Gerakan PMII Harus Melihat Tanda Zaman

Oleh : Ahmad Muqsith
PMII Sempat bergumul dengan paradigma Kritis Transformatif, di masa ini kader PMII yang punya latar belakang santri bertemu filsafat di kampus-kampus. Tetapi beberapa pengamat menilai ternyata “ide”-anak kandung Paradigma Kritis Transformatif-yang digunakan sebagai basis ajakan bergerak bersama, tidak cukup mampu untuk menggerakan massa. “Ide” masih kalah dengan “kesamaan kultural”, artinya orang lebih mudah digerakan saat menemukan kesamaan ritual-praktik beribadah dibanding dengan ide/gagasan mewujudkan tatanan masyarakat impian.
Kammi yang sejak 1980-an mulai merambah kampus negeri diuntungkan sejarah. Saat PMII sudah mulai dengan “Ide/gagasan”, mereka memulai dengan ajakan kultural “semua praktik di serba islamkan”. Akhirnya, sekarang Kammi yang punya afiliasi dengan gerakan Gema Pembebasan bahkan HTI, bisa bertahan dan tumbuh subur di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. PMII pun kembali menggelorakan gerakan kulturalnya dengan berporoskan pada tradisi Aswaja.
Strategi gerakan PMII jadi menarik, zaman demokrasi yang secara sosial menemui titik post truth, lalu secara politik menemui post shamed, membuat PMII harus pintar-pintar menempatkan diri. Diskursus Positioning ini ada beberapa dimensi, (1) relevansi mempertentangkan gerakan parlementer dengan extra parlementer, (2) relevansi peninjauan ulang otoriter state-capitalis state.
Dimensi pertama, akankah PMII mau terus-terusan jadi anjing penjaga yang tuannya membawa dan mengamankan konstitusi? Sehingga siapa saja yang menggangu tuannya dia akan menggongnggong dan menghalau mereka, atau malah PMII harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri, yang secara pasti tahu kapan dan siapa penggangu konstitusi yang harus ia jaga?
Dimensi kedua, kecenderungan blunder pembacaan materi-materi sejarah gerakan mahasiswa adalah terjebaknya subyek pada sejarah zaman yang ia baca. Mkasudnya, sejarah yang ia baca adalah otoriter state dimana negara punya kendali penuh dan kuat terhadap banyak sendi-sendi kehidupan, tetapi subyek pembaca sekarang hidup pada zaman dimana negara bukan lagi untouchable. Negara sudah bahu membahu dengan pelaku ekonomi oligarki, pasar semakin leluasa, masyarakat sipil dan teknologi juga sudah beragam serta berkembang. Jadi, jika mahasiswa salah membaca atau bahkan terjebak pada sejarah gerakan mahasiswa yang tanda zamannya sudah berubah, maka dia hanya bisa mengkutuk tapi solusinya kurang solutif.
Terakhir, jika orientasi gerakannya perubahan sosial, maka mau tidak mau gerakan mahasiswa, terkhusus PMII harus mengoptimalkan keunggulan kulturalnya untuk melakukan penajaman ide-gagasan sosial-politiknya, jangan sampai malah sebaliknya, gagasan sosial-politiknya menjauhkan mereka dari basis kulturalnya. Seperti apa sosok yang bisa membawa PMII mengemban tugs sejarah zaman seperti itu? Individu yang sudah selesai dengan masalah “identitas” lalu beradaptasi dengan Teknologi dan terbuka pada semua ide dan gagasan
*Penulis merupakan seneor PMII Komisariat Walisongo angkatan 2011 

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tantangan PMII di Era Digital

Kam Agu 15 , 2019
sumber: winstarlink.com Oleh : Zaim Ahya’ Media di era digital memiliki banyak perbedaan. Tak hanya bisa mempengaruhi, media dengan bentuknya sekarang bahkan mampu memanipulasi perilaku masyarakat. Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor yang berperan perihal penyajian dan penyebaran informasi yang luar biasa. Dengan keajaibannya teknologi, sekarang media tak hanya […]