Abu Hafsin; Jadikan Aswaja Sebagai Manhajul Fikr Bukan Doktrinal

Notulensi : LPW PMII Komisariat Walisongo
Aswaja sebagai suatu cara memahami Islam, supaya Islam dipahami dengan benar, tidak jatuh menjadi radikal dan tidak berkoloborasi dengan kekerasan. Penting memahami Islam secara baik dan benar. Abu Hafsin mengutip buku karya Charles Kimball berjudul “When Religion Becomes Evil” dalam buku tersebut Charles menjelaskan bahwa agama yang sebenarnya mendatangkan ketentraman bagi manusia, tapi justru menjadi momok menyeramkan yang mendatangkan malapetaka terhadap manusia. Dan ini berkaitan dengan siapa penafsir agama tersebut kata Abu Hafsin.
Jika agama dipegang oleh orang yang salah justru agama akan menjadi jahat. Agama ini tidak boleh jatuh kepada orang yang salah. Salah satu orang salah yaitu menurut Abu Hafsin dalam diskusi Pra PKD pada Selasa 26 Maret 2019 mengatakan, yaitu orang yang suka memutlakan hasil penafsiranya. Seperti dalil, barang siapa yang menghukum tidak dengan kitabullah maka kafir, barang siapa menghukum tidak dengan kitabullah maka munafik. Dan ini yang banyak terjadi. dalil al quran ditafsirkan secara absolut dan srampangan.
Selanjutnya, Abu Hafshin menjelaskan bahwa Kaum radikalis atau fundamentalis terlahir bukan dari latar belakang akademis, bukan dari latar penddikan kegamaan yang dalam. Tapi orang yang hanya belajar agama sebentar dan kilat. Lalu mereka diajarkan tidak diajari menafsirkan Injil, jebolan sana hanya anak-anak yang didoktri saja, akhrnya mereka hanya punya semangat keagamaan tapi tidak punya ilmu keagamaan yang dalam. Kejadian ini berdasar pengalaman Abu Hafsin sewaktu kuliah di Amerika Serikat. Mereka hanya diberikan satu interpretasi saja.
Kita cukup mengapresikan keagamaanya, tapi yang terjadi adalah ketika mereka mengabsolutkan ajaranya. Akhirnya yang agama menjadi sumber ketentraman dan keramahan berubah menjadi malapetaka yang menakutkan. Maka disinilah kata Charles Kimball, agama telah menjadi bencana.
Saya tidak membenarkan Aswaja dengan klaim kebenaran yang dimiliki, bahwa di Aswaja Nahdiyyin sendiri tidak ada yang namanya kesepakatan yang mutlak. Ia tidak membenarkan Aswaja dijadikan sebagai doktrinal. Karena ketika Aswaja dijadikan sebagai doctrinal maka yang terjadi beda-beda. Ada beberapa hadist yang menjelaskan tentang ada 73 golongan masuk neraka hanya satu yang masuk surga yaitu golongan Ahlussunnah Wal Jamaah.
 
