Mahbub Djunaidi dan Cerita Masa Lalu

( Memoar Catatan Kecil Penulis )

Gerimis dan rintik hujan menemani do’a bersama dalam rangkaian acara Peringatan Haul Mahbub Djunaidi ke-24. Acara itu diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Walisongo Semarang dengan mendatangkan Bung Isfandiari Mahbub Djunaidi sebagai narasumber. Doa bersama dan tahlilan merupakan pembuka rangkaian acara Peringatan Haul Mahbub Djunaidi yang mengambil latar belakang tempat Kedai Kopi Pujasera, Segitiga Mas.

Tahlil dan do’a bersama berlangsung dengan tenang dan khidmah. Satu persatu peserta yang baru datang langsung mendekat dan bergabung guna melantunkan doa sebagai wujud cinta organisasi dan para pendirinya. Acara itu ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh sahabat Wahyudin, Pengurus PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang.

Setelah memanjatkan do’a teruntuk Mahbub Djunaidi, selanjutnya acara diisi dengan penampilan musikalisasi puisi karya Sang Maestro. Penampilan pertama oleh sahabat Rizieq Pengurus PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang. Ia membacakan puisi karya Bung Mahbub yang berjudul “Hari hari di Musim Panas”. Diakhir penampilannya ia mengajak seluruh audiens untuk bernyanyi lagu “Berjuanglah PMII” bersama-sama.

Penampilan kedua diisi oleh pembacaan puisi dari sahabat Nopinka, kader PMII Rayon Ushuluddin. Ia membacakan puisi karya Mahbub Djunaidi yang pernah dimuat di majalah Siasat tahun 1952 yang berjudul “Pertemuan dan Perpisahan”. Dengan musik instrumental halus ia membawa audiens menikmati karya sang maestro dengan lembut.

Romantisme karya-karya Bung Mahbub Djunaidi ternyata belum mengobati rindu banyak kader PMII terhadap sosok “ayahnya”. Hal itu terbukti dari antusias peserta ketika memasuki acara inti, yaitu bedah buku dan bincang Mahbub bersama Bung Isfandiari MB, putra kandung Mahbub Djunaidi.

Sambutan hangat dan hiruk pikuk antusiasme peserta mengiringi naiknya putra sang pendekar pena ke panggung yang telah disediakan panitia. Suasana terasa senyap ketika Kang Isfan (sapaan akrab Bung Isfandiari MD) memegang mic dan memulai ceritanya perihal sang pendekar pena.

“Terimakasih telah mengundang saya di acara ini, jujur saya bangga karena masih banyak yang mengingat sosok pak Mahbub. Sebelum saya menyampaikan banyak hal nantinya, saya ingin mohon maaf terlebih dahulu jika nantinya ada beberapa aspek yang tidak saya ketahui dari pak Mahbub. Karena saya adalah anak kandungnya yang terbatas memahami pak Mahbub dari sosok seorang ayah, tidak banyak terlibat dalam proses pergerakannya. Sebatas yang saya ketahui nanti akan saya bagi ke sahabat sekalian” tutur Bung Isfan mengawali diskusi tersebut.

Siapa Bung Isfan?

Selanjutnya Bung Isfan bercerita tentang latar belakang beliau semasa hidupnya bersama Mahbub Djunaidi. Ia mengatakan bahwa di umur remaja dulu, ia dan teman temannya kurang respek terhadap perbincangan berat seputar negara dan dinamikanya.

Bung Isfan yang menyukai motor kala itu seringkali melihat Mahbub Djunaidi dan kader PMII didikannya berdisksi panjang perihal organisasi dan kenegaraan di rumahnya. Hal itu berbanding terbalik dengan ia dan teman-teman motornya yang setiap kali kumpul dirumah selalu membicarakan motor dan hal-hal yg tidak jelas.
Menariknya, Mahbub Djunaidi saat itu bisa memposisikan diri dengan baik bersama Bung Isfan dan teman temannya maupun sahabat-sahabat PMII kala itu. Ia membuat ikatan yang saling membutuhkan diantara keduanya.

