Aku Anak Seorang Mucikari

Oleh : Arifan
Akbar namaku, di umurku yang ke sebelas ini, telah banyak ketakutan yang kualami. Ketakutan itu datang dari keluargaku sendiri. Ya, bapak dan ibuku yang selalu bertengkar setiap waktu. Kecuali kalau mereka sedang bersenggama, seakan lupa bahwa setiap harinya berlempar amarah.
Meski umurku sebelas tahun, aku masih duduk di kelas tiga SD. Pertengkaran bapak dan ibuku membuat perasaanku tidak pernah tenang, boro-boro mau belajar, tidur saja aku takut. Pernah ketika aku tidur, aku mendengar suara piring pecah, sangat keras. Aku terbangun dari tidur. Ternyata benar, bapak membanting piring lantaran ibu belum menyiapkan makan siang buat bapak. Aku gemetar, hanya mengintip perseteruan itu lewat lubang kunci pintu kamarku. Ya, ruang makan di rumahku memang berada di depan kamarku dan kamar orang tuaku.
Kakakku tak pernah pulang, apalagi kalau dia bawa uang. Uang habis, baru dia mau pulang. Entah ke mana ia aku tak tahu dan tak mau tahu. Ia tak mau bekerja, padahal sudah lulus dari SMA. Ia juga tak ada halus-halusnya dengan ibu, persis seperti bapak.
Bapakku seorang sopir truk bongkar-muat barang. Hidupnya di jalan, berangkat pagi, pulang petang. Kadang seharian di rumah kalau sedang tidak ada muatan. Sering kudengar dari para tetangga, kalau bapakku kadang mengajak wanita lain selain ibuku ketika sedang menyopir. Katanya ia juga sering pergi ke tempat karaoke, entah apa yang bapak lakukan di sana aku tak tahu, juga tak mau tahu. Minum? Ya, itu sering bapak lakukan.
***
Siang itu, hari minggu tepatnya. Aku harap itulah waktunya kami sekeluarga berkumpul, bercanda, dan bercerita satu sama lain. Biar seperti keluarga teman-temanku. Seandainya hari itu juga kami bertamasya, liburan bersama, ke mana saja, pasti aku senang sekali. Bagaimana tidak, apa yang aku bilang tadi, sama sekali belum pernah aku alami.
Mula-mula ibu sedang duduk dan menyisir rambut di ruang keluarga, lalu bapak keluar dari kamar masih dengan terkantuk-kantuk. Ia memeluk ibu dari belakang, mereka terlihat begitu lekat. Bapak tak begitu beraturan memeluk ibu, tangannya meraba dada ibu. Kulihat ibu menggeliat dan meringis kegelian. Mereka saling berbalas senyum saat berpandangan.

Seketika bapak mengecup bibir ibu, begitu gemas dan penuh berahi. Sambil tertawa-tawa kecil, mereka pergi ke kamar. Entah apa yang mereka lakukam di dalam kamar, tapi aku yakin itu urusan mereka. Kuharap setelah itu, mereka bisa berdamai dan tak ada lagi pertengkaran.

