Bumi Manusia, Pertentangan Pribumi dan Eropa

  • Judul: BUMI MANUSIA
  • Penulis: Pramoedya Ananta Toer
  • Tahun Terbit : 2005
  • Penerbit: Lentera Dipantara
  • Tebal: 551 halaman
  • ISBN: 978-979-97312-3-4
  • Peresensi: Hasan Ainul Yaqin

Bumi Manusia buku pertama dari buku tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer yang begitu monumental. Buku tersebut ditulis ketika Pram mendekam di penjara pulau buru waktu pemerintahan orde baru berkuasa tanpa melalui mekanisme pengadilan. Selama di penjara itulah beberapa karya lahir dari sastrawan ternama ini, dan banyak dari karanganya dirusak, dibakar dan dilarang didistribusikan termasuk buku Bumi Manusia ini.

Meskipun buku Bumi manusia adalah karya fiksi, tapi penulis menggambarkan latar belakang berdasar dimana penulis hidup. Membaca buku ini pembaca dibawa hanyut pada masa lalu yang kelam, bahkan kalau direnungi dalam – dalam dibuat emosi saat membacanya, betapa kejamnya kaum Kolonial terhadap bangsa Pribumi seperti dikisahkan Pram.

Hidup di penjara adalah bagian dari kehidupan Pramoedya, tiga tahun dalam penjara Kolonial, satu tahun di masa Orde Lama, dan empat belas tahun pada saat pemerintahan Orde Baru berkuasa. Sungguh jelmaan wajah Pemerintahan bringas yang mencabik-cabik martabat kemanusiaan. bagaimana tidak, dipenjara tanpa diadili, dihukum tanpa diberi tahu letak kesalahanya.

Jajahan Kolonial

Buku Bumi Manusia menceritakan tentang kejahatan kaum Kolonial terhadap bangsa Pribumi, bukan hanya serangan fisik yang dilakukan mereka, diskriminasi dalam banyak aspek mereka gencarkan dan kuasai. Minke adalah tokoh peran utama dalam novel Bumi Manusia, ia keturunan priyayi bangsa Pribumi yang berusaha keluar dari kepompong tradisi kejawaanya.

Hal tersebut bermula ketika Minke sekolah di H.B.S tempat yang hanya bisa ditempuh oleh golongan Eropa. Sementara bagi golongan Hindia Belanda atau kaum Pribumi hanya bagi mereka yang beruntung saja dapat mengenyam pendidikan di sekolah favorit tersebut. Pergaulanya dengan kaum Eropa itulah membentuk kepribadian Minke.

Eropa dibalik kisah roman dalam buku ini disimbolkan sebagai kawasan yang berpradaban dan berpengatahuan luas. Dari sini peresensi berkhayal bahwa membentuk cara pandang seseorang, pendidikan tidak bisa diabaikan peranya, selain pendidikan juga tergantung pada lingkungan dimana ia hidup dan bersama siapa ia berkawan.

Minke meskipun menjadi murid minoritas yang berlatarbelakang Pribumi tidak jarang ia mendapat stigma, perlakuan diolok-olok oleh teman-temanya yang mayoritas orang Belanda, namun Minke tidak menampik celaan yang dicamkan kepadanya, justru ia buktikan bahwa kaum Pribumi tidak kalah unggul dengan bangsa Eropa dalam urusan intelektual dan wawasan keilmuanya.

Cerita dalam novel ini Pram menggambarkan sosok Minke memang sebagai Pribumi terpelajar, pemberani yang berusaha melawan apabila ada penindasan berkelindan.

Seperti dijelaskan di atas, Minke keturunan Priyayi, ayah Minke seorang Bupati, namun Minke menolak menjadi seperti ayahnya saat ditanya cita-cita oleh bundanya. “saya tidak mau jadi orang yang memerintah dan diperintah, saya hanya mau menjadi manusia di bumi manusia dengan segala persoalanya” jawaban ini sebagai bentuk keberanian, bahwa Minke ingin menjadi manusia bebas dan merdeka yang tidak terikat oleh apapun dan oleh siapapun.

