Generasi Milenial; Peluang Baru Strategi Kaderisasi PMII

Add caption : pmiigalileo.com
Oleh : Lianita Anggraini [1]
Semakin bertambah tahun, perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat dan canggih. Perkembangan ini mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup masyakarat Indonesia di berbagai lini kehidupan. Tak terkecuali mahasiswa. Generasi yang dihasilkan oleh perkembangan tersebut pun memiliki nama mereka tersendiri. Setelah sebelumnya ada Generasi X, sekarang muncul istilah Generasi Y atau lebih dikenal dengan Generasi Milenial bagi mereka yang lahir pada awal tahun 1980-an dan pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Generasi milenial ini justru lebih didominasi oleh kalangan mahasiswa yang memiliki peran penting bagi kemajuan bangsa.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berbasis kaderisasi harus mulai merumuskan strategi kaderisasi yang tepat untuk menghadapi kader-kader milenial. Perumusan strategi ini tidak hanya dilakukan oleh Pengurus Besar (PB) PMII selaku kepengurusan pusat. Akan tetapi, dari berbagai lini kepengurusan utamanya Pengurus Rayon (PR) dan Pengurus Komisariat (PK) harus bekerjasama mencanangkan strategi kaderisasi yang tepat karena 2 kepengurusan ini lah yang masih bersinggungan dengan kader di kampus.
Mengenal Generasi Milenial

Perkembangan teknologi yang begitu pesat sudah banyak dirasakan oleh berbagai lini masyarakat. Kecanggihan teknologi ini menyebabkan transisi gaya hidup di masyarakat. Pola dan gaya hidup masyarakat dari konvensional menjadi serba online memberikan dampak sosial yang begitu besar. Menurut (Kasali, 2017), Indonesia sedang menghadapi sebuah era baru, eradistruption. Dimana era ini membutuhkandisruptive regulation, disruptive culture, dan disruptive marketing. Secara garis besar, disruption merupakan inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Era ini dialami oleh generasi milenial. [2]

