Dominasi “Ajaran Privat Agama” Terhadap “Ajaran Publik Agama”: Sebuah Pengalihan Fokus

Oleh: Zaim Ahya’
Sebelum berbicara lebih panjang, penulis akan sedikit menyinggung terkait istilah yang digunakan penulis pada judul di atas: Ajaran Privat dan Ajaran Publik. Maksud dari pada ajaran privat agama adalah ajaran-ajaran agama yang sifatnya individual dan tidak terlalu menyentuh terhadap sosial masyarakat, atau mungkin agak dekat dengan istilah kesalehan individual. Sedangkan ajaran publik, yaitu ajaran agama yang sifatnya berhubungan dengan sosial masyarakat.
Di era sekarang, menurut pengamatan penulis, ajaran agama yang sifatnya privat, mendominasi ajaran agama yang sifatnya publik. Indikasinya, berapa banyak film-film dengan latar agama, namun yang ditonjolkan, bukan agama sebagai solusi masalah-masalah sosial, tapi lebih tentang percintaan yang “islami”. Bahkan sampai film Sang Kiai, yang notabenenya menceritakan kisah pejuang yang sekaligus pendiri Nahdlotul Ulama, ujung-ujungnya juga mengisahkan percintaan antara santri putra dan putri. Indikasi lain bisa kita amati di media sosial, berapa banyak pemuda dan pemudi kita membahas tentang jodoh dan cinta dengan latar agama.
Tak bisa dipungkiri, Islam juga menyinggung terkait jodoh dan percintaan yang sesuai dengan nilai-nilai yang islami, namun perhatian yang berlebihan terhadap hal itu, menurut pengamatan penulis, lebih mendominasi para pemuda-pemudi kita saat ini. Maka tidak mengherankan saat banyak pemuda-pemudi yang mendefinisikan “kebahagiaan” sangat sederhana. Mungkin kita sering melihat status “Bahagia itu sederhana, yaitu cukup bisa sarapan pagi denganmu, sebagai pasangan yang halal” atau yang serupa di media sosial.
Dominasi ajaran privat akhirnya juga membuat seseorang sering terjebak kepada hal-hal yang sifatnya kulit, bukan substansi. Misalnya terkait kemarin saat Raja Salman yang melakukan shalat saat berkumandang waktu shalat, dan meninggalkan Jokowi, beberapa teman kita sontak langsung berkomentar di akun media sosial masing-masing, tentang keutamaan Raja Salman tersebut. Tanpa mengindahkan konflik yang terjadi di Yaman, yang juga melibatkan Arab Saudi.
Contoh-contoh yang telah penulis sampaikan di atas, setidaknya sedikit banyak menggambarkan bagaimana dominasi ajaran privat terhadap ajaran publik agama. Dominasi tersebut akhirnya mengarah kepada pengalihan fokus. Karena lebih perhatian terhadap ajaran-ajaran privat, akhirnya mengukur kesalehan hanya dari hal-hal yang sifatnya pribadi atau dari hal-hal yang sifatnya kulit. Dan akhirnya lengah, atau lupa dengan ajaran-ajaran yang sifatnya publik, atau kesalehan sosial.
Bukti dari pada kelengahan tersebut, betapa sedikit para pemuda-pemudi kita yang paham terkait isu sosial seperti diskriminasi, eksploitasi alam yang merusak, kapitalisme yang kejam, ketidakadilan yang terjadi pada orang kecil dan lain sebagainya. Banyak dari kita, yang sudah merasa saleh dengan hanya melakukan shalat, dan mengingatkan temannya untuk memakai kerudung.
Apa yang telah penulis kemukakan di atas, bukan berarti penulis ingin melawankan ajaran privat agama dan ajaran publik agama sebagai oposisi biner. Tapi penulis melihat adanya dominasi yang seharusnya tidak terjadi. Bukan berarti ajaran privat agama itu tidak penting, dan menjadikan kita lupa terhadap ajaran agama yang sifatnya publik.
Ajaran privat dan ajaran publik agama laiknya dua sisi koin yang saling melengkapi. Oleh karena itu harus seimbang. Lalu kenapa terjadi dominasi seperti di atas, tidak lain adalah adanya kesalahan cara dalam memandang ajaran privat. Karena, bagi penulis, tak ada ajaran privat agama yang tak menyentuh ajaran publik. Salah satu contoh, dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa shalat itu menolak kekejian dan kemungkaran. Artinya, shalat tidak berhenti pada ibadah ritual belaka.
Ajaran Privat dan Publik dalam PMII
 