Menurut Abu Hafsin, ia tidak menggunakan hadist itu sebagai pegangan dalam Aswaja. Seperti yang ia kutib dalam pemikiran Fadlurrahman kalau hadist yang bersifat ramalan seperti hadist yang disebutkan di atas, atau hadist mengenai Tekhnis, dan politis perlu diragukan kebenaranya. Logikanya kata Fadlurrahman, nabi saja ketika diberikan Al – quran beliau sangat hati-hati sekali. Tidak mungkin kata Abu Hafsin, seperti mengutip pendapatnya Fadlurrahman kalau nabi memunculkan hadist yang bersifat ramalan.
Lalu dari mana hadist itu muncul ? kata Fadhlurrahman hanya Allah yang maha mengetahui. Bisa jadi itu faktor politik. Abu Hafsin mengulang – ngulang perkataanya bahwa Aswaja tidak bisa disebut doktrin. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa semua golongan (72) hanya satu yang masuk surga yaitu Aswaja. Inilah yang menurut Fadlurrahman, bahwa nabi Muhammad bukan seorang paranormal.
Lalu bagimana pembenaran Aswaja ?
Abu Hafsin menjelaskan dari segi sejarah, bahwa Syiah Ali, Syiah Muawaiyah, Khowarij, dan keempat adalah orang Murjiah. Murjiah adalah orang yang netralis. Dia tidak mau terlalu terlibat dalam politik praktis antara Ali dan Muawiyah. Yang penting bagi mereka bagaimana kita membangun jamaah, itulah yang kemudian semula muncul Jamaah dalam Ahlussunnah wal Jamaah.
Orang yang masuk di kelompok Murjiah, ini yaitu I’tidal, tawasuth, dan tawazun. Ini yang oleh Kyai Ahmad Siddik diambil dari Islam Murjiah. Kemudian dijadikan landasan dalam Aswaja.
Marilah pahami Islam secara berimbang, pahami Islam secara I’tidal, pahami Islam secara mampu memberikan stabilitas di dalam masyarakat yang heterogen. Marilah jadikan Aswaja sebagai manhaj jangan jadikan doktrin.
Ketidakindahan muncul karena ketidakseimbangan, begitupun cara kita berislam. Kalau dipahami secara imbang maka Islam akan indah dan memberikan ketentraman pada umat manusia.
Pertanyaan :
1. Haikal fawaid : yang dimaksud absolut sendiri apa ? dan sejauh mana batasan absolut tersebut?
Jawaban : kita tidak ingin hasil penafsiran diabsolutkan terhadap aliran hadist atau sumber sumber al quran.
Seperti diceritakan pada kisah Imam Syafii dalam berdebat dengan sahabatnya, beliau berkata “Pendapatmu salah kata Imam syafii tapi mungkin benar. Sementara pendapatku benar tetapi mungkin saja salah” artinya kita tidak bisa mengabsolutkan penafsiran seseorang.
2. Lutfi hidayat : Persinggungan Muhammadiyah dan NU seperti yang terjadi di kampung saya. Di kampung saya kebanyakan, bahkan mayoritas adalah Muhammadiyah. Terus ada kelompok NU ingin menghidupkan tradisi di kampung saya. Setelah laporan ke aparatur desa tersebut terus dibolehkan untuk menghidupkan tradisi NU di masyarakat di kampung saya. Tapi kubu Muhammadiyah kurang toleransi dan tidak menginginkan NU didirikan. Bagimana menyikapi hal tersebut, padahal agama yang kita fahami pada dasarnya menghargai satu sama lain ?
Jawaban : Perbedaan ulama adalah rahmat. Ulama yang seperti siapa dulu. Makanya kita harus bisa memilih dan memilah mana ulama dan juhala’. Sekali lagi kita harus bisa melihat siapa sebenarnya yang bertikai pada kasus yang anda ceritakan. kalau seandainya perbedaan mucul dari orang yang bodoh yang terjadi demikian
3. Bagaimana respon kita sebagai kader PMII dalam menyikapi dinamika NU yang di atas (di pusat) kontribusi apa yang harus kita lakukan ?
Jawab : saya yakin orang yang iktilaf itu orang yang pintar. Yang penting sesuai dengan kapasitas kita, kita harus melakukan sesuai dengan kapasitas yang kita miliki, kalau kita sebagai tokoh masyarakat kita berbuat sesuai kapasitas sebagai tokoh masyarakat.
Ibarat kalau kita mau jadi macam hutan, jadilah macan hutan yang baik, kalau mau jadi macan sirkus jadilah macan sirkus yang baik. Politisi sebagai macan sirkus dan tokoh masyarakat sebagai macan hutan.
Sebenarnya diskusi pra PKD tersebut akan dihadiri KH. Ulil Abshar Abdallah/ mas Ulil, aktivis muda NU. Namun berhubung malamnya ada acara di masjid kampus 3 UIN Walisongo, beliau meminta kader PMII sekalian hadir di kopdar bersama beliau dan Abu Hafsin dalam pengajian kitab“ At Tibrul Masbuk fi nasihatil muluk” karya Imam Al Ghozali

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

ADA APA DENGAN KOPRI ?

Sab Mar 30 , 2019
KOPRI Se-Kota Semarang Mendukung Penuh Hasil MUSPIMCAB Semarang (30/03), Dalam rangka mengawal hasil Musyawarah Pimpinan Cabang Kota Semarang yang di selenggarakan Januari 2019 yang lalu, Korp PMII Puteri (KOPRI) Komisariat UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Konsolidasi Akbar KOPRI Se-Kota Semarang. Selain mengadakan pertemuan antar pengurus KOPRI Se-Kota Semarang, kegiatan tersebut juga […]