yang tebang pilih”, tegasnya.

Kemudia beliau mengajak seluruh kader PMII yang hadir pada malah refleksi, untuk mengingatkan seluruh pemuda dan pemudi bangsa bahwa hukum tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

“ Selanjutnya, Presiden jokowi berjanji akan segera menuntaskan kasus kebakaran hutan, jika kasus itu kemudian tidak di selesaikan, maka mentrinya akan digeret, tapi nyatanya justru hadir mentri lingkungan hidup yang sama. artinya apa nyayian-nyanyian kiri nyanyian-nyanyian marginal yang “Janji Hanya Sekdar Janji” itulah realitas politik hari ini sahabat-sahabat”, ujar mahasiswa asal UIN Walisongo Semarang.

Maka dari masing-masing komisariat dipersilahkan untuk menyuarakan beberapa fokus-fokus isu yang menjadi garapan untuk di ekspresdikan pada malam refleksi sumpah pemuda kali ini.

Sebelum beranjak sahabat Ahmad Sajidin, mengakhiri prolog dari cabang sekedar mengantarkan, kemudian mengajak seluruh kader PMII yang hadir untuk menyanyikan lagu Rintihan Ibu Pertiwi.

“ Pesan kepada pemangku kebijkan hari ini, yang kemudian merancangkan Indonesia sebagai negara maju, tapi tidak berfikir mendalam. Berfikir mendalam berarti refleksi diri, maka hari ini kita melakukan refleksi berarti kita berfikir kedalam, bahwa dalam negeri ini masih banyak masalah sebelum kita melangkah jauh menjadi negara yang maju. Masalah-masalah itu kita himpun dalam berbagai hal yang dikupas oleh beberapa Komisariat yang ada di lingkup Semarang”. Ujarnya ketika ditemui oleh repoter Komisariat Walisongo.

“ Masalah ini kemudian sebagai pesan bahwa negara Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Jangan hanya fokus pada satu pembangunan infrastruktur, pembangunan ekonomi makro. Tetapi, tidak diperhatikan nasib-nasib rakyat kecil yang terkena korban penggusuran dan pembangunan dan lain sebagainya”, imbuhnya.

Kemudian Sahabat ketua 2 (dua) PMII Cabang Semarang, berharap buat kader PMII terkhusus Kota Semarang, tentu ini bukan sebuah akhir cerita. Akan tetapi, ini akan menjadi awal gerakan baik pengurus yang baru, kader baru, maupun kader yang sudah lama. Awal gerakan yang harus kita pupuk untuk selalu responsif dalam respon berbagai momen, respon berbagai isu, atas dasar nilai yang sama atas dasar nilai pergerakan, atas dasar nilai perjuangan yang berdasarakan dari hasil suara-suara rakyat.

Penulis : Arif

Editor : Waliyuddin

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Teatrikal Soko Bumi dari Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Semarang.

Sel Okt 29 , 2019
Pmiiwalisongo.id- Darussalam salah satu aktor dari Teatrikal Soko Bumi mengajak peserta untuk sejenak merenungkan, mengingat kembali kekerasan HAM yang terjadi di Papua beberapa waktu yang lalu, dalam refleksi Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober 2019, di Tugu Muda Semarang. (29/10/19). “Momen pada malam hari ini kami menampilkan teatrikal dengan mengambil tema […]