Dinamika Gerakan Islam Di Indonesia

sumber : pedomanbengkulu.com
Oleh : Hasan Ainul Yaqin [1]
Persinggungan agama Islam di suatu wilayah khususnya di Indonesia cukup mewarnai dalam kehidupan berbangsa, beragama, dan bernegara di dalam masyarakat kita. Semenjak Islam hadir hingga menjadi agama dengan penduduk mayoritas di Indonesia menarik dikaji di setiap dinamikanya. Gerakan dan wacana keislaman menjadi diskursus yang cukup memantik perhatian. Sebab agama Islam yang kita amati cukup bercorak dalam mengekpresikan cara keislamanya di negara ini.
Tentu masalah gerakan dan pemikiran Islam ini tidak hanya berkait pada persoalan seputar agama saja. Kondisi politik dan sosial sangat menentukan keberadaan agama itu sendiri, seperti yang disampaikan guru besar UIN Sunan Kalijaga Khoiruddin Nasution mengatakan, bahwa untuk mempelajari sejarah, gerakan, dan pemikiran harus dikaji dalam tiga aspek, pertama, fakta sejarah atau pemikiran, kedua, latar belakang munculnya peristiwa atau pemikiran tersebut, dan terakhir, yaitu kontekstualisasi berdasarkan konteks. [2] Dalam poin kedua itulah yang penulis maksud, bahwa latar belakang munculnya gerakan atau pemikiran Islam di Indonesia, kondisi sosial, politik, dan budaya bangsa ini sangat menentukan peta dan gerakan Islam di Indonesia.
Tidak mengherankan, bila dalam tubuh agama Islam sendiri penganutnya mempunyai cara pandang tersendiri terkait agama yang mereka percayai, baik atas nama pribadi maupun yang tersalurkan dalam sebuah organisasi yang pada akhirnya dalam konteks tertentu melahirkan gerakan dan pemikiran yang berbeda-beda antara Islam ini dan Islam itu.
Bisa dikatakan kemajemukan dalam internal Islam sendiri sangat luas dan sangat banyak, tentu dengan kemajemukan inipula orientasi pemahaman dan gerakan di setiap internal pun berbeda-beda, lebih – lebih di era reformasi (saat orde baru tumbang) dimana gerakan Islam semakin mencuat. Dan disinilah kita harus mengkaji secara kritis soal nasib agama Islam di masa akan datang, mengingat corak Islam semakin warna-warni.
Saat kran demokrasi terbuka lebar, gerakan Islam yang sebelumnya bersembunyi di balik layar mulai membusungkan dada untuk mengekpresikan cara keislamanya tanpa harus merasa takut. Berbeda halnya ketika berada di kekuasaan yang otoriter, mereka harus menutup rapat-rapat. Golongan ini seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Forum Betawi Rempung dan golongan serupa. Dari kesemua golongan itu kemudian beranggapan bahwa Islam harus seperti yang masing-masing di antara mereka gagas dan wacanakan.
Gerakan Islam Era Kolonial
Zaman penjajahan, Islam begitu terdiskriminasi oleh pemerintahan kala itu. Gerak-geriknya selalu diawasi agar supaya tidak mengganggu kestabilan pemerintahan setempat. Kepentinganya berada di tangan penjajah, sementara golongan yang dijajah termasuk pemeluk agama Islam sendiri selalu berada di bawah tekanan. Penindasan yang diterima pun acapkali menghantam kehidupan masyarakat muslim. Sehingga pengucilan, penindasan, dan segala macam bentuk sewenang-wenang itu, ada inisiatif dari gerakan Islam untuk melawan tindakan yang telah memborbardir rakyat. Lahirlah gerakan yang bernama SI atau Sarekat Islam.
Orientasi gerakan dari golongan tersebut (SI) yaitu melawan segala macam bentuk penindasan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat. Pisau analisisnya yaitu agama Islam sendiri. seperti yang telah mereka percayai bahwa agama Islam bukan hanya sebatas agama yang mengajarkan sholat, ruku, dan ibadah yang sifatnya ritual dan individual saja, melainkan Islam yang beroritasi ibadah sosial. Ibadah sosial sendiri yaitu ajaran agama yang dapat melawan bentuk kesewenang-wenangan, agama revolusioner yang melawan status quo seperti yang pernah dipraktikkan oleh nabi Muhammad sendiri.
