Dampak COVID-19 Pada Ibadah Agama

Sudah hampir 1 bulan lebih kita semua melalui masa karantina yang kita lewati dan sampai sekarang belum ada titik cerah untuk mengatasi pandemi covid-19 ini, yang bisa kita lakukan untuk saat ini hanya mematuhi aturan pemerintah dan menunggu semuannya membaik, walaupun sangat sulit untuk bisa terus terusan stuck bertahan dalam kondisi seperti ini.

Virus yang kedatangannya mengagetkan seluruh dunia memaksa kita untuk beradaptasi dengan kondisi baru. sangat banyak sekali yang dirugikan, bahan pangan semakin melonjak, perekonomian amburadul, dolar semakin naik dan masih banyak lagi, himbauan “stay at home” memaksa kita merubah kebiasaan kebiasaan kita sehari-hari, yang awalnya kita harus bekerja, bersekolah atau melakukan aktifitas diluar sekarang harus berfikir bagaimana mengisi waktu luang dengan kegiatan positif yang bisa dilakukan dirumah,

mengubah pola hidup sehat selama karantina karna tidak diperbolehkan ke tempat kebugaran seperti gym, sampai tata cara beribadahpun harus berubah. Padahal selain perekonomian agama juga mempunnyai peran yang cukup penting dalam menghadapi segala aspek kehidupan, dalam situasi apapun kegiatan keagamaan menjadi wujud dari eksistesi komunitasnnya.

Sudah hampir masuk minggu ke 3 ini kegiatan solat jum’at resmi ditiadakan, anjuran ini bahkan sampai ke kampung-kampung yang masih minim edukasi tentang COVID-19 hingga dibeberapa tempat tetap mengadakan sholat jum’at dengan alasan keimanan lalu membuat aturan sendiri seperti membawa sajadah sendiri dari rumah dan memakai masker. Lalu yang paling menghebohkan adalah digantinnya lirik adzan di Quait yang menganjurkan umatnya untuk sholat dirumah yang membuat gempar umat muslim diseluruh dunia, lalu setelah itu larangan mengunjungi mekah dan madinah baik haji ataupun umroh yang masih diberlakukan sampai saat ini.

Masyarakat khususnya umat Islam sangat khawatir dengan kondisi yang sampe sekarang belum dapat dipahami, apalagi sudah H-2 memasuki bulan suci rahamadhan yang mungkin akan merubah kebiasaa-kebiasaan rahamadhan mereka yang sudah menjadi ritual tahunan seperti melakukan sholat tarawih berjamaah dan melakukan takbir keliling, dan mudik ke kampung halaman.

Pandemi ini bukan hannya memaksa perubahan ritual keagamaan pada umat muslim saja, umat hindu yang seharusnya merayakan festival holi yang dilakukan dengan berpesta dijalanan sambil menaburkan bubuk warna ke udara dan saling merias wajah dengan warna, yang merupakan peringatan kemenangan kebaikan atas kejahatan, musim semi, cinta dan kehidupan baru harus ditiadakan. Dikutip dalam VIVA NEWS(11/3/20) perdana menteri India Narendra Mody mengatakan tidak akan ambil bagian pada perayaan Holi tahun ini, walaupun beberapa masyarakat masih merayakannya dengan turun ke jalan memakai masker atau saling mengucapkan selamat via telfon.

Kepala rabi Israel David lau telah mengeluarkan imbauan untuk tidak menyentuh ataupun mencium mezuzah atau gulungan berisi tentang ayat agama yang ditempatkan ditiang pintu rumah. Divatikan paus mengubah penyampaian berkat minggu dengan melalui media internet ini dimaksudkan untuk mengurangi kerumunan, gereja katholik mengubah cara melaksanakan misa, para meletakan hosti ditangan bukan di mulut para jemaat seperti yang biasannya mereka lakukan.

Pemerintah, tenaga medis, tim relawan, dan para tokoh keagamaan berusaha memikirkan cara terbaik untuk menuntaskan pandemi ini, karna pada dasarnya dalam menghadapi wabah covid ini semua agama berupaya untuk berpartisipasi dalam penyebaran wabah ini. Untuk itu kita hanya perlu diam dirumah sampai semuanya membaik, itu adalah satu-satunnya cara untuk membantu sesama. Berhenti berharap atau menunggu kapan bisa melakukan kebiasaan kebiasaan seperti sebelumnya, karna setelah pandemi ini selesai yang akan kita terima adalah “new habit”.

Penulis Pengurus LAKW PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang*

M Waliyuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menyikapi Hoax dan Hiperrealitas Masyarakat di Masa Pandemi

Rab Apr 29 , 2020
Oleh : Elviana Feby Dwi Jayanti (Kader PMII Rayon Ushuluddin) Virus corona menjadi masalah serius yang dialami hampir seluruh negara di dunia.  World Health Organization (WHO) juga telah mengumumkan lewat Direktur Jenderalnya Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, bahwa virus Coronavirus Disease (Covid-19) yang tengah merebak saat ini bisa dikategorikan […]