Gus Dur bagaikan Lilin

(sumber gambar : romojostkokoh.blogspot.com)
Sabtu 29 Desember 2018 Sinar lampu di Pastoran Yohanes Maria Semarang tiba-tiba padam. Suasana tampak berubah menjadi gelab gulita.
Namun acara peringatan Houl Gus Dur ke 9 tidak lantas berhenti. Masih ada lilin yang merelakan membakarkan dirinya memercikkan cahaya api untuk mematri di acara houl bapak bangsa itu. Abdurrahman Wahid.
Saat lilin dinyalakan Gus Dur bagaikan lilin yang bisa menerangi orang sekitarnya kala dilanda kegelapan. Gus dur telah menyalakan cahayanya untuk menyinari semua orang tanpa pandang dari mana orang itu berasal, agama apa yang mereka anut.
Cucu KH. Hasyim Asyari ini sama sekali tidak mempedulikan itu semua. bagi Gus Dur, membela kemanusiaan adalah nilai yang perlu dijunjung tinggi di dalam kehidupan berbangsa maupun beragama.
Dalam berbangsa semua manusia perlu diperlakukan sama, dihormati kedudukanya sebagai manusia. Dan ini tugas manusia sejatinya sekaligus tujuan daripada menjadi manusia. Perbedaan agama bukan berarti memperlakukan tak sama pada mereka yang tak seagama. Karena kehendak tuhan memang berkehendak tidak menyamakan.
Memaksakan yang berbeda agar sama, sama halnya melawan kehendak tuhan. Apalagi Indonesia negara dengan beraneka agama dan keyaqinan, bersuku dan berbudaya, terlalu dangkal jika kita hanya menyibukkan pada perbedaan tanpa mau melompat merubah pola pikir sekiranya perbedaan itu dijadikan rahmah.
Dan Gus sudah mencontohkan demikian. Bukan karena seagama Gus Dur bela, bukan karena segolongan denganya ia hadir. Tapi atas nama kemanusiaan, pembelaan ia gemakan.
Bila terjadi pembabatan pada kemanusiaan, Gus Dur berdiri tegak di sana. bila yang lain mengucilkan Gus dur datang membelanya, bila mereka mengkerdilkan Gus Dur mengangkatnya.
“Gus dur rela dimusuhi, dicaci, dan dibenci. Tidak seorang pun yang membenci gus dur dibalas dengan kebencian olehnya. Yang paling utama melekat padanya adalah pembelaanya terhadap kemanusiaan,” kata Romo Alysious Budi Purnomo, jumat malam (29/12)
Inilah Gus pembela kemanusiaan yang dimiliki bangsa Indonesia. meski lilin itu mulai redup, generasinya harus menyalakan kembali dalam arti meneladani yang telah Gus Dur warisi.
“Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan” begitulah kira-kira ungkapan untuk menyulutkan api perjuangannya.
Tepat pada acara houl Gus Dur, berkumpul orang dari berbagai golongan menghadiri acara houl bapak bangsa itu. salah satunya sahabat dekat Gus Dur dari Kristen Pendeta Tjahjadi Nugroho, Romo Budi dari katolik, Ahmadiyah, tokoh muda NU Iman Fadhilah, dan semua pihak berkumpul jadi satu tanpa sekat dan batas.
Menghadapi pesta demokrasi 17 April 2019 mendatang adalah momentum memilih capres dan cawapres untuk memimpin 5 tahun ke depan. Kiranya nafas houl Gus Dur yang baru di selenggarakan Desember kemarin di setiap wilayah patut dijadikan refleksi bersama menggiring pemilu nanti.
Jangan hanya karena memilih satu pasangan lalu mengobarbankan beribu kemanusiaan dilanggar. Ujaran kebencian harus segara dihentikan, saling menjelakkan satu sama lain jangan sampai terjadi.
“yang lebih penting daripada politik adalah kemanusiaan” begitu Gus Dur berpesan. (INK/Redaksi)

pmii walisongo

One thought on “Gus Dur bagaikan Lilin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hari Bahagia

Rab Jan 2 , 2019
(sumber gambar : Amazingfacts.id) oleh : Yaqien Himawan Tersambut ceria Mentari muncul dengan bahagia Burung-burung berkicau menyapa Seakan mengobati duka lara Hari demi hari terlewati Kasih sayang tak bosan ia beri Teruntuk kasih yang senantiasa melindungi Hangat cintanya Memeluk sukma seorang yang terpuja Tanpa ada ragu bahwa ia sangat bahagia […]