Hitam Putih Diskriminasi Perempuan; Sebuah Kasus Laten

 

Diskusi Publik dengan Tema Hitam Putih Diskriminasi Perempuan; Sebuah Kasus Laten
Diselenggarakan oleh KOPRI PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang
(Senin, 17 Desember 2018)
Notulensi : Nurul Ifadah

LPM Justisia

Ada data mencengangkan mengenai kekerasan seksual yang ternyata juga terjadi di setiap kampus di Negara ini. tidak lupa hal ini juga menjangkit di perguruan tinggi Islam Negeri di Indonesia. kejadian ini terjadi di UIN Sunan Gunung Jati, IAIN Ambon, UIN Alaudin Makasar, IAIN Bandar Lampung, UIN Syarif Hidayatullah, dan UIN Walisongo. Baik itu dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswa, dosen kepada magang dan dilakukan mahasiswa terhadap mahasiswi.

Pelecehan yang terjadi di dalam kampus, oknumnya dilakukan oleh masyarakat yang bernaung di kampus. Seperti data yang didapat ada dosen, birokrasi, dan sesama mahasiswa. Pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja, pada laki-laki pun pernah mengalami. fakta di lapangan memang mayoritas korban daripada pelecehan seksual adalah kaum perempuan.
Dengan riset yang saya peroleh dari fakultas syariah sendiri, yang pernah melihat kasus pelecehan seksual ini ditunjukkan dengan data pernah melihat (33,7%), pernah mengalami (7,9%). Ini tidak menutup kemungkinan bahwa ini juga dapat terjadi di fakultas yang lainnya. Kasus kekerasan ini dapat berupa verbal maupun fisik. 
Korban pelecehan seksual yang memilih untuk diam sebanyak (21,6%), dan yang melapor atau mengadu ke orang lain entah teman atau sahabatnya sebanyak (61,9%) sementara korban tidak melapor kepada lembaga/birokrasi kampus yang memiliki otoritas lebih tinggi. Kemudian yang lainnya memukul (11,3%) dan berteriak sebanyak (5,2%). 
Biasanya korban memang memilih diam, karena merasa ini mungkin kesalahan dari si korban secara pribadi. Kasus pelecehan ini tidak menutup kemungkian juga terjadi disetiap fakultas di lingkungan UIN Walisongo. 

Nur Hasyim (Akademisi/ Dosen Fisip)