Setelah kurang lebih satu jam berlalu, bapak keluar dengan rambut yang basah. Ya, sudah mandi rupanya. Ia pergi ke ruang makan, membuka tudung saji, dan mendapati beberapa piring tertelungkup. Tak ada masakan dan juga nasi. Kekesalannya tak bisa disembunyikan, dengan bersungut-sungut ia berteriak memanggil ibu,
“Minah! Sini kamu!”
Ibu segera datang dengan membawa handuk yang ia gunakan mengusap rambut yang masih basah. Dengan tergopoh-gopoh, ibu menyahut panggilan bapak.
“Iya, Mas, sebentar.”
Dalam sekejap, ibu sampai di hadapan bapak. Dan belum sempat ibu bicara, bapak langsung menyambar,
“Ini apa, Minah? sudah siang begini kamu belum masak?”
“Maaf, Mas. Uang belanja sudah habis. Jadi, mau masak pun masak apa?”
“Sudah habis? Bukannya dua hari yang lalu aku beri kamu uang?”
“Ah, itu hanya cukup untuk belanja dua hari, Mas. Pun sudah mepet. Kemarin saja Akbar makan nasi sama garam.” Jawab ibu sambil memelas. Namun bukannya jawaban halus yang ibu terima. Bapak menjawab sambil membentak.
“Lalu aku harus memberimu uang lebih?”
Tanpa sadar, ibu juga menjawab dengan nada bicara yang tinggi, “Ya, sepantasnyalah, Mas. Kamu setiap hari bekerja berangkat pagi pulang malam, kasih uang belanja kaya kasih uang jajan. Ke mana hasil kerjamu selama ini? Kamu tabung? Apa buat bayar wanita-wanita yang menemanimu di jalan itu? buat beli minum? Hah? Bagaimana tanggung jawabmu pada anak-anak, Mas?”
Hampir saja bapak menampar ibu, tapi ia mengurungkannya karena sudah mati akal untuk menjawab pertanyaan ibu yang menghujaninya. Kembali bapak tersungut-sungut dan pergi meninggalkan rumah hanya meninggalkan beberapa kata, “Aahh, sudahlah, Minah, aku pergi saja.”
Ibu sangat terpukul kala itu. Sedih, sakit hati jelas tampak di wajahnya. Aku hanya bisa diam, tak punya daya sedikit pun untuk menengahi mereka. Muncul di hadapan mereka saja aku tidak berani. Seperti biasa, aku hanya mengintip sambil menggigil ketakutan.
***
Sejak bapak pergi dari rumah, kami mulai kesulitan untuk membiayai hidup. Hingga hutang-hutang ibu semakin lama semakin menumpuk. Kakak juga masih sama saja, pulang pergi seenaknya sendiri. Dua bulan setelah bapak minggat, ibu mendapat tawaran kerja dari temannya. Karena memang membutuhkannya, tanpa pikir panjang ibu langsung menerima tawaran itu.
Aku tak tahu apa sebenarnya pekerjaan ibu, tapi sejak ibu bekerja, penampilannya mulai berubah. Ia mulai bersolek dan berpakaian agak ketat. Sejak itu juga ibu mulai mencicil dan melunasi hutang-hutangnya. Bahkan ibu sering mengajakku jalan-jalan dan belanja pakaian. Sungguh aku sangat berterimakasih pada Tuhan. Meskipun keluargaku sedang porak poranda, setidaknya hal itu dapat mengurangi kesedihanku.
Namun rasa ingin tahu sebenarnya apa pekerjaan ibu selalu terlintas dalam pikiranku. Aku sempat bertanya-tanya kepada para tetangga, semua yang aku tanya tidak ada satu pun yang tahu pekerjaan ibu. Lalu pada suatu kesempatan, aku bertanya pada ibu tentang hal itu.

Tapi ibu hanya menjawab, “Sudah, Nak. Tidak usah kamu pikirkan ibu bekerja di mana dan bekerja apa, yang penting dari pekerjaan itu, kita bisa mencukupi kebutuhan. Bahkan sekarang kamu bisa pergi jalan-jalan bukan?”

Polosnya aku, hanya dengan jawaban ibu yang sedemikian itu, aku langsung terperdaya dan mempercayainya begitu saja.
Terus saja aku mencari tahu tentang pekerjaan ibu. Akhirnya, di suatu malam aku mendenengar ibu bercakap-cakap lewat telepon, beberapa kalimat yang sempat aku dengar kurang lebih begini, “Kalau yang ini, dua ribu lima ratusan, Pak, soalnya masih segar, dadanya subur, dan badannya bagus pokoknya. Pasti bapak suka.” Dan ada lagi, “Baik, Pak. Nanti saya kasihkan alamatnya pada Melina.”

Masih saja aku dibingungkan dengan percakapan ibu di telepon itu. Segar?, Subur? Apa jangan-jangan ibu jualan sayur? Sungguh aku tidak bisa menemukan jawaban perihal pekerjaan ibu sebenarnya. Aku putus asa untuk mencari itu, biarlah ibu bekerja, apapun pekerjaannya yang penting bisa dapat uang. Bisa biayai sekolahku juga, dan yang paling aku harapkan pekerjaannya halal.
***
Jarang sekali, pagi-pagi begini masih sepi. Biasanya orang-orang kampung sudah berangkat berladang dan ke tempat kerjanya masing-masing. Langit yang mendung semakin saja menambah suasana sepi pagi ini.

