Ibunda : Revolusi dan Wanita

Judul : IBUNDA
Penulis : Maxim Gorki
Penerjemah : Pramoedya Ananta Toer
Tahun Terbit : 2002
Penerbit : Kalyanamitra
Tebal : 513 halaman
ISBN : 979-96267-0-6
Peresensi : Aji Yoga Anindita

Palagia Vlassov, seorang ibu yang hidup di masa Revolusi Demokratik Rusia sekitar awal abad ke-20. Hidup di perkampungan buruh yang kumuh dengan peluit pabrik yang menjerit-jerit. Memiliki suami bernama Michail Vlassov, laki-laki peminum berat yang berlaku kejam terhadapnya setiap saat.

Keadaan berubah setelah suaminya meninggal, Pavel anaknya menjadi aktivis buruh dan rumahnya menjadi pusat membangun kesadaran dan tindakan revolusioner kawan-kawanya. Dalam situasi itulah kesadaran ibunda terbuka dan menginsyafi siapa dirinya yang selama ini hanya mengenal ketakutan dan kesengsaraan. Ibunda pun tak segan membantu anak dan kawan-kawanya berjuang meretas jalan kebenaran untuk menerangi dunia dengan surga baru.

Sebuah karya monumental dari Maxim Gorki sastrawan Rusia yang menjadi saksi revolusi demokratik sekaligus pejuang berdirinya Uni Soviet. Pada masa mudanya Gorki sudah tertarik dengan paham sosialis dan komunis, serta mulai aktif berorganisasi dan berurusan dengan polisi. Sketsa-sketsa sastra pertamanya tentang kaum buruh, petani, gelandangan ditulisnya di tahun 1893, dan sejak itu pula reputasinya di bidang sastra dan politik semakin mencuat.

Novel ini diterjemah pertama kali di Indonesia oleh Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1955. dan diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Pembaruan tahun 1956. Akhir tahun 2000, dua tahun pasca reformasi, novel Ibunda kembali diterbitkan oleh Kalyanamitra sebagai refleksi atas transformasi kaum perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan dan penindasan era orde baru seperti tokoh utama novel ini, Palagia Vlassov.

Novel Ibunda secara keseluruhan mengisahkan pengalaman Palagia janda seorang montir pabrik. Tokoh utama dalam novel ini tidak ditampilkan sebagai sosok yang memiliki keindahan fisik. Badannya bengkok dan miring, wajahnya kerut dan alisnya terbelah oleh bekas luka. Penampilan yang lebih tua dari umurnya yang empat puluhan bukan saja akibat kerja berat, tetapi sepanjang perkawinannya hanya merasakan pukulan dan caci maki suaminya.

Praktek kekerasan dalam rumah tangga digambarkan sebagai keadaan yang sudah diterima sebagai keadaan hidup. Dan bagi anak gadis, seakan tidak ada pilihan lain saat menerima lamaran dari laki-laki yang menemui ayahnya. Melalui sosok yang paling menderita ini pembaca diajak memasuki dunia kaum buruh di Rusia dengan latar awal abad ke 20 saat benih-benih revolusi mulai tumbuh.

Seluruh hidup kaum buruh dikendalikan oleh peluit pabrik dan digilas kemiskinan, sehingga terdorong untuk lari pada minuman keras dan menyalurkan rasa getir dan marah kepada orang yang berada di posisi lebih rendah, terutama istri dan anak. Seperti Michail Vlassov, setiap hari mabuk dan menyiksa Palagia. Tak pernah ia bermesra dengan istrinya, bahkan menyebut istrinya saja dengan sebutan sundal (read: pelacur). [Hal 8]

Keadaan berubah setelah kematian Vlassov, lingkaran kepasrahan Ibunda dipatahkan oleh Pavel, anaknya. Pavel sangat membenci ayahnya yang dikuasi oleh alkohol dan kekerasan. ia juga menjadi saksi siksasan yang diterima oleh Palagia dari Vlassov.

Saat Remaja Pavel sempat hanyut pada arus lingkungannya yang hidup bersanding dengan minuman keras dan kekerasan. Tetapi setelah membaca buku-buku sosialis, ia berubah menjadi pemuda yang serius mencari apa yang dianggapnya menjadi kebenaran dan memikirkan usaha untuk mengubah lingkungannya. Bahkan Pavel menjadi tokoh sentral dalam merancang revolusi buruh Rusia.

Palagia merasa gembira bahwa anaknya selamat dari cengkraman alkohol, namun ia juga khawatir dan bertanya-tanya atas perubahan sikap anaknya. Apalagi ketia rumahnya mulai didatangi tamu-tamu Pavel yang membicarakan kata-kata sosialis dan komunis, didengarnya dari percakapan itu sehingga membuat Ibunda gemetar, karena ia dibesarkan dalam tatanan yang mensosialisasikan dua kata itu sebagai momok yang menakutkan. Kaum sosialis adalah penjahat dan penghianat yang melawan dan ingin membunuh Tsar.

