Analisis Media

ilustrasi : IspIndonesia.com
Oleh: M. Eka Gusti Agung Pratama [1]
Era modernisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan suatu tantangan baru yang harus diatasi oleh khalayak umum. Selain perkembangan ini memiliki dampak positif yang dapat membantu mempermudah masyarakat dalam melakukan komunikasi, namun di sisi lain menjadi hal yang patut kita khawatirkan dampak dan akibatnya bagi kehidupan masyarakat.
Berawal dari hadirnya internet, yang pada awalnya merupakan alat komunikasi transmisi elektronik menjelma sebagai saluran energi dan ekspresi manusia tiada batas. Setiap menit, lebih dari ratusan juta penduduk di bumi membuat sekaligus menyerap konten digital yang hampir tak terhitung jumlahnya di dunia daring, atau digital yang pada mulanya tidak terikat oleh sebuah hukum. Sehingga diakui atau tidak media sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Menurut Mc. Luchan dalam teori determinismenya mengatakan bahwa manusia dan media saling mempengaruhi satu sama lainnya. Perkembangan media dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran manusia dan begitu pula sebaliknya, media juga mempengaruhi kehidupan manusia.
Perkembangan media membuat manusia semakin mudah untuk memenuhi kebutuhannya terhadap informasi. Dengan berkembangnya media manusia tidak hanya dengan mudah mencari informasi, melainkan juga dapat bersentuhan dalam hal komunikasi dengan manusia lainnya, kapan saja, dimana saja dan bahkan saat itu juga. Kebutuhan manusia akan informasi ini menjadikan media semakin berkembang pesat dalam setiap zamannya. Ditambah dengan kemajuan internet lah seseorang dapat mengetahui diluar lingkungannya. fenomena ini oleh McLuhan disebut dengan Global village.
Dengan perkembangan yang terjadi ini, lambat laun madia tidak hanya sebagai alat penyedia informasi maupun komunikasi, melainkan sebagai gaya hidup dan budaya dalam kehidupan manusia karena media saat ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam kesehariannya. Sehingga dapat dikatakan manusia tidak bisa dipisahkan dengan media. Jika Karl Marx mengatakan bahwa sejarah manusia dan kehidupannya ditentukan oleh kekuatan produksi, maka dewasa ini manusia dan eksistensinya ditentukan oleh media dan gaya komunikasi. Jika dulu Francis Bacon pernah mengatakan knowledge of power, maka dewasa ini berubah menjadi Media of power. Kekuatan media tidak dapat kita abaikan dalam mempengaruhi public secara massif.
Dengan pengaruh sangat besar dan signifakan terhadap pola perkembangan hidup masyarakat hingga dapat dikatakan hampir menyentuh segala aspek kehidupan. Namun perkembangan media memiliki dampak negatif yang dapat mengubah kehidupan masyarakat begitu kacau, diawali pengaruhnya dari perubahan pola pikir, gaya hidup, bahkan keyakinan dalam menjalankan agama sekalipun.
Pengaruh negatif ini disebabkan Informasi yang dikonstruksi oleh media sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan menciptakan budaya baru yang begitu cepat. Dan informasi dikonstruksi kemudian disajikan kepada masyarakat memiliki tujuan dan maksud yang berbeda. Perlu diketahui bahwasanya media memiliki dua entitas, pertama entitas politik, dimana media merupakan wujud terbentuknya demokrasi serta dapat mengubah kondisi sosial politik masyarakat dengan menggunakan kebebasan berpendapat. Kedua, entitas ekonomi, dimana media memiliki kecenderungan dalam membangun ekonominya, atau bisa dikatakatan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Dalam dunia perfilman misalnya, dimana budaya pop menjadi trend masa kini karena lakunya di pasaran. Sehingga dampak yang terjadi dari budaya ini sangat mempengaruhi anak muda, baik dalam hal pola pikir, cara berpakaian, serta tingkah laku dalam pergaulan.
Dampak negatif lainnya seperti berita hoax yang beredar saat ini, kita sebagai pelajar tidak boleh langsung percayai berita itu dan membagikannya. Harus bisa memilih mana berita yang hoax ataupun yang asli. Seperti berita tentang PKI, berita itu sudah lama tertutup oleh zaman, tapi entah kenapa baru-baru ini dimunculkan lagi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Bagi mereka yang tidak mengetahui sejarah mungkin saja langsung percaya dengan berita itu, padahal di berita itu diselipkan berita hoax.
Berita tentang PKI menjadi trend pada saat ini, karena mengupas fakta-fakta tentang sejarah bangsa Indonesia. Maka dari itu membuat peminat pembaca meningkat bukan dari kalangan kaum tua saja, kalangan kaum mudapun juga tertarik karena hausnya pengetahuan tentang sejarah. Tetapi disini dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab menjadikan kesempatan ini untuk menyelipkan berita-berita yang tidak sesuai fakta. Dengan adanya berita ini menimbulkan banyak pengaruh negatif terhadapnya. Seperti halnya kaum yang sangat benci terhadap PKI memasukkan berita-berita negative pun sekalipun atau lebih tepatnya diselipkan berita-berita yang tidak sesuai faktanya, walaupun di sisilain PKI tidak sejelek yang di beritakan.
Akhirnya menimbulkan perpecahan baru, padahal sebelumnya mereka hidup rukun tanpa ada kebencian. Dengan munculnya berita tersebut, masyarakat menggangap bahwa PKI sesuatu yang sangat negatif. Mereka yang mungkin bertetangga ataupun mengetahui orang-orang dari keturunan PKI akan menjauhi mereka dan mereka akan merasa terdiskriminasi.
Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa berita hoax menjadi alat pemicu konflik antar golongan yang berdampak pada perpecahan. Bahkan berita hoax mampu memicu terjadi peperangan. Munculnya berita hoax dibuat oleh pihak yang memiliki kepentingan untuk memicu konflik antar golongan sehingga si pemilik kepentingan dapat mengambil kuntungan dari terjadinya konflik tersebut. Hal ini pernah terjadi dan dilakukan oleh surat kabar Mourning Journal pemilik pengusaha Amerika Serikat William Hearst pada tahun 1889 M.
Dari berita yang dikabarkan oleh surat kabar tersebut mengakibatkan terjadinya perang antara Amerika Serikat dengan pihak tentara Spanyol. Kejadian tersebut terjadi di wilayah Amerika Selatan. Peristiwa yang sama juga terjadi pada 20 Desember 2017 lalu, dimana AWD News menyebarkan berita yang hampir menyebabkan terjadinya perang nuklir antara Negara Pakistan dan Israel.
Di Indonesia, menurut Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu,” katanya. Ia menyebut internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat. [2]