Di sekolah, Minke mempunyai teman bernama Robert Surhof, sosok yang digambarkan Pram pria yang punya niat picik dan sikap serakah. Melalui perkenalannya dengan Robert Surhof ini, kemudian Minke diajak berkunjung ke Wonokromo bertemu dengan temanya, Robert Mellema, di rumah itu, keluarga besar Robert Mellema menyambutnya, berikut Annelies Mellema dan mamanya bernama Nyai Ontosoroh atau Sanikem nama sebenarnya.

Di tempat tersebut Nyai Ontosoroh hidup bersama putri tercintanya Annelies dan anak lelakinya Robert Mellema sambil mengelola perkebunan tebu, perusahaan dagang, dan perternakan miliknya sewaktu dinikahi oleh suaminya, tuan Herman Mellema.

Nyai Ontosoroh adalah nama lain dari Sanikem, panggilan Nyai adalah sebutan dari gundik Kompeni, ia dijodohkan orang tuanya dengan tuan Herman, pria berkebangsaan Belanda. Kemauan keras orang tua Sanikem untuk menjodohkan putrinya dengan pria Eropa membuat kecewa putrinya, Sanikem menduga kalau ia sedang dijual oleh orang tuanya kepada orang yang tidak dicintai berdasar hati pilihan dirinya sendiri, tapi berdasar kekayaan, tahta, dan kedudukan.

Oleh sebab itulah, semenjak menjalani kehidupan hingga dikarunia dua anak ia enggan bertemu dengan orang tuanya, karena perasaan direndahkan martabatnya sebagai manusia masih belum hilang dari ingatan Sanikem atau Nyai Ontosoroh. Namun beruntung, Tuan Hermn Mellema suaminya tidak memperlakukan kasar, justru si Nyai diajari banyak hal dengan suaminya, ia diajari membaca diajak menyukai pengetahuan, diajari bagaimana mengolola perusahaan.

Pendidikan yang diterima Nyai adalah berkat tuanya, tapi sayang belakang hari sebelum suami meninggal, karakternya tampak berubah 180 derajat, ia menjadi kasar dan tidak peduli pada kehidupan keluarga yang disebabkan sering mengkosumsi obat-obatan dan mabuk-mabukan.

Pandangan Pertama

Kunjungan Minke ke Wonokromo awal mula perjumpaan ia dan Annelies Mellema, keduanya jatuh pada pandangan pertama, hingga kemudian saling suka dan saling mencintai merayapi jiwa dan fikiranya. Minke yang terpelajar, pintar, dan pandai berbahasa Belanda dan Francis membuat kagum Nyai Ontosoroh. Bahkan ia tidak ragu dan merestui seandainya keduanya menjalin hubungan asmara.

Annelies seperti digambarkan Pram adalah gadis eropa berparas sangat cantik, berpostur tinggi, berambut pirang, dan lurus serta bertubuh langsing. Membayangkan sosok Annelies pembaca dibuatnya jatuh cinta pada perempuan itu. Karakter pengusaha Nyai Ontosoroh diwarisi kepada putrinya. Di usia masih muda ia sudah mengelola perusahaan besar milik orang tuanya.

Perjumpaan pertama antara Minke dan Annelies menyisakan rasa rindu mendalam pada diri Annelies ketika Minke hendak pergi. Demi mengobati rasa kangen, Minke mengirim surat yang ditulisnya untuk Annelies, tapi surat itu tidak mampan mengobati rindu Annelies yang begitu menggeranyangi jiwanya itu, ia meminta Minke untuk datang ke rumahnya seperti sebelumnya, tapi Minke tidak lantas bergegas, ia harus menyelesaikan tugas sekolah yang menjadi kewajibanya, belajar, membaca, dan menulis.

Jika semua pekerjaan sudah selesai, ia akan segera menemuinya. Alasan ini tidak dimaklumi oleh gadis manja yang sangat mencintai Minke, bahkan tidak kuatnya menahan rindu, membuat Annelies terbaring sakit. Akhirnya Nyai Ontosoroh menyuruh Darsam pembantunya untuk menjemput Minke dan bersedia tinggal sementara di rumahnya Wonokromo sampai Annelies Mellema sembuh dari sakitnya.