Alur cerita berikutnya menggambarkan perubahan demi perubahan, namun bukan pada diri Pavel, tetapi pada Palagia. Cerita dalam novel ini intinya disampaikan dengan teknik narator orang ketiga, melalui sudut pandang tokoh sang Ibu. Narator masuk ke dalam visi Ibu yang sangat tekun pada agamanya. Misalkan, pada awal paragraf pembuka secara metamorfosis menggambarkan bagaimana hari demi hari terlewatkan bagaikan rosario yang jatuh di antara sentuhan jari, suatu gambaran yang mewakili cara sang ibu mendapatkan kekuatanya.

Melalui mata dan telinga sang Ibundalah, proses menuju revolusi sosialis tersampaikan. Perubahan pada diri Palagia dari rasa khawatir dan takut, menjadi pendukung setia gerakan anaknya. Bahkan Ibunda menjadi aktifis yang tak kalah bersemangat, digambarkan dalam novel ini tahap demi tahap. Salah satu yang membangkitkan kesadaran Palagia adalah perasaan positif yang dirasakan saat menyaksikan pertemuan-pertemuan anaknya itu. Ia melihat perdebatan sengit di setiap rapat yang berlangsung, tetapi tidak pernah satu kalipun diakhiri dengan kekerasan, suatu hal yang asing dalam kehidupannya.

Hal tersebut yang membuat Ibunda yang buta huruf tertarik untuk kembali belajar membaca. Dorongan itu muncul karena Palagia mulai tergelitik untuk ingin tahu berbagai macam hal yang dibicarakan Pavel bersama kawan-kawanya. Ia mulai membaca buku-buku tentang hewan, tumbuhan, negara-negara asing dan buku-buku anaknya.

Titik balik penting dalam kehidupan Ibunda terjadi saat anaknya dijebloskan ke penjara karena tuduhan menyebarkan pamflet perlawanan ke dalam pabrik. Inisiatif Ibunda untuk menyebarkan pamflet tersebut dan menyembunyikan ke dalam keranjang makanan jualanya, pertama-tama untuk menyelamatkan anaknya dan propaganda itu terus berlanjut. Saat usaha itu berhasil, Ibunda merasa bangga dan merasa dirinya begitu berarti.

Secara singkat, perubahan demi perubahan terjadi pada diri Ibunda. Berawal dari keberaniannya menyebarkan pamflet ke pabrik-pabrik, ia semakin gencar membantu anak dan kawan-kawannya untuk perjuangan yang baginya amat mulia. Hingga sampai pada akhir cerita Ibunda menjadi buronan Polisi, yang amat sering mendapatkan perlakuan subversif dari aparat.

Hal yang paling menarik dari novel ini yaitu perubuhan ideologi pada diri Ibunda. Palagia dapat mengaitkan faham persaudaraan buruh dengan sosok yang diimaninya, yaitu kristus yang mengorbankan dirinya untuk orang kecil. Pada saat yang sama, mata Palagia mulai terbuka untuk membedakan ajaran untuk mencintai praktek-praktek gereja dan pendeta yang memanfaatkan kekuasaan di atas penderitaan orang miskin. Palagia tidak lagi menjadi sekedar orang yang patuh pada ritual dan dogma agama, tetapi seorang yang menggali kepercayaannya dengan kristus tanpa tergoyahkan oleh kaum revolusioner yang umumnya tidak lagi percaya kepada Tuhan.

Novel Ibunda ini menunjukan bahwa keberanian dan keteguhan Palagia bisa mengubah posisinya dari sekedar makhluk yang dianggap bagian dari isi rumah belaka, menjadi tokoh yang diperhitungkan dalam perubahan masyarakat. Karya sastra monumental ini yang mewakili genre realisme sosialis sangat bagus untuk dibaca. Unsur-unsur propaganda dan gayanya mendeskripsikan keseharian dengan detail, membuat pembaca terbawa arus dan bisa tergugah kesadarannya dalam bergerak dan berperan dalam menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik.
Selamat Membaca….!

<

Selamat Membaca….!

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Desak Pemenuhan Perlindungan Hukum Masyarakat Adat

Rab Des 18 , 2019
Oleh: M Waliyuddin Sejak dahulu hingga saat ini kepemilikan tanah oleh masyarakat melahirkan konsepsi kepemilikan tanah yang sifatnya adat, yakni bernuansa kebiasaan masyarakat setempat yang terus menerus berlaku dari keturunan demi keturunan hingga melahirkan regulasi local (self regulation) yang disebut dengan tanah adat. Tercermin dalam asas-asas pengaturan dalam bentuk perundang-udangan, […]