Digital Movement, Arah Baru Kaderisasi PMII

Oleh: M Waliyuddin

Arus pengutamaan dalam penguatan basik kaderisasi menjadikan PMII seharusnya membuat arah baru dalam masa pengembangannya. Tak bisa di pungkiri era revolusi industri 4.0 saat ini menuntut PMII untuk mengikuti perubahannya. Dimana pola partisipasi organisasi terhadap masalah-masalah dan perkembangan yang di hadapi oleh agama islam, masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia harus dijawab melalui gerakan milenial.

Melihat teknologi saat ini menjadi rujukan utama dalam menggali informasi, hal ini yang seharusnya dimanfaatkan kader-kader PMII. Perlu adanya perombakan sebuah sistem kaderisasi yang bertransformasi dengan mengupayakan kadernya untuk tetap belajar mengikuti perubahan.

Penulis hanya mengupayakan gagasan yang mungkin bisa menjadi sebuah harapan bagi kader-kader PMII di seluruh Indonesia. Ada beberapa kegelisahan sebenarnya yang membuat kita semua resah terhadap kader.

Pertama lemahnya daya kritis kader. Tanpa kita sadari lemahnya budaya membaca dan menulis membuat pikiran mereka tumpul, sehingga semisal dihadapkan dengan kader ekstra lain mereka tak bisa untuk mengimbanginya. Kedua, perlunya memplot kan skill dari kader kita. Ini yang terkadang kita lupakan, sebagai aktvis pergerakan jangan hanya sibuk memupuk intelektual tanpa melatih skill yang dimiliki kader. Ketiga, memposisikan diri kader sebagai teman belajar kita, bukan malah kader dianggap sebagai junior. Sehingga mandset yang timbul bahwa kader dianggap lebih rendah.

Hal ini yang seharusnya kita perhatikan bersama untuk membangun nalar kritis kader PMII. Dengan cara apa?. Dengan acara memanfaatkan teknologi yang ada. Sudah jelas kita telah dimanjakan dengan teknologi informasi yang begitu canggih tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Perubahan Melalui Digital Movement

Sebagai organisasi dengan kaderisasi yang begitu pesat mungkin tak heran jika kita terkadang kewalahan untuk mengkoordinir ribuan nya. sehingga perlunya terobosan kaderisasi baru untuk membuat perubahan dalam pemanfaatanya.

Gagasan ini bermula ketika kami bercerita kepada salah satu IKA PMII UIN Walisongo Semarang. PMII UIN Semarang setiap tahunnya mampu me MAPABA kan sekitar 1500 kader dari 8 Rayon. Antara lain Rayon Syariah, Rayon Dakwah, Rayon Ushuluddin, Rayon SAINTEK, Rayon Gusdur, Rayon FISIP, Rayon FPK, Rayon ekonomi.

Gejala yang timbul bagi kader milenial saat ini, mereka seakan merasa bosan dengan sistem kaderisasi yang dianggapnya biasa-biasa saja. Lalu apa yang seharusnya dilakukan?

Pertama milenial menyukasi sebuah visual. Mungkin ketika penyampaian di salah satu materi MAPABA. Pemateri sebisa mungkin menyampaikan dengan cara milenial pula. Seperti halnya mempraktekan dengan memunculkan video grafis berjalan. Sehingga mandset yang pertam muncul ketika para mahasiswa baru ber MAPABA. Oh ternyata PMII kreatif sehingga mereka mempunyai keinginan untuk mempelajarinya.

Kedua perlunya pembelajaran baru yang di suguhkan kepada kader milenial. Seperti halnya materi literasi digital, pelatihan desgn grafis, videografis, layouter,atau fotografi. Mereka cenderung menyukai materi seperti itu. Namun tak juga melupakan materi subtantif yang di suguhkan kepadanya.

Ketiga penciptaan aplikasi digital PMII. penciptaan aplikasi PMII di setiap rayon mungkin akan memudahkan kaderisasi. Mulai dari database. Dan materi-materi yang kita suguhkan kepadanya kita masukan semua disana. Kaya sekolag jurnalistik sekolah ASWAJA, sekolah Advokasi dll. Sehingga kader termudahkan dalam belajar kapanpun dia mau.

Ini menjadi tantangan baru bagi PMII saat ini. Tidak saatnya kita memupuk masalah di internal sendiri, sehingga terjadi perpecahan di pelbagai pihak. Saat ini bagaimana caranya kita membuat gagasan se kreatif mungkin untuk dijadikan rujukan para kader dalam belajar dan memanfaatkannya.

Pergerakan secara visual yang memiliki subtantif di munculkan namun tak lupa dengan kehadiran PMII yang utama adalah menjawab dinamika sosial yang terjadi di masyarakat khususnya. Karena bagaimanapun PMII lahir dimuali dari kegelisahan sahabat-sahabati saat itu. Melihat gejolak yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Maka dari itu untuk memberi jawabannya maka lahirlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Mungkin hanya itu yang menjadi gagasan kami mewakili sahabat-sahabati PMII di seluruh Indonesia. Bila belum dapat diterima kurang lebih mohon maaf yang sebesar-besarya.
Mundur selangkah adalah sebuah bentuk penghianatan, perubahan lahir dari pergerakan, kader PMII menjadi sebuah harapan bagi tombak perubahan. Tangan terkepal dan maju kemuka. SALAM PERGERAKAN !!!!!!!!!!

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketua KOPRI, Alumni SIG Diharapkan Menjadi Pelurus Bias Gender

Sel Feb 25 , 2020
Semarang – Guna menambah pengetahuan tentang gender, kesetaraan, dan keislaman perempuan, KORP PMII Putri (KOPRI) Komisariat UIN Walisongo Semarang adakan Sekolah Islam dan Gender (SIG) pada hari Jumat- Minggu tanggal 21-23 Februari 2020 dengan mengangkat tema Dekonstruksi arah gerak kopri sebagai perempuan aswaja an-nahdliyah. 24/02. Agenda ini dilaksanakan di SMK […]