Kisah cinta antara Minke dan Annelies, Pram begitu lihainya melukiskan hubungan asmara yang sangat romantis, kisah cinta yang begitu mendalam akhirnya dilangsungkan dalam ikatan pernikahan meskipun banyak pertentangan khususnya dari ayahanda Minke yang tidak setuju putranya menikah dengan orang keturunan Belanda.

Pertentangan untuk menggagalkan keduanya pun terus berlanjut yang datang dari eksternal. Usaha membubarkan pernikahan antara Minke dan Annelies tidak pernah berhenti, keduanya diserang dengan segala macam cara. Seperti diungkitnya pernikahan bunda Annelies, Nyai Ontosoroh dan tuan Herman Mellema yang tidak diakui oleh pengadilan tinggi Belanda karena sebab golongan Eropa menikah dengan kaum Pribumi yang secara hukum Kolonial dilarang.

Begitupun pernikahan anaknya Annelies dengan Minke yang berdarah Pribumi. Pengadilan Belanda menilai pernikahan keduanya tidak sah dan tidak diakui karena tidak ada ijin dari orang tua sah Annelies. Secara terpaksa, mau tidak mau akhirnya Annelies harus segera dihantar ke Belanda. Kabar itu terdengar Annelies, lalu ia kembali jatuh sakit hingga membuat malas makan ataupun enggan bicara. Dalam fikiranya terbayang ketika ia pulang ke Belanda, ia akan kehilangan kisah hidupnya bersama mamanya, Nyai Ontosoroh dan kehilangan cintanya bersama suami tercintanya, Minke.

Nyai Ontosoroh dan Minke berikut pendukungnya tidak ambil diam, mereka berusaha melawan kaum Belanda untuk menggagalkan membawa Annelies ke Belanda, kritik dan perlawanan Minke terhadap ketidakadilan Belanda terus ia gencarkan dalam berbagai tulisanya di media ataupun dalam beracara di pengadilan, tapi sayang perjuangan dan perlawananya tidak membuahkan hasil, ia tetap dinyatakan kalah, kemenangan berada di tangan ibu tiri Annelies yang mengaku istri dari tuan Herman Mellema.

Mendengar keputusan itu, akhinya Annelies Mellema harus hengkang angkat kaki ke Belanda dan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Melawan walaupun kalah jauh lebih berarti daripada tidak sama sekali, setidaknya ada perlawanan atas ketidakadilan Belanda seperti ajakan Pram dalam bagian lembaran buku Bumi Manusia yang ditulisnya “meskipun kalah kita harus melawan, sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya”

Karya sastra berjudul Bumi Munusia karya Pramoedya ini sangat menarik dibaca oleh semua kalangan yang ingin mengetahui seluk beluk kejahatan kaum Kolonial terhadap penduduk Pribumi. Dalam buku tersebut kaya akan diksi yang dapat dikutib, ceritanya mengalir, tentu dengan kisah cinta yang didesain romantis, dan jika dihayati lebih dalam, pembaca tidak sadar dirinya telah dibawa keliling bumi manusia dengan segala persoalanya. Inilah karya sastra agung sangat berkualitas yang lahir dari pena sastrawan Indonesia yang dipenjara oleh bangsanya sendiri.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai,” begitu Pram berpesan (hal 313)

Selamat membaca…!

*Penulis adalah pengurus LPW PMII Komisariat Walisongo periode 2018-2019 dan Redaktur Lingkar Kajian Sastra Justisia

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PMII Komisariat Walisongo Peringati 21 Reformasi

Jum Mei 24 , 2019
(Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Saat Melakukan Aksi Memperingati 21 Reformasi di jalan pantura . foto : Nuzul) Dalam rangka memperingati 21 tahun reformasi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat UIN Walisongo Semarang lakukan aksi di jalan pantura depan kampus 1 pada Kamis, (23/05). Era reformasi yang ditandai dengan tumbangnya Rezim Orde […]