Bagi Bung Isfan sendiri, Mahbub Djunaidi adalah ayah yang baik sekaligus ayah yang kadang menyebalkan karena prinsip yang sangat dipegang teguh. Bayangkan saja, ketika ia dekat dengan orang-orang besar di negeri ini dan bisa meminta apapun yang ia inginkan, ia malah meminta hal remeh temeh untuk keperluan keluarganya.

Mahbub Djunaidi & Kyai

Sifat paradoks yang dimiliki oleh Mahbub Djunaidi terkadang membuat banyak pihak salah paham. Mahbub Djunaidi adalah seorang tokoh Nahdlatul Ulma’ (NU) yang sangat menjungjung tinggi penghormatan kepada kyai dan ‘alim ulama. Namun cara yang ia lakukan justru membuat orang lain mengernyitkan dahi.
Cara ia melakukan penghormatan kepada kyai dan ulama lain daripada orang kebanyakan. Ketika orang lain melakukan penghormatan dengan tadzim dan membungkuk kepada kyai, ia justru melakukan penghormatan itu dengan mengajak bercanda yang cenderung terlihat sebagai bentuk ejekan. Bagi Mahbub, itu adalah caranya mengisi kesepian psikologis di dalam diri seorang kyai.

Cara-cara yang tidak manstream ini agaknya merupakan ciri khas yang dimiliki oleh Mahbub Djunaidi. Dalam banyak aspek Mahbub Djunaidi selalu menggunakan cara yang tidak biasa dalam melakukan sesuatu. Hal ini juga dikonfirmasi oleh putra sang maestro, bung Isfan.

Perihal hubungan persahabatan dan kedekatan Mahbub Djunaidi dengan banyak tokoh besar negeri ini, bung Isfan menceritakan beberapa kenangan yang ia ketahui saja. Ia bercerita bagaimana awalnya bung Mahbub bisa berteman dekat, bahkan sampai menjadi teman diskusi Bung Karno di beranda istana negara.

Baginya hal itu tidak terlepas dari kontroversi tulisan Mahbub tentang Pancalia yang lebih sublim daripada Declaration of Indepent Amerika Serikat dan Manifesto Komunis. Masih menurutnya, itu adalah cara Mahbub untuk dapat dekat dengan sumber kekuasaan kala itu dan termasuk tokoh yang sangat dikagumi oleh Mahbub Djunaidi.

Pejuang keadilan Pram

Tokoh selanjutnya adalah Pramoedya Ananta Toer. Hal yang paling diingat oleh bung Isfan terkait persahabatan keduanya adalah pembelaan Mahbub kala itu kepada Pramoedya.

Ia sangat ingat betul bagaimana tidak ada seorang pun yang berani secara terang terangan membela Pram kala itu, semua takut terhadap kekuasaaan.
Namun Mahbub bebeda, ia membela mati matian Pramoedya Ananta Toer yang menurutnya tak bersalah.

Ia menulis beberapa artikel khusus untuk pembelaannya terhadap Pramoedya. Hal itu tentu tidak berjalan mulus, banyak media yang menolak tulisan Mahbub. Bukan karena tulisannya yang tidak kompeten, namun pembahasan tentang Pramoedya lah yang dihindari oleh media saat itu.

Sang Pendekar Pena

Bergeser ke dunia jurnalistik, bung Isfan bercerita sosok Mahbub Djunaidi dalam kapasitasnya yang juga seorang wartawan. Salah satu yang disoroti oleh bung Isfan adalah cara Mahbub dalam menerjemahkan sebuah karya.

Dengan kapasitas saya sebagai jurnalis, saya menilai bahwa pak Mahbub adalah seorang penerjemah yang buruk. Ia menerjemahkan seenaknya, membuat karya yang diterjemahkan seolah olah menjadi karyanya sendiri. Ambil contoh terjemahan karya Michael Hart tentang 100 tokoh paling berpengaruh itu, di bagian biografi Lenin, pak Mahbub menambahkan diksi diksi masyaallah, insyaalah di dalamnya, kan aneh nih orang ya. Lenin lho, pakek masyaallah segala ” terang Bung Isfan yang disambut dengan gelak tawa para audiens.