Nabi Muhammad ditolak oleh kafir quraisy pada waktu itu, bukan lantaran nabi mengajarkan ibadah yang sifatnya ritual, tetapi karena nabi membawa paham revolusioner yang menantang pemodal Mekkah yang sangat rakus dan serakah pada harta dan kekuasaan. [3] Inilah yang menyebabkan nabi mendapat halangan sangat berat dari mereka. Ajaran semacam inilah yang kemudian dijadikan sandaran oleh golongan sarekat Islam. Seperti H. Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Haji Misbach dan pemikir muslim Indonesia lainya waktu itu.
Sarekat Islam tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso pada awal 1912. Diberdirikanya organisasi tersebut oleh H. Samanhoedi bersama saudara, teman, dan pengikutnya. [4] Organisasi ini pada mulanya merupakan sebuah perkumpulan tolong-menolong untuk menghadapi kecu yang membuat daerah Lawean tidak aman karena sering terjadinya penculikan batik di daerah setempat. Hingga kemudian dari semakin intensif dan militanya, gerakan dari Rekso Roemekso tersebut kemudian semakin melebar dan membesar hingga akhirnya menjadi suatu perkumpulan yang sangat progresif untuk menentukan perubahan dan memberikan kontribusi terhadap kehidupan berbangsa.
Kemudian lambat laun namanya menjadi Sarekat Islam. Tujuanya pun dari perkumpulan tersebut semakin jelas, pijakanya bertambah terarah, dan mempunyai orientasi yang mengarah pada semangat pembebasan. Tujuan itu sebagai berikut, membuat anggota perkumpulan sebagai saudara satu sama lain, memperkuat solidaritas dan tolong-menolong di antara umat Islam, dan mencoba mengangkat rakyat untuk mencapai kemakmuran, kesejahteraan, dan kejayaan raja melalui segala cara yang tidak bertentangan dengan hukum negara dan pemerintahan.
Untuk memainkan peran sentralnya, gerakan Islam yang dimotori oleh Sarekat Islam mencoba memulai gerakan dalam melawan pemodal maupun pemerintah yang telah bertindak secara sewenang-wenang. Gerakan di sini baik melalui karya maupun aksi nyata. Dengan adanya terbitan surat kabar Oetoesan Hindia, Medan Muslimin, Islam bergerak dan surat kabar lainya cukup memberikan kontribusi untuk mengawal kondisi masyarakat setempat. Artinya Gerakan melalui tulisan yang disebar di setiap media tersebut menggambarkan bahwa gerakan literasi tidak bisa disepelekan dampaknya.
Artinya mahakarya sangat begitu dahsyat untuk mengawal roda pemerintah. Tulisan mampu mewakili mereka yang diam. Selain melalui penerbitan surat kabar, gerakan Islam yang dilakukan tubuh SI sendiri yaitu boikot atau pemogokan terhadap buruh. Sebab buruh padakala itu nasibnya berada di tangan modal, tidak bisa dipungkiri segala ketertindasan yang dialami buruh sangat membabi buta mereka. Maka di sinilah kemudian SI sebagai gerakan Islam memercikkan api kemarahanya untuk melawan gerakan rakyat dengan tujuan demi terciptanya masyarakat adil dan bermartabat. Karena itu segala bentuk penindasan harus dilawanya.
Lahirnya NU
Selanjutnya pada 1926 tepatnya tanggal 31 Januari lahir organisasi kemasyarakat bernama Nahdlatul Ulama (NU) organisasi ini diperkarsai oleh sejumlah ulama Nusantara. Alasan lahirnya organisasi ini tidak jauh berbeda dengan organisasi atau gerakan Islam lainya yang mempunyai motivasi beragam. Dari mulai alasan sosial politik untuk menggalang solidaritas umat Islam melawan Kolonial sampai pada faktor keagamaan. Seperti mempertahankan sekaligus menyebarkan wawasan teologi keagamaan.