Pelecehan seksual yang terjadi di kampus harus disikapi secara bijaksana dan terjadinya pelecehan seksual di lembaga pendidikan menandakan kampus ini sedang berada dalam masalah. Dan saya tidak ingin kampus yang merupakan lembaga perguruan tinggi menjadi tempat persembunyian ternyaman bagi tersangka bagi pelaku kekerasan seksual.
Menurut survey, 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan seksual selama hidupnya. Ini bisa disebut prevalensi, ini sejalan dengan WHO dan dikonfirmasi oleh beberapa lembaga survei di Indonesia dengan beberapa responden laki-laki. Mereka (laki-laki) bahkan mengaku telah/pernah melakukan kekerasan seksual kepada perempuan. Kemudian data-data yang dikumpulkan oleh Komnas perempuan, tiap 3 jam, dilaporkan ada 2 orang perempuan yang mengalami kekerasan seksual.
Adapun beberapa kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dari survei tirto.id
  1. Perkosaan/percoban perkosaan
  2. Intimidasi bernuansa seksual
  3. Eksploitasi seksual 
  4. Pemaksaan pernikahan 
  5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual 
  6. Pemaksaan aborsi 
  7. Represi terhadap cara berpakaian perempuan 
Mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah laki-laki. Mengapa laki-laki berpotensi menjadi tersangka? ada 4 persoalan :
  1. Logika yang tidak tepat. 
  2. Ketidaktahuan tentang consent (persetujuan). Seperti kultur yang mengatakan, apabila perempuan diam, itu menandakan iya. Atau jika perempuan mengatakan tidak, berarti iya. FYI consent itu tidak ada yang menyatakan tidak, berarti iya. Melainkan, tidak ya berarti tidak. 
  3. Kebingungan akan intimacy dan hasrat seksual. Intimacy tidak selalu menandakan hal yang berhubungan dengan seksual, ada beberapa intimacy yang lain, seperti intimacy emosional, spiritual, dsb.
  4. Memaknai hubungan seksual sebagai kontrol dan kekuasaan. 
  5. Standar ganda tentang kesetiaan. menuntut pasangan setia tapi mentolerir kesetiaan diri sendiri
yang membuat laki-laki menjadi atau berpotensi menjadi subjek kekerasan seksual :
  1. Anggapan laki-laki menjadi subjek seksual
  2. Anggapan laki-laki lebih tinggi dari perempuan
bahkan kekerasan seksual dapat berasal dari candaan dari teman, atau meme yang biasa di sebar di medsos. joke yang melecehkan, disebut rape culture.
Untuk membendung kampus supaya tidak menjadi sarang pelecehan sesksual ada 3 dimensi penting yang harus dilakukan kampus menciptkan perguruan tinggi anti kekerasan terhadap perempuan lebih-lebih berupa pelecehan seksual:
  1. Transformasi konsep gender
  2. Transformasi pola relasi antara laki-laki dan perempuan
  3. Transformasi kebijakan
Adapun strateginya :
  1. Integrasi gender dalam proses pembelajaran
  2. Kebijakan afirmasi untuk perempuan
  3. Merumuskan kode etik dan sanksi isu kekekrasan perempuan
  4. Membagun mekanisme khusus dan lembaga pengaduan untuk kasus kekerasan seksual 
Nur Laela / Yaya (LRC-KJHAM)
Menurut CEDAW Pasal.1 bahwa kekerasan terhadap perempuan bentuknya ada pelebelan, pengucilan, pembatasan berdasarkan jenis kelamin. Dan bertujuan untuk kenikmatan.
Cedaw mengeluarkan penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan di segala bidang, agar laki-laki maupun perempuan mendapatkan kesetaraan yang sama. 
KJHAM pernah melakukan pengawalan terhadap korban yang mengalami kekerasan seksual oleh ayah dan saudara kandungnya sendiri. Yang ada, korban akan merasa sudah tidak berdaya, sudah merasa kotor, sudah tidak berguna, sehingga korban hanya pasrah dengan apa yang terjadi. Dalam proses pendampingan oleh keluarga, perangkat desa, maupun polisi kebanyakan, korban dan pelaku akhirnya dinikahkan. 
Padahal pelaku adalah seorang yang telah merusak hidupnya. Sehingga si korban akan selalu terkungkung dalam kekerasan selama hidupnya. Selain itu, kasus ini sulit dilaporkan, karna sulit untuk mendatangkan sanksi. Ada stereotype oleh aparat setempat, seperti polisi, perangkat desa, atau lain sebagainya. Sehingga dari KJHAM, melakukan kajian terhadap kekerasan seksual, kebanyakan memang korban disalahkan oleh aparat. 
Upaya penghapusan diskriminasi:
1. Pencegahan: diskusi dan kampanye
2. Penanganan dan pemulihan korban: Pendampingan korban dan menjadi konselor sebaya
3. Advokasi kebijakan
Harapannya, pmii dapat menjadi pelopor gerakan gender dan anti kekerasan seksual terhadap perempuan di dalam kampus. 
Sesi dialog
Penanya 1 :