Generasi milenial dikenal juga sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas merupakan kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Menurut para ahli generasi ini lahir pada awal tahun 1980-an dan pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Karakteristik generasi milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Secara umum, karakteristik generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan komunikasi, media dan teknologi digital [3] . Namun ada beberapa spesifikasi karakteristik generasi milenial menurut ( Pew Reseacrh Center, 2010), yaitu:
1. Generasi milenial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah.
Generasi milenial dikatakan tidak lagi mempercayai distribusi informasi yang bersifat satu arah. Generasi ini cenderung mempercayai user generated content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Generasi ini tidak begitu percaya pada perusahaan besar maupun iklan, tetapi lebih kepada pengalaman pribadi (review atau testimoni) yang dilakukan oleh orang lain di internet untuk memutuskan melakukan pembelian terhadap suatu produk.
2. Generasi milenial lebih memilih ponsel dibanding televisi (TV).
Generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi dan internet ini tidak memprioritaskan televisi untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan. Kaum milenial cenderung menghindari iklan-iklan yang muncul di sela acara televisi dengan mengalihkan mencari informasi pada internet yang lebih cepat, mudah dan praktis.
3. Generasi milenial wajib mempunyai media sosial.
Komunikasi yang terjalin dengan generasi milenial sangatlah lancar, sayangnya komunikasi yang dijalankan bukanlah komunikasi tatap muka karena banyak dari generasi milenial lebih tertarik melakukan komunikasi melalui text messaging atau yang dikenal dengan chatting di dunia maya dengan akun yang berisikan profil diri sendiri, seperti twitter, line, instagram dan whatsapp.
4. Generasi milenial kurang tertarik membaca secara konvesional.
Populasi orang yang gemar membaca mengalami penurunan yang drastis pada generasi milenial. Bagi generasi ini, tulisan terasa memusingkan dan membosankan. Generasi milenial cenderung menyukai gambar terlebih jika gambar tersebut menarik dan berwarna. Tak jarang generasi milenial lebih menyukai membaca webtoon daripada buku cetak. Namun, tidak semua generasi milenial seperti itu, ada sebagian generasi milenial yang gemar membaca buku. Namun, tetap saja bukan buku dalam bentuk cetak yang biasa dijual di toko buku, akan tetapi generasi ini lebih memilih membaca buku online (e-book) sebagai salah satu solusi agar tidak perlu repot-repot membawa buku cetak.
5. Generasi milenial lebih paham teknologi dibandingkan orang tua mereka.
Semua kini serba online, tak heran generasi milenial menghabiskan waktunya hampir senantiasa online selama 24/7 untuk berselancar di dunia maya. Mulai dari berkomunikasi, berbelanja, mendapatkan informasi dan kegiatan lainnya. Sebagai generasi yang lebih modern dibanding dengan orang tua mereka, tak jarang mereka lah yang mengajarkan teknologi pada kalangan orang tua.
6. Generasi milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.
Riset Sociolab memperkirakan bahwa tahun 2025 mendatang, generasi milenial akan menduduki porsi tenaga kerja di seluruh dunia sebanyak 75%. Bahkan saat ini, tidak sedikit posisi pemimpin dan menejer telah diduduki oleh generasi milenial. Generasi milenial dinilai tidak loyal terhadap suatu pekerjaan atau perusahaan, generasi ini cenderung meminta gaji tinggi, jam kerja yang fleksibel dan meminta promosi dalam jangka waktu dekat.
Generasi ini biasanya hanya mampu bertahan di sebuah perusahaan kurang dari tiga tahun untuk berganti pekerjaan yang lain. Namun demikian, karena generasi milenial hidup di era informasi yang menjadikan mereka tumbuh dengan cerdas sehingga tidak sedikit pula perusahaan yang mengalami kenaikan pendapatan karena memperkerjakan generasi milenial [4] .
Mengutip pernyataan (Purwono, 2017) dalam tulisannya yang berjudul Peran dan Tantangan Pemuda di Era Generasi Milenial, di Indonesia ada sekitar 81 juta penduduk yang termasuk dalam generasi milenial. Berarti kurang lebih ada 32% generasi milenial dari total populasi masyakarat di Indonesia. Mahasiswa sebagai salah satu representasi generasi milenial yang ada di Indonesia dituntut untuk memiliki kualitas dan kinerja yang baik agar dapat bersaing nantinya sebab mahasiswa sebagai keluaran dari pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menentukan arah kemajuan bangsa karena bangsa yang maju ditandai dengan kualitas atau tingkat mutu dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi. Selain dituntut untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, pendidikan tinggi juga dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter terpuji dan memiliki sikap mental yang kuat dan tangguh [5] .
Membaca Peluang PMII

Sebagaimana yang sudah dibahas di atas bahwa generasi milenial saat ini berada di era distruption. Dimana era ini seharusnya lebih baik daripada era sebelumnya, sebab disruption adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Kader PMII harus memiliki disruptive mindset agar memiliki pola pikir yang kreatif sehingga tidak takut menghadapi perubahan termasuk munculnya kader milenial. Sebaliknya, jika kader PMII memiliki steady (fixed ) mindset maka yang akan terjadi hanyalah ketakutan yang tidak menghasilkan perubahan dan hanya terkurung oleh pengalaman masa lalu dengan menyangkal realitas baru. Karakter disruptive mindset dapat digambarkan sebagai berikut (Kasali, 2017) :
1. Respon cepat: tidak terhambat,
2. Real-time: begitu diterima, seketika diolah,
3. Follow-up: langsung ditindaklanjuti, tidak ditunda,
4. Mencari jalan, bukan mati langkah,
5. Mengendus informasi dan kebenaran, bukan menerima tanpa menguji,
6. Penyelesaian pararel; bukan serial,
7. Dukungan teknologi informasi, bukan manual,
8. 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu), bukan eight to five (dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore), dan
9. Connected (terhubung), bukan terisolasi.
Dari modal di atas, kader PMII perlu introspeksi diri untuk mempersiapkan strategi kaderisasi dalam menghadapi generasi milenial yang akan direkrut untuk menjadi kader PMII sehingga PMII sebagai organisasi yang memiliki visi mulia yakni keislaman dan keindonesiaan bisa terus memperjuangkan cita-cita luhurnya. Perumusan strategi kaderisasi adalah kewajiban bagi PMII untuk selalu memformulasikan dengan mentransformasikan pemikiran-pemikiran dari berbagai sudut pandang dan subyek yang berbeda untuk dibawa ke dalam diskursus untuk dilaksanakan dan direfleksikan.
Pemikiran-pemikiran tersebut nantinya akan dijadikan strategi kaderisasi untuk dimanifestasikan dalam menumbuhkembangkan kader. Secara umum, strategi (strategy) didefinisikan sebagai berbagai cara untuk mencapai tujuan (ways to achieve ends). Sebagaimana yang dirumuskan oleh Chandler, strategi merupakan the determination of long-term goals of an enterprise and the adoption of courses of action and the allocation of resources necessary for carrying out these goals [6] .
Strategi kaderisasi harus disusun berdasarkan nilai-nilai luhur dan tujuan PMII yang termaktub di dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Bab IV Pasal 4 yaitu : Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sehingga PMII mampu menjadikan insan-insan pergerakan yang memiliki citra diri yang Ulul Albab, yaitu kader yang mampu menjalankan nilai yang terkandung dalam Tri Motto (Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh), Tri Khidmah (Profesionalitas, Intelektualitas, dan Ketaqwaan) serta Tri Komitmen (Kejujuran, Keadilan dan Kebenaran) PMII.
Perumusan Strategi Kaderisasi