Pada mulanya yang sangat berpengaruh lahirnya organisasi Islam di Nusantara ini adalah Sarekat Islam (SI). Dapat dibilang, keberadaan SI ini merupakan embrio yang memunculkan organisasi Islam di fase setelahnya, termasuk NU sendiri. Kelahiran SI ini momen yang tepat dimana masyarakat bingung dan membutuhkan basis ideologi bersama.
Sebenarnya lahir atau didirikannya NU sendiri bukan lantaran semata-mata Sarekat Islam tidak mampu menampung gagasan keagamaan para ulama tradisional. Melainkan pendirian ormas tersebut mempunyai sejarah cukup panjang atas kelahiranya. Pada tahun 1926 sebenarnya hanyalah bentuk penegasan formal saja terkait lahirnya NU. Namun tradisi NU sendiri dalam arti belum menjadi organisasi, sudah dilakukan oleh ulama-ulama NU sendiri sebelum NU didirikan [5] .
Artinya sebelum lahir dengan status organisasi jauh sebelum itu sudah dalam bentuk jamaah yang diisi oleh aktivitas masyarakat yang punya karakteristik sendiri. Dalam artian, jauh sebelum NU lahir, aktivitas sosial dan sikap keagamaan NU sudah dipraktikkan oleh sejumlah ulama di tubuh NU sendiri.
Sebenarnya alasan berdirinya NU sendiri ada beberapa pendapat yang berbeda paham antara pendapat satu dan lainya. Namun secara umum dalam buku “Nahdlatul Ulama Dari Politik Kekuasaan Sampai Pemikiran Keagamaan dijelaskan” ada 3 aspek yang dijadikan landasan berdiri organisasi terbesar di Indonesia ini.
Pertama, motivasi keagamaan. Maksudnya guna mempertahankan agama Islam dari serangan politik kristenisasi. Politik kristenisasi ini dilatarbelakangi karena adanya penjajahan Kolonial terhadap penduduk Indonesia yang di dalamnya banyak umat muslim tinggal. Akhirnya demi membendung arus politik kristenisasi dibentuklah perkumpulan atau organisasi bernama NU.
Alasan kedua, yaitu membangun semangat nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan, semangat inilah merupakan kata kunci supaya tercapainya kemerdekaan. Dari alasan kedua ini dapat kita telisik bahwa organisasi NU sendiri bukan sebatas untuk memenuhi kebutuhan agama saja, melainkan juga demi kebutuhan negara. Hal inilah dapat dijadikan bukti historis bahwa peran NU dalam menggalang semangat solidaritas gerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia tidak bisa diabaikan.
Nasionalisme merupukan ekspresi cinta yang tumbuh secara natural ataupun ditumbuhkan karena sebab proses politik seperti yang pernah diaplikasikan di tubuh NU. [6] Membangun nasionalisme, baik demi kepentingan primordial, seperti ras, agama, dan etnis, memabangun nasionalisme juga suatu bentuk perlawanan terhadap pihak asing. Pada kedua hal inilah NU berusaha membangun semangat nasionalisme dengan melawan kedua hal tersebut.
Dan alasan ketiga, yaitu untuk mempertahankan paham ahlussunnah wal jamaah dari serangan kaum modern Islam yang mengusung jargon purifikasi ajaran Islam. Sekitar abad 19 dan 20 sampai sekarang marak gerakan – gerakan yang cukup gentanyangan di ruang publik di berbagai daerah. Kemudian merembek ke Nusantara. Gerakan – gerakan itu kurang lebih sama, yaitu mempunyai karakteristik anti tradisi, puritan, dan revivalistik. Sementara dalam tubuh NU sendiri berusaha membendung arus yang masuk yang menurut NU sendiri kurang begitu relevan dalam konteks keberagamaan di Nusantara.
Maka di sinilah salah satu didirikan NU sendiri, yaitu sebagai organisasi yang diharapkan mampu berperan memfilter gerakan-gerakan yang sangat anti tradisi alias serba kemodernan. Bagi NU sendiri, tradisi yang sudah dipraktikkan dari masa-masa tetap dipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru, tanpa harus menghapusnya. (Almuhafadhotu ‘ala Qodimis sholih, Wal Akhdu Bil Jadidilil Ashlah) Inilah alasan berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama tersebut.