Kudengar cicit suara anak burung dari sarangnya di atas pohon depan rumah. Mereka mencicit dengan penuh kesedihan karena orang tuanya sedang pergi dan mungkin saja ia takut orang tuanya tak akan kembali. Ada apa sebenarnya? Kenapa aku seperti merasakan ketakutan anak-anak burung itu? Ah, mungkin karena suasana alam ini yang membuatku takut.

Saat itu ibu sedang mencuci , tiba-tiba datang mobil polisi di depan rumahku. Keluarlah dari mobil dua peria dan dua wanita berpakaian polisi. Mereka mengetok pintu rumah, dan dengan sigap ibu langsung pergi membukakan pintu.
Tak ada percakapan lama, sekelompok polisi itu hanya menanyakan perihal kebenaran rumah Minah atau mbak Iin. Kalau Minah memang iya, tapi kenapa ada Iin juga? Ibu pun menjawab sama seperti yang aku pikirkan. Tapi salah seorang polisi itu menanggapi begini,
“Beberapa hari lalu, kami menggerebek sebuah kamar hotel. Di dalamnya terdapat sepasang laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan perkawinan. Ternyata mereka adalah PSK dan pengguna. Dan setelah kami interogasi keduanya, PSK tersebut adalah anak buah dari muncikari yang bernama mbak Iin. Begitu juga si laki-laki mengatakan mendapatkannya dari mbak Iin juga. Lalu kami meminta alamat saudari dari mereka, dan segera kami cari alamat itu. Ternyata benar, di sinilah rumah mbak Iin.”
Kulihat ibu begitu panik dan sedih, seperti maling yang tertangkap basah. Lalu berkata,
“Oh, sialnya aku ini, sudah ditinggal suami pergi, kini telah dinanti jeruji besi.” Mengalirlah air mata ibu.
Tanpa pikir panjang, dua polwan langsung membawa ibu ke mobil. Aku keluar, berteriak-teriak, memanggil ibu sekencang-kencangnya. Aku peluk ibu erat-erat, sambil berkata memelas pada para polisi itu, “Jangan bawa ibu saya, Pak, Bu. Saya hanya punya ibu di sini. Atau ijinkan saya ikut dengan ibu.” Tetap saja para polisi itu membawa ibu dan melepaskanku dari pelukan ibu. “Tenang saja, cah bagus, ibumu akan baik-baik di sana.” Kata salah seorang polisi padaku.
Para tetangga mulai keluar satu demi satu, lalu mendekati kami. Ada yang bertanya-tanya pada polisi, ada juga yang menenangkanku dari tangis yang sejadi-jadinya. Tiba-tiba seorang warga mendekat dan berkata padaku, “ Owalah, ternyata ibumu seorang muncikari, pantaslah dia ditangkap polisi.”
Kenapa? Apa yang salah dari muncikari? Bukankah itu sebutan yang indah? Kenapa harus ditangkap polisi? Padahal ibu sudah mengubah hidupku menjadi lebih baik, membiayai sekolahku, dan semua kehidupanku.
Mereka tak mau tahu alasanku, tetap saja ibu dibawa pergi, sekarang aku seorang diri. Tak ada yang peduli dengan anak seorang muncikari. Aku ingin mati saja daripada hidupku selalu pilu. Bukan hanya pulu, juga malang. Ya, sangat malang.
*Penulis adalah kader PMII Rayon Syariah dan aktif di Lingkar Kajian Sastra Justisia

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kegiatan paling cocok untuk anak milenial !

Ming Mar 3 , 2019
Assalamualaikum sahabat/i semua, dalam waktu dekat ini Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Komisariat Walisongo Semarang akan mengadakan Sekolah Islam Gender. Apa seh SIG itu ? Sekolah Islam dan Gender (SIG) merupakan fase orientasi kepada anggota-anggota perempuan dan laki-laki PMII setelah mengikuti kaderisasi formal, yaitu MAPABA. SIG diselenggarakan dalam […]

Baca juga