Menilik korelasi karakteristik generasi milenial yang serba ingin mudah, praktis dan pragmatis dengan peluang PMII dapat ditarik benang merah yang digunakan sebagai landasan perumusan strategi kaderisasi di kampus untuk ke depannya; Pertama, adanya penanaman etika sosial bagi kader PMII. Dalam konteks kehidupan bangsa, PMII memiliki prospek untuk dapat berperan secara tepat dalam jaringan yang strategis sebagai pelopor pembaharuan sebab dalam masa depan yang kompleks interaksi manusia dan lingkungan sangat dipengaruhi oleh pertimbangan kemanusiaan, arus informasi yang kuat dan global membutuhkan fungsionaris-fungsionaris organisasi yang dapat berperan bukan sekedar sebagai menejer, melainkan pemimpin dengan keyakinan agama teguh dan berfungsi sebagai agen kemajuan dan kesejahteraan di tengah proses-proses ketegangan dan perubahan dalam masyarakatnya. Adapun etika sosial yang perlu terus dikembangkan adalah.
1. Spiritualitas agama dan nilai-nilai kultur, selain hidup dan tumbuh dalam semangat, mentalitas dan kedalaman transendensi juga harus terekspresikan dalam segenap dinamika gerak dan perilaku, baik secara individu maupun secara kelembagaan.
2. Kemanusiaan merupakan harkat yang selalu dikedepankan dan menjadi pertimbangan utama dalam melihat dan merespon realitas, sehingga hak-hak asasi manusia, humanisme, demokrasi dan keadilan adalah agenda dan tema perjuangan PMII.
3. Menanamkan semangat pruralitas yang dapat diwujudkan dalam perilaku toleran, tawazun dan i’tidal.
4. Menanamkan etos populisme dan egalitarianisme agar kader PMII memiliki semangat untuk hidup terbuka dan jujur (inklusif) dalam rangka keterbukaan untuk mau berdialog dan belajar bersama dengan sumber peradaban lainnya.
5. Mengajarkan bahwa sejarah merupakan proses hidup yang bergerak sehingga kesadaran sejarah adalah etos dan perubahan untuk ingin terus menerus bergerak menuju perbaikan keadaan [7]
Kedua, memfokuskan gerakan advokasi. Pada umumnya, advokasi dilakukan dengan mengambil tiga bentuk gerakan, sosialisasi wacana, penyadaram dam pemberdayaan serta pendampingan. Ketiga gerakan ini selain ditujukan sebagai pendidikan politik masyarakat akan hak-haknya untuk mencapai angan-angan civil society, PMII perlu mengistiqomahkan pendampingan pada masyarakatnya dengan fokus mengadvokasi satu daerah dengan jangka waktu yang panjang (tidak hanya berhenti di satu kepengursan, akan tetapi dilanjutkan oleh kepengurusan setelahnya) karena tujuan advokasi tidak bisa terselesaikan hanya dalam kurun waktu satu tahun (kepengurusan Rayon atau Komisariat). Sehingga hasil dari advokasi yang sudah dilakukan memberikan dampak besar bagi masyarakat yang diadvokasi. Teknis advokasi pun bisa mulai menggunakan teknologi yang ada dengan memanfaatkan situs sosial media.
Ketiga, memberi ruang konseling bagi kader. Tidak dapat menafikan, bahwasanya generasi milenial adalah generasi yang membutuhkan ruang eksistensi diri. Dimana, bakat dan minat mereka ingin ditampung dan dijadikan peluang untuk merealisasikan kinerja organisasi karena dengan itu mereka merasa maksimal dalam berkontribusi di organisasi daripada hanya sekedar mengikuti program kerja yang mereka rasa kurang cocok untuk mereka. Di sini, Pengurus Rayon maupun Komisariat harus berpikir dinamis dengan tidak hanya terpaku pada program kerja yang sudah dicanangkan ketika Rapat Kerja (Raker), akan tetapi lebih fleksibel terhadap kebutuhan kader. Sebagai contoh, program kerja yang sudah dicanangkan adalah diskusi rutinan namun program tersebut rupanya kurang menarik sehingga tidak optimal pencapaian targetnya. Jika target dari program tersebut adalah mengisi kapasitas keilmuan kader, program itu bisa dialihkan dengan program lainnya seperti menonton film bersama lalu di sela film diisi dengan diskusi. Pengurus harus mulai memikirkan esensi daripada program yang dibuat jadi tidak terlalu rigid terhadap teknis.
Keempat, memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai media kaderisasi. Kecanggihan teknologi saat ini harus dipandang sebagai hal positif untuk menghasilkan strategi yang positif pula. Misal, dimulai dari pelatihan pengembangan bakat dan minat kader seperti: Desain Grafis, Blogger, Youtube, Pengelolaan Media Sosial hingga ke bidang wirausaha dengan jualan online. Selain melatih kader PMII untuk mandiri, ilmu-ilmu seperti ini juga menarik generasi milenial.
Banyak strategi yang bisa dirumuskan melalui pengemasan kegiatan lama dengan cara-cara baru (distruption) selama strategi yang dirumuskan masih sesuai dengan AD/ART Bab IV Pasal 4, perihal transisi tradisi lama menjadi tradisi baru bukan menjadi suatu masalah.
*Tulisan ini sebelumnya pernah diterbitkan di modul PKD PMII Komisariat Walisongo Semarang 2019

