Gelang Pink dan Biru COVID-19 Kabupaten Kebumen

Oleh : Aji Yoga A
Beragam cara dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi penyebaran COVID-19. Sejak diumumkannya COVID-19 sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020 jelas penyakit ini tidak bisa diremehkan. Jika kita telusuri, hanya ada beberapa penyakit saja dalam sejarahnya yang tercatat sebagai pandemi.

Melihat informasi baik dari televisi ataupun media sosial, pemberitaan begitu masif tentang pandemi ini. Banyak kita temui berbagai kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah dari tingkat pusat hinggai daerah. Seperti rapiet test, lockdwon, social distancing dan sebagainya. WHO sendiri meminta semua negara untuk meningkatkan mekanisme tanggap darurat corona dan memberitahu para warga negara agar dapat melindungi dirinya sendiri dari virus corona. Selain itu, para pejabat kesehatan juga diinstruksikan untuk menemukan, mengisolasi, menguji, dan menangani setiap kasus COVID-19.  Presiden Joko Widodo telah menghimbau untuk melakukan aktivitas di rumah saja untuk mencegah penyebaran virus ini. Bahkan di beberapa negara lain, seperti Italia dan Malaysia, mengimplementasikan lockdown untuk menekan angka penyebaran virus. (sehat.com)

Berbicara soal kebijakan pemerintah dalam penanganan COVID-19, di tingkatan daerah, kota/kabupaten mempunyai ciri khas tersendiri. Dari model edukasi, pencegahan ataupun penanganannya, bahkan sampai soal pemakaman jenazah sekalipun. Di Kota Tegal misalnya dilansir dari Kompas.com, pemerintah kota menerapkan lokdown lokal hingga empat bulan kedepan dengan menutup akses jalan masuk. Ada juga model yang sedikit mengocok perut di salah satu desa di Kabupaten Purworejo, adanya penjagaan ketat oleh pocong-pocong yang berkeliaran di sekitar desa orang yang menyamar jadi pocong untuk menakuti masyarakat yang keluar rumah.

Kabupaten Kebumen, daerah asal penulis sendiri, mempunyai kebijakan yang menurut penulis menarik untuk diceritakan. Pengendara yang masuk ke Kebumen akan diberikan gelang biru yang menandakan orang dalam pengawasan (ODP). Selanjutnya pendatang dari luar Kabupaten Kebumen yang suhu tubuhnya tinggi akan diberikan gelang merah muda yang menandakan pasien dalam pengawasan (PDP). ODP wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari di rumah dan PDP wajib melakukan pemeriksaan di RSUD/Puskesmas terdekat. (iNewsJateng.id).

Pemerintah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah menjaga ketat jalan masuk ke wilayahnya. Setiap pengemudi diwajibkan mengikuti cek kesehatan untuk mendeteksi gejala COVID-19. Setidaknya ada enam titik tersebar di berbagai pintu masuk perbatasan, antara lain di Kecamatan Mirit, Prembun, Padureso, Rowokele, Sempor, dan Kecamatan Ayah. Petugas akan melakukan penyemprotan kendaraan yang melintas dan pemerikasaan suhu badan, untuk menentukan gelang apa yang akan diperolehnya.

Hal tersebut juga dialami penulis ketika pulang kampung. Begitu masuk kawasan Kabupaten Kebumen, langsung dicegat oleh aparat yang bertugas, seperti BPBD, Polres Kebumen, Kodim 0709 Kebumen, Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan. Mungkin hal tersebut sedikit mengagetkan, bahkan ada yang mengira tilangan, hingga sampai beberapa pengendara kendaraan bermotor terburu-buru balik arah.

Menurut hemat penulis, kebijakan ini sangat bagus untuk pencegahan penyebaran covid 19. Apalagi belum adanya aturan tegas larangan mudik bagi masyarakat yang berasal dari zona merah, masih sebatas himbauan yang dipublikasikan lewat sosial media. Namun, ada beberapa yang mengganjal, baiklah jika mendapatkan gelang pink atau merah muda, langsung diarahkan ke puskesmas terdekat/RSUD Kebumen. Sedangkan bagi yang memperoleh gelang biru? Bisa saja, melepas dan membuangnya ditengah jalan, walaupun ODP bisa saja, orang tersebut terkena virus tanpa gejala. Perlu adanya kesadaran diri bagi ODP untuk karantina mandiri di rumah.

Karantina mandiri di rumah atau himbauan untuk tetap berada di rumah saja bisa menjadi momok tersendiri untuk masyarakat terutama bagi masyarakat yang mendapatkan penghasilan harian. Begitu juga bagi para perantau yang mengalami PHK akibat pandemi corona ini. Hal tersebut sangat disayangkan dengan belum adanya kebijakan yang memberi solusi bagi permasalahan tersebut, tidak hanya di Kebumen, di berbagai daerahpun merasakan hal serupa.
Adanya bantuan sembako, itupun inisiatif masyarakat atau organisasi yang terketuk hatinya untuk membantu. Belum satupun solusi yang penulis lihat dilontarkan oleh jajaran pemerintah Kabupaten Kebumen, untuk permasalahan ini. Semoga hal tersebut menjadi perhatian pemerintah, bukan hanya soal gelang, namun urusan perut masyarakat juga diperhatikan.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Refleksi 60 Tahun PMII: Harlah di Tengah Wabah

Jum Apr 17 , 2020
Oleh; Nanang Bagus Zuliadi Terhitung sejak 11 Maret 2020, World Healt Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan yang menggemparkan seluruh dunia. Lewat Direktur Jenderalnya, Tedros Adhanom, WHO secara resmi mengumumkan wabah penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi global. Diumumkannya COVID-19 sebagai pandemi global membuat banyak negara mulai mempersiapkan segala sesuatunya guna […]