Disisi lain, menurut data dari hasil riset yang telah dilakukan oleh kumparan.com, Ada tiga aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoax, yaitu Facebook sebesar 82,25%, WhatsApp 56,55%, dan Instagram sebesar 29,48%. Sebanyak 73% masyarakat Indonesia yang membaca seluruh informasi secara utuh. Namun, hanya sekitar 55% di antaranya yang selalu melakukan verifikasi (fact check) atas keakuratan informasi yang mereka baca.
Riset tersebut mencatat masih banyak orang Indonesia yang tidak dapat mencerna informasi dengan sepenuhnya dan benar, tetapi memiliki keinginan kuat untuk segera membagikannya dengan orang lain. tercatat sebanyak 44,19 persen responden mengaku tidak yakin mereka punya kepiawaian dalam mendeteksi berita hoax. Sementara responden lainnya, sebesar 51,03 persen, memilih untuk berdiam diri (dan tidak percaya) ketika menemui konten hoax. [3]

Dari fenomena ini, media informasi digital menjadi perhatian pemerintah di banyak negara. Alasan pemerintah dewasa ini lebih memperhatikan media di dunia digital tak lain sebagai langkah prefentif dalam menjamin stabilitas negara. Dapat dikatakan media dunia digital menjadi salah satu langkah pemerintah mempertahankan suatu negara.
jadi kita sebagai masyarakat tidak hanya terpaku pada satu berita dan tidak langsung mempercayai berita tersebut. Kalaupun berita hoax itu beredar dan kemudian setiap orang yang mendapatkan berita itu membagikannya dan terus menurus. Maka akan melahirkan berita-berita hoax dan dikonsumsi oleh masyarakat secara luas. Sehingga kesalahan ketika sudah menjadi sesuatu yang umum maka hal itu akan dianggap sebuah kebenaran. Oleh karena itu untuk para pelajar untuk belajar lebih kritis lagi, ketika berita datang mereka harus mengoreksi ataupun meneliti berita itu benar atau salah terlebih dahulu. Baru kalau mereka mengetahui suatu kebenaran itu, mereka boleh membagikan fakta itu. Dalam menganalisis media media ada tiga yang sering di lakukan oleh banyak peneliti yaitu:
  1. Positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) analisis ini dinamakan “Analisis Isi” (kuantitatif)
  2. Konstruktivisme. Bisa juga disebut analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Analisis ini biasa disebut “Analisis Framing” (bingkai)
  3. Paradigma kritis. mengoreksi pandangan konstruktivitis yang tidak sensitif terhadap proses produkski dan reproduksi makna. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan membentuk subyek tertentu, tema wacana tertentu, dan strategi di dalamnya. Bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan.
Demikian pemerintah seharusnya mempertegas kembali undang-undang ITE serta memperketat pengawasan di dunia maya, tentunya tanpa melanggar hak privasi. Sehingga mereka pelaku penyebar hoax tidak dapat dengan leluasa menyebarkan berita bohong yang berpotensi mempecah belah bangsa.
Kesimpulan logis dari pengaruh era digital ini terhadap perkembangan negara adalah makin banyaknya negara yang akan merambah dunia maya, membangun dan membeli daya serangan cyber yang tidak akan ada habisnya, beroperasi dalam ranah online yang kompetetif serta perdagangan, investasi dan pertukaran teknologi dengan sumber daya alam.



[1] . Kordinator LPW PMII Komisariat UIN Walisongo Periode 2018-2019
[2] Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/12/p0uuby257-ada-800000-situs-penyebar-hoax-di-indonesia
[3] https://kumparan.com/@kumparantech/riset-44-persen-orang-indonesia-belum-bisa-mendeteksi-berita-hoax-1534904577213906127

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Paradigma PMII; Menjawab Kebutuhan Zaman

Ming Apr 7 , 2019
Oleh: M. Eka Gusti Agung Pratama [1] Setiap individu membutuhkan sebuah paradigma (paradigma hidup) untuk dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan hidupnya. Begitupula dengan masyarakat, kelompok, maupun organisasi yang pada esensinya berawal dari sekumpulan individu. Paradigma terbentuk dari proses konstelasi. Sehingga dari hasil proses konstelasi tersebut menumbuhkan imajinasi, ide, dan inspirasi […]