[1] Penulis adalah pengurus di Lembaga Pers dan Wacana (LPW) PMII Komisariat Walisongo Semarang, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Walisongo Semarang
[2] Kasali, R, 2017, Disruption, Jakarta: Gramedia
[3] Lebih lengkapnya mengenai Generasi Milenial dapat dilihat pada SWA.co.id (dalam bahasa inggris) pada 28-11-2017 yang berjudul Memahami Generasi Langgas (Millennials), diakses pada hari Rabu 20-03-2019 jam 20.42 WIB.
[4] Selengkapnya dapat dibaca padaMilenial: A Potrait of Generation Next yang ditulis oleh ( Pew Research Center, 2010)
[5] Lebih lengkapnya bisa dilihat pada Memandang Revolusi Industri & Dialog Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Indonesia yang ditulis oleh (Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2017)
[6] Lihat buku Manajemen Strategik, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2012), karya Ismail Sholihin
[7] Lebih lengkapnya bisa dibaca di buku PMII DALAM SIMPUL-SIMPUL SEJARAH PERJUANGAN, yang ditulis oleh Fauzan Alfa S, 2015.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Analisis dan Pengembangan Isu di Era Post-Truth

Ming Apr 7 , 2019
sumber ilustrasi : beritaoposisi.co.id Oleh : Muzni Muddastir Naim [1] Banjir informasi di era revolusi digital menghadirkan sejumlah dampak sosial. Yang menjadi masalah di masyarakat bukan pada bagaimana mendapatkan berita, melainkan kurangnya kemampuan mencerna informasi yang benar. Kredibilitas media arus utama yang selalu digerogoti kepentingan elit dan pemilik, memaksa masyarakat […]