Beberapa karya terjemahan Mahbub Djunaidi adalah; 80 Hari Keliling Dunia (Jules Verne), Di Kaki Langit Gurun Sinai (Hassanain Heikal), Binatangisme (George Orwel), dan 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Michael H. Hart).

Harapan Mahbub Bagi Kader PMII

Mengenai kematian Mahbub Djunaidi, Bung Isfan juga bercerita panjang lebar. Diawali cerita penangkapan Mahbub Djunaidi dengan tuduhan subversif oleh pemerintahan.

Sebenarnya pak Mahbub sudah tau akan ditangkap waktu itu, ia sadar rumahnya dipantau oleh intel pemerintah. Tapi caranya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya ini yang cukup unik sahabat-sahabat. Ia menelpon kenalannya di pemerintahan Amerika dan meminta mengirimkan orang Amerika untuk datang bertamu ke rumahnya. Tujuannya adalah untuk mengelabuhi pemerintah dengan skenario kedekatannya pada pihak Amerika. Dengan begitu, pemerintah akan berfikir ulang untuk melakukan tindakan repsesif terhadap pak Mahbub maupun orang orang terdekatnya” kenang bung Isfan.

Setelah mengalami hari hari buruk di sel Nirbaya bersama dengan bung Tomo kala itu, kesehatan Mahbub pun mulai menurun. Hingga akhirnya beliau jatuh sakit dan dirawat di RSAD (Rumah Sakit Angkatan Darat).

Menurut Bung Isfan (mengambil dari pengakuan sahabat-sahabat Mahbub Djunaidi yang berprofesi sebagai dokter), ketika berada di RSAD, Bung Mahbub diberi obat obatan yang bukan menyembuhkan, malah memperburuk keadaan. Parahnya lagi, sampai pasca kematian Mahbub, penangkapan yang berujung kematiaan itu tidak pernah di proses pengadilan.

Kenangan dan nostalgia kehidupam Mahbub Djunaidi begitu lengkap disampaikan oleh bung Isfan hingga pukul 22.30 WIB. Tiga sesi pertanyaan dimanfaatkan dengan baik oleh peserta dan dijawab dengan lugas oleh bung Isfan. Hingga akhirnya bung Isfan memberikan closing statement di acara Peringatan Haul Mahbub Djunaidi ke 24 tersebut.

“Pak Mahbub berharap banyak terhadap sahabat-sahabat PMII. Ia sangat cinta kepadaa kalian hingga mengorbankan banyak waktunya untuk membesarkan PMII. Ia rela monomorduakan keluarganya demi bangsa ini, dan PMII juga tentunya. Kami selaku keluarga, ingin meminta tolong untuk sahabat sahabati PMII dapat membalas pengorbanan waktu kami yang tersita kala itu dengan perjuangan kalian untuk bangsa ini” tutup bung Isfan dalam diskusi malam itu.

Rangkaian acara Peringatan Haul Mahbub Djunaidi ke 24 tersebut pada akhirnya ditutup dengan penampilan akustik oleh sahabat-sahabat PMII Komisariat UIN Walisongo sembari mengantarkan peserta kembali ke peraduannya masing-masing.

Semoga bermanfaat, dan semoga kita mampu meneladani sifat serta pokok pikiran progresifnya. Amin

Oleh; Nanang Bagus Zuliadi

Ketua 2 PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PMII UIN Walisongo, MAPABA kan Ribuan Kader

Ming Okt 13 , 2019
pmiiwalisongo.com- Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) gelombang I yang dilaksanakan oleh 8 Rayon di PMII Komisariat UIN Walisongo telah terlaksana. Terdata sebanyak 1.874 peserta ikuti kegiatan tersebut. Rayon Syariah dan Rayon Psikologi Kesehatan melaksankan Mapaba pada tanggal 27-29 September 2019. Rayon Dakwah, Rayon Ekonomi, Rayon Abdurrahman Wahid, Rayon Ushuluddin, Rayon […]