Perubahan NU

Pada tahun 1952 yang semula NU adalah organisasi masyarakat berubah menjadi partai politik. Perubahan NU menjadi Parpol lantaran Masyumi tidak mengakomodir gagasan NU. Apalagi masa NU yang tersebar di berbagai wilayah, di pedesaan misalnya yang sangat kental ke NU-anya sungguh naif apabila NU sendiri dipandang sebelah mata oleh Masyumi. Tentu ada alasan politis yang mendasari mengapa Nu dan masyumi bersitegang.
Sejak berubahnya menjadi parpol, NU kemudian menenggelamkan diri secara totalitas pada praktik politik kekuasaan. Meleburnya NU menjadi parpol adalah suatu bentuk upaya menyuarakan suara umat Islam di lingkugan birokratis. Akan tetapi meskipun sebagian masyarakat NU sudah meleburkan di politik praktis di kala itu, namun sebagian lainya tetap mempertahankan sebagaimana NU sendiri, yaitu pada aspek pemikiran keagamaan dan gerakan kultural yang dilakukan warga NU.
Gerakan Islam Era Orde Baru
Kemudian pada masa tahun 1984 adalah titik akhir NU yang bertaubat dari aktivitas politik praktis. Gerakan NU kemudian fokus pada gerakan-gerakan kultural seperti pendidikan, ekonomi, dan dakwah serta gerakan – gerakan lainya. Meskipun NU secara organisasi berhenti dari kegiatan politik praktis, tapi tetap saja masih ada kader-kader NU yang berkiprah di politik. Memang sulit memisahkan NU dari kegiatan politik, soalnya NU sudah terlanjur lama bersemayam dengan kekuasaan.
Karena itu, meskipun NU berpisah dari politik praktis, bukan berarti kader dan intelektual NU berhenti pula dari aktivitas poliltik praktis. Semenjak Orde Baru berkuasa, orang – orang NU dihabisi oleh Orde Baru karena dianggap mengganggu ke stabilan negara. Bukan hanya NU saja yang dibabat habis, gerakan Islam lainya pun baik yang sudah ada maupun yang mau ada tidak berani muncul dan tidak berani mengkritik kekuasaan yang ada. Mereka adem ayem tidak bergerak. Karena kalau bergerak mereka akan selalu diwanti-wanti oleh pemerintah Orde Baru. Hanya gerakan yang berkoalisi dan sepakat dengan Orde Baru saja yang masih eksis, itupun selama tidak mengganggu ke stabilan negara.
Gerakan Islam Era Reformasi
Akibat dikekangnya itulah kemudian saat Orde Baru tumbang atau pada era reformasi sampai sekarang gerakan Islam yang bergabung di berbagai organisasi keislaman muncul berhamburan dengan visi dan misi yang berbeda-beda yang sebelumnya mereka menutup rapat-rapat. Begitu kran demokrasi terbuka lebar, mereka menggunakan kebebasanya untuk melakukan gerakan-gerakan dengan menampilkan corak keislaman menurut keyakinannya masing-masing baik yang bercorak liberal, radikal, maupun fundamental.
Gerakan itu seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Forum Betawi Rempung (FBR). Gerakan Islam model ini lahir dari otoritarianisme, ketimpangan, aliansi terhadap Islam. Implikasi dari dikekangnya itu kemudian saat diberi kebebasan di era reformasi mereka menunjukkan identitas keislaman ke ruang publik tanpa harus ada yang ditakuti. [7]

Kepekaan pada kondisi itu kemudian gerakan Islam yang lahir di era reformasi terjewantahkan dalam bentuk ekpresi entah pemikiran ataupun tindakan yang diwakili oleh aktivis dari gerakan Islam yang sudah tergabung di organisasi. Organisasi itu diantaranya seperti NU, Muhammadiyah, Persis, SI, al-Wasliyah, DDII, LDII, MMI, FPI, HTI, Tarbiyah, dan Jamaah Tabligh.
