Covid 19 Mencekik, Rakyat Menjerit

sumber gambar :antaranews

Oleh : Silvi Afrida (Kader PMII Rayon Syariah)

Virus Covid 19 (corona) menjadikan masyarakat yang semula bekerja dipasar mulai menjadi gusar,mereka kehilangan pelanggan bahkan pemasok barang dagangan. Terlihat di Pasar Weleri, Kendal yang semula sesak penuh desak, kini lenggang hanya ada para pedagang. Hal tersebut juga berdampak pada supir angkutan umum yang tidak mendapatkan penghasilan, karena banyak orang yang tidak menghendaki menggunakan transportasi angkutan umum sekarang ini, mereka lebih merasa aman ketika mengendarai kendaraan pribadi.

Keadaan pasar berimbas dengan semua bidang pekerjaan lokal, mulai dari supir angkutan, tukang ojek yang kehilangan penumpang, dan petani yang harga hasil pertaniannya mengalami kemerosotan saat memasok ke pasar. Misalnya Bapak Heneng, petani buah semangka di Desa Sendang Sikucing, Rowosari yang penulis temui di rumahnya, harga jual dari hasil panennya mencapai 19 ribu rupiah sebelum adanya pandemi covid 19 ini, sedangkang harga jual sekarang ini sudah turun drastis menjadi enam ribu rupiah. Hal tersebut juga dirasakan oleh petani semangka lainya, Bapak Casudi yang penulis temui di rumahnya juga. Padahal selisih waktu penjualannya hanya satu bulan, lantas bagaimana dengan seiring waktu apakah akan terus merosot atau akan mulai naik?.

Nelayan pun tak luput dari pengaruh pasar, harga jual hasil tangkapan merosot, bahkan hingga setengah dari harga semula. Misalnya saja ikan jenis tongkol yang harganya semula tiga ribu rupiah perkilonya kini menjadi lima belas ribu rupiah perkilonya, hal ini terjadi karena Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sepi penjual, bahkan pembeli. Para karyawan pasar mulai dikeluarkan, mereka kehilangan pekerjaan juga penghasilan, begitu pula dengan buruh pabrik yang kemudian di rumahkan bahkan tidak sedikit yang di Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Lantas, semua orang beralih profesi menjadi penjual masker buatan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Bapak Santo Martinus, warga Desa Karangsari yang semula penjual pakaian. Karena wabah covid 19 ini  pakaian dagangannya menjadi sepi pembeli, kemudian beliau di setor bahan masker dan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pemilik konveksi untuk diproduksi di rumah. Hal tersebut juga membuat warga sekitar yang sudah kehilangan pekerjaan karena pandemi ini mulai ikut bekerja memproduksi masker di rumahnya tersebut.

Covid19 sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama di bidang ekonomi. Buruh, pedagang, nelayan, petani, dan sebagainya. Tidak sedikit yang mengalami kerugian, namun di sisi lain, pengusaha farmasi, masker, APD, dan alat medis lainnya memperoleh keuntungan. Bahkan berbagai produk sabun anti septik, dan handsanitizer terdapat kelangkaan, karena masyarakat mulai melakukan panicbuying terhadap produk semacam itu.

Di bidang sosial sendiri, wabah covid 19 menyebabkan antara warga menjadi saling waspada dan menaruh curiga. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Desa Sendang Sikucing, Seorang Bapak yang pulang dari Jakarta dan dinyatakan sakit, kemudian dirawat di RSUD Kendal, beberapa hari kemudian beliau dinyatakan meninggal. Karena Jakarta sudah masuk zona merah, maka banyak yang beranggapan bahwa beliau terinfeksi covid 19, dan tidak ada warga yang berani mengurus pemakaman jenazahnya, sehingga pihak RSUD  yang menangani pemakaman tersebut. Hingga pada akhirnya diketahui bahwa Bapak tersebut mengidap penyakit diabetes, bukan covid 19.

Perubahan demi perubahan terjadi di masyarakat akibat pandemi ini, penulis berharap supaya pemerintah bisa segera mengatasi atau memberikan solusi bagi masyarakat, khususnya terhadap permasalahan ekonomi. Masyarakat umum, juga harus patuh untuk mengikutin protokol kesehatan yang ada. Untuk menghadapi covid 19 ini, pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi.

Aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

STIGMA DI ATAS SINGGASANA

Rab Apr 29 , 2020
Oleh : Afnan Abdul Aziz (Kader PMII Rayon Abdurrahman Wahid) Masyarakat merupakan ornamen penting dalam jalannya sistem tatanan sosial yang ada. Bagaimana mungkin masyarakat bergerak tanpa adanya suatu dorongan individu dalam suatu pikirannya. Esensi masyarakat mengarahkan kepada satu konteks yakni ketidaktahuan yang meresahkan terkhusus masyarakat lokal. Kini, seluruh dunia tengah […]