Tak dibisa dipungkiri bahwa PMII mewaris gerakan Islam tradisional, yang juga memiliki berbagai model gerakan. Misalnya, gerakan yang sifatnya seperti tahlilan, istigasah dan yang lainnya, yang sekarang dianggap hanya sebagai peningkatan aspek spiritual dan gerakan yang sifatnya intelektual-progresif seperti diskusi dan melakukan beberapa aksi.
Dua model gerakan di atas merupakan kekayaan PMII sebagai gerakan tradisional yang sekaligus progresif, oleh karena itu menafikan salah satunya tentu akan mengguncang PMII. Walaupun begitu, melihat PMII sebagai organisasi pergerakan, haruslah kegiatan-kegiatan seperti tahlilan harus berintegrasi dengan gerakan yang bersifat progresif. Dalam artian, PMII tidak boleh berhenti pada tahlilan.
Bagi penulis, tahlilan dan semacamnya masuk ke dalam ajaran privat PMII, yang tak boleh ditinggalkan, namun juga tak boleh mendominasi ajaran publik PMII yang berupa gerakan intelektual progresif, justru kegiatan seperti tahlilan dan semacamnya menjadi motor penggerak aksi nyata: gerakan-gerakan PMII yang bermuara kepada kesejahteraan masyarakat.
Kalau kita kembali ke sejarah, banyak aksi-aksi perlawanan kemerdekaan yang dimotori oleh gerakan tarekat. Bahkan ada yang menganalisis bahwa gerakan Pangeran Diponegoro juga ditopang oleh gerakan tarekat. Itu artinya, seyogianya kegiatan PMII yang model peningkatan spiritual haruslah bermuara kepada keadilan sosial.
Ajaran Privat Agama Sebagai Framing Gerakan Eksklusif
 
Berbicara tentang agama tak bisa dipisahkan dengan politik dan ekonomi (Baso: 2016). Kalau kita amati, rata-rata gerakan-gerakan eksklusif yang sekarang terlihat masif melakukan gerakan menggunakan ajaran privat agama sebagai framing gerakan mereka.
Mereka menggunakan bingkai religius sebagaimana telah disinggung pada paragraf-paragraf tulisan ini. Dan, menurut pengamatan penulis, pembingkaian ini berhasil mengelabui dan melalaikan dari misi-misi tersembunyi mereka. Orang-orang yang sudah gandrung dengan penampakan luar mereka, akan menjadi pengikut setia, tanpa mempertanyakan gerakan-gerakan sosial masyarakat yang bermuara pada kesejahteraan sosial. Bagi orang-orang tersebut yang penting “Islam”, tanpa memedulikan pandangan ekonomi politik mereka. Inilah yang penulis sebut sebagai strategi pengalihan fokus dalam judul tulisan ini. Sekian.
*Penulis merupakan demisioner PMII Komisariat UIN Walisongo periode 2011 dan pegiat di takselesai.com

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Abu Hafsin; Jadikan Aswaja Sebagai Manhajul Fikr Bukan Doktrinal

Rab Mar 27 , 2019
Notulensi : LPW PMII Komisariat Walisongo Aswaja sebagai suatu cara memahami Islam, supaya Islam dipahami dengan benar, tidak jatuh menjadi radikal dan tidak berkoloborasi dengan kekerasan. Penting memahami Islam secara baik dan benar. Abu Hafsin mengutip buku karya Charles Kimball berjudul “When Religion Becomes Evil” dalam buku tersebut Charles menjelaskan […]