Pada dasarnya respon yang digerakkan oleh semua gerakan Islam di atas suatu bentuk kritik terhadap pemerintah yang menurut anggapan mereka tidak becus dalam mengelola negara. Baik berurusan pada ranah politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Dan mereka mencoba memberikan solusi atas masalah yang dihadapi bangsa ini yaitu dengan cara yang berbeda. Ada yang secara radikal dan harus kembali pada Quran dan hadist, dengan tanda kutib mempraktiikan Islam secara an sich.
Cara yang dilakukan oleh golongan reaksional ini yaitu dengan berusaha melawan negara secara ekstrim. Golongan ini tergabung di FPI MMI, HTI, dan Gerakan Tarbiyah. Sedangkan, ada pula aktivis Islam yang kecenderungannya hampir tidak jauh berbeda dengan model yang pertama, hanya saja aktivis tipikal ini lahir dari ormas Islam yang sudah cukup mapan, seperti DDII, LDII, Persis, SI, al-Wasliyah dan Jamaah Tabligh. Sementara organisasi Islam yang lebih toleran dan menyatu dalam masyarakat seperti NU dan Muhammadiyyah. [8]

Meskipun NU dan Muhhammadiyah melakukan kritik terhadap negara seperti yang dilakukan oleh gerakan Islam lainya. Namun organisasi ini hanya sebatas kritik yang membangun tanpa harus mengubah paradigma Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar pada UUD 1945 dan berpedoman pada pancasila. Pergaulanya pun dengan agama yang berbeda, golongan ini lebih toleran dan menjunjug tali persatuan umat beragama.
Tentu di abad media seperti sekarang ini, gerakan Islam khusunya gerakan Islam garis keras semakin menyusup ke segala ruang dan waktu. Karena itu selama NU dan Muhammadiyah menjadi organisasi terbesar yang tetap eksis sulit bagi gerakan Islam lainya untuk bercokol sebagai gerakan yang dikiblati oleh masyarakat muslim Indonesia.
Namun bukan berarti tidak mungkin gerakan itu semakin mewaban lalu kemudian pada akhirnya membentuk agenda besar dan berusaha menyaingi NU – Muhammadiyah. Oleh sebab itulah kader PMII yang menjadi kader dari NU sendiri yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, kesejahteraan dan persaudaraan berdasar pada agama dan dasar negara pancasila dan UUD 1945 harus ambil peran agar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tetap kokoh
*Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di modul PKD Komisariat UIN Walisongo 2019. 

[1] . Pengurus Lembaga Pers Dan Wacana PMII Komisariat UIN Walisongo dan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum
[2] . Muhammad Alif Kurniawan dkk. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam Dari Masa Klasik, Tengah, dan Modern 2014.
[3] . Artikel Hasan Ainul Yaqin. https://ksmwsemarang.com/agama-harus-menjawab-persoalan di akses pada Rabu, 20 Maret 2019 pukul 09.22
[4] . Takashi Shiraishi. Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di jawa 1912-1926. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti. 2005 hal 55
[5] . Sumanto Al Qurtuby. Nahdlatul Ulama Dari Politik Kekuasaan Sampai Pemikiran Keagamaan. Semarang : Elsa Press. 2014 hal 3
[6] Subhan Setorawa dan Soimin. Agama dan Politik Moral. Malang. Intrans publishing. 2013 hal 47
[7] .Wasisto Raharjo Jati. Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia. Jakarta: LP3S. 2017 hal 77
[8] . Ismatila An- Nu’ad. Islam Kanan; Gerakan Dan Eksistensi di Indonesia. Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hiyatullah Jakarta yang dimuat di Jurnal DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.49-66

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Studi Advokasi dan Pendampingan Masyarakat

Ming Apr 7 , 2019
berdesa.com Oleh: Muhammad Bahrul L. [1] Modernisasi merupakan wujud bagian dari adanya sebuah perubahan sosial yang direncanakan. Perubahan yang terjadi menjadi akibat dari modernisasi. Sehingga banyak sekali pola fikir atau cara pandang manusia yang berubah yang disebabkan oleh proses berkembangnya modernisasi itu sendiri. Setidaknya masyarakat harus siap terhadap perubahan yang […]