Saya laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan seksual, walaupun tidak semua laki-laki menjadi pelaku. Sepertinya bagi kami (laki-laki) sulit untuk menghentikan perbuatan itu, karena sepertinya sudah mengakar. Jika melihat perempuan seolah ada nafsu dalam diri kita, perasaan ingin memegang bagian tubuh atau menelanjangi. Penanganan psikologis seperti apa yang bisa didapatkan oleh pelaku yang berhalusinasi dan berimajinasi seperti itu? 
Saya pernah mengagumi perempuan. Bahkan apapun yang dia lakukan, saya selalu ingin melakuakn hal yang perempuan tersebut lakukan. Jika si perempuan mengunjungi tempat tertentu, atau jika si perempuan duduk di sebuah kursi, saya selalu ingin pergi ke tempat itu dan duduk dikursi bekas si perempuan duduk. Tidak hanya itu, saya selalu minum minuman bekas gelas si perempuan yang saya kagumi tersebut. Apakah tindakan seperti itu dapat dikatakan kekerasan seksual? 
Jika saya suka pada perempuan, saya selalu melihatnya seperti telanjang. Dan jika misal saya menggambarnya (bentuknya) menurut imajinasi saya dan kemudian memajangnya di dinding kamar, apakah saya termasuk pelaku kekerasan seksual atau bukan?
Penanya 2 :
Saya pernah ngaji dengan kyai pada sekolah feminis, beliau bercerita bahwa ternyata seksualitas merupakan alat untuk meningkatkan spiritualitas. Ketika orang awam yg mendengar ini, sungguh ini tidaklah wajar. Apa hubungannya meningkatkan spiritualitas dengan seksualitas. Si kyai kemudian menjawab bahwa beliau seolah merasa lebih dekat dan sangat dekat dengan sang pencipta jika sedang memandang poster-poster perempuan telanjang, atau seseorang yang berhubungan badan. Saya ingin menanyakan, hal ini sebenernya sesuatu yang dilarang, atau memang benar seperti itu? 
Penanya 3 :
Beberapa hari yang lalu saya melihat dengan mata kepala sendiri apa yang telah terjadi di UIN Walisongo, dan itu terjadi pada teman saya sendiri. Saya kira ini merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap perempuan. Kronologinya, Saya dan teman saya mau keluar dari ruang dekanat, dan tiba2 dari arah belakang ada seorang birokrasi kampus memegang paha teman saya sambil tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dan memang benar, disitu kami merasa bingung sendiri dan takut untuk berbuat sesuatu, entah itu teriak atau melaporkan. 
Jawaban dari narasumber :
Penanya 1
-Kamu seharusnya mendapatkan kajian spritual agama
-ketika sesuatu itu tidak menimbulkan penderitaan kepada korban, itu bukan kekerasan seksual. 
Penanya 2
Tidak ada konsep untuk mendekatkan diri kepada tuhan tetapi malah menyakiti ciptaannya. Itu hanya modus untuk melakukan kekerasan seksual. 
Penanya 3
RUU penghapusan kekerasan seksual memang belum dibahas mendalam, sehingga menyebabkan korban sulit untuk melapor. Alasannya karena harga diri, keluarga, dan dikira cari sensasi. Maka dari itu mulailah kita harus saling peduli terhadap yang lainnya, sehingga segera mendapatkan tindakan dan membantu untuk mendampingi mereka mengadu. 
Jawaban dari narasumber Nurhasyim
Penanya 1
Laki-laki tidak dilahirkan menjadi pelaku kekerasan seksual, melainkan laki-laki belajar melakukan kekerasan seksual. Proses simbol gender sudah terjadi sebelum bayi-bayi dilahirkan. Sehingga laki-laki harus di dipahamkan bahwa power dan private menjadi sesuatu penderitaan terhadap perempuan. Sehingga laki-laki tidak mendominasi dan menindas perempuan.
Mencintai dan mengagumi memang bukan kesalahan. Tapi tidak kemudian untuk mempunyai hasrat untuk ingin memiliki, karena inilah yg menjadi persoalan. Sehingga perempuan diancam dengan teror. Prinsipnya adalah dominasi kekuatan terjadi karena relasi yang tidak setara. 
Penanya 2
Konsep kekerasan itu menimbulkan penderitaan, penindasan, maka kejadian itu bukan merupakan kekerasan seksual. 
Penanya 3
Harapannya, Laki-laki yang mengikuti diskusi ini setidaknya dapat mengontrol dan mengajarkan kepada laki-laki di luar sana untuk tidak melakukan kekerasan seksual. Agar anggapannya tidak semua laki-laki dapat dengan bebas melakukan pelecehan terhadap perempuan. (ed: INK)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Diskursus Perempuan di Era Globalisasi

Rab Des 19 , 2018
Ilustrasi: brettcolephotography.com Oleh sahabati Faiza Norjisatul Mustafida Globalisasi merupakan fenomena semakin terhubungnya antar-negara dan antar-individu di dunia, baik melalui hubungan ekonomi, politik, maupun sosial. Berkat kemajuan teknologi, semua hal semakin mudah dijangkau sehingga batas antarnegara menjadi kabur. Hal ini terjadi dalam berbagai sektor di kehidupan manusia. Penyesuaian